TFL Selects: 5 Light Down Jacket Praktis dan Nyaman
Pilihan jaket hangat dan praktis untuk cuaca dingin.
Teks oleh Yohanes Sandy
Saya tidak pernah berencana jatuh cinta dengan Fukuoka sebelum benar-benar menginjakkan kaki di kota berpenduduk sekitar 1,6 juta jiwa ini—sedikit lebih banyak dari Tangerang Selatan. Saya datang dengan perasaan sedikit sombong, sebagai seseorang yang merasa cukup mengerti Jepang. Sebelum pandemi COVID-19, Negeri Sakura adalah destinasi tahunan saya. Kadang dalam setahun saya bisa datang dua kali. Saya sudah menelusuri Tokyo yang padat, Kyoto yang sunyi, tapi berisi, hingga Osaka yang tanpa basa-basi. Dalam bayangan saya, Fukuoka lebih tenang, terkenal dengan ramennya, dan dihiasi beberapa kuil menarik. Sebuah kota yang ideal untuk rehat sejenak sebelum kembali menjalani hidup.
Nama Fukuoka pertama kali hadir lewat keponakan saya yang menempuh studi di Beppu— kota pelajar sekitar dua jam perjalanan Hakata. Di luar itu, saya mengenalnya sebagai pintu masuk utama ke Prefektur Fukuoka dan Kyushu, pulau terbesar ketiga di Jepang, bagi wisatawan mancanegara. Semua itu terdengar informatif, tetapi belum menyentuh sisi personal.
Saya menghabiskan lima hari di kota ini. Perlahan, pesonanya bekerja tanpa banyak gembar-gembor. Menjelang akhir perjalanan, saya menyadari bahwa saya benar-benar jatuh cinta pada kharismanya yang terasa lebih ramah dibanding Osaka, bahkan Kyoto.
Saya tiba di Fukuoka pada akhir September 2025. Pengalaman kedatangannya terasa antiklimaks, dalam arti yang menyenangkan. Pesawat mendarat, dan hanya dalam beberapa menit saya sudah berada di terminal yang tenang, efisien, dan nyaman. Tak seperti gerbang kedatangan internasional lain di Jepang yang dirancang monumental, Bandara Internasional Fukuoka terasa rendah hati. Antrean imigrasi memang sempat mengular, tetapi ritmenya tetap terjaga, nyaris tak mengganggu.
Lokasinya pun sangat dekat dengan pusat kota. Dari sini ke Stasiun Hakata—titik utama eksplorasi—dapat ditempuh dengan taksi, bus, atau kereta bawah tanah. Waktu tempuhnya tak sampai 20 menit. Sebuah pengingat betapa praktisnya desain kota ini, di mana jarak antara kedatangan dan petualangan terasa begitu singkat.

Stasiun Hakata adalah nadi Fukuoka. Shinkansen, kereta antarkota, dan kereta komuter bertemu di satu simpul. Di dalamnya, penduduk lokal, pelajar, pebisnis, dan turis membaur. Ramai, tetapi tidak menyesakkan seperti Tokyo atau Osaka. Padahal, stasiun ini berbagi ruang dengan pusat perbelanjaan, deretan restoran, dan perkantoran. Perpaduannya menjadikan sebuah ekosistem urban yang bekerja tanpa drama.
Bagi turis, perjalanan di Fukuoka dapat dimulai dari sekitar Stasiun Hakata. Hanya beberapa menit berjalan kaki dari stasiun, saya sudah tiba di permukiman sepi tempat berdirinya Kuil Tōchō-ji. Syahdan, kuil ini didirikan oleh Kūkai, seorang biksu yang baru saja menuntaskan sekolahnya di Dinasti Tang di Tiongkok. Kuil ini, salah satu yang tertua di Kyushu, letaknya terasa tersembunyi, seolah sengaja menguji rasa ingin tahu pengunjung.
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026