Fukuoka tidak minta dikagumi. Ia memilih untuk diingat.

Di dalamnya, patung Buddha gigantik terbuat dari kayu duduk dalam ketenangan. Secercah cahaya menyentuh wajahnya, dan seketika hiruk-pikuk Hakata terasa menjauh. Para sejarawan mencatat bahwa kuil-kuil seperti Tōchō-ji berperan penting bukan hanya dalam penyebaran ajaran Buddha, tetapi juga dalam pembentukan filosofi dan estetika Jepang. Di sinilah saya mulai merasakan jiwa Fukuoka: ramai, tetapi juga menenangkan. Sebuah dualitas yang terus hadir sepanjang perjalanan.

Dari Tōchō-ji, saya bergeser ke pusat sejarah, di mana gedung-gedung tinggi mengapit gang-gang sempit. Kuil Kushida, yang berdiri sejak abad ke-8, menghadirkan atmosfer yang lebih intim. Warga lokal singgah, berdoa singkat, lalu melanjutkan hari mereka. Kuil ini tak dirancang untuk mengundang decak kagum turis, melainkan rumah ibadah yang hidup bersama komunitasnya.

Kuil Kushida. Syuichi Shiina/Unsplash

Kuil Kushida adalah jantung religi Hakata Gion Yamakasa, festival yang telah berlangsung sejak abad ke-13. Berawal dari ritual tolak bala dengan cara mengarak pemuka agama menggunakan tandu, ia berkembang menjadi ekspresi komunal yang dinamis. Bahkan di luar musim festival, tandu-tandu tetap dipajang, memberi kesan bahwa tradisi selalu siap digerakkan.

Tak jauh dari sana, Machiya Folk Museum menempati ruko kuno yang direstorasi. Di sinilah kehidupan era Edo dibedah: menenun, berdagang, hingga aktivitas domestik. Rumah machiya, menurut para antropolog, menunjukkan bagaimana ruang publik dan privat saling bertaut secara halus—konsep yang kian pudar dalam kehidupan urban Jepang hari ini akibat dihantam problem overtourism.

Puas melihat masa lalu, saya kembali ke sisi modern kota: Stasiun Hakata. Amu Plaza, pusat perbelanjaan di atas stasiun, hadir dengan estetika khas Jepang yang rapi, efisien, dan serbaada. Dari toko ritel sepatu hingga butik-butik mewah ada di dalamnya. Namun jika tak ingin berbelanja, Tsubame no Mori Sky Garden di lantai 10 menawarkan ruang jeda. Di sini, Anda bisa melihat pegawai rehat makan siang di bangku-bangku taman, wisatawan mengamati lanskap kota, dan pasangan berkencan di sudut-sudut taman. Meski berada di area ritel, taman ini terasa komunal. Namanya, yang berarti hutan walet, memiliki makna puitis tersendiri. Dalam literatur kuno, walet merupakan simbol dari migrasi dan Fukuoka sejak lama memang menjadi titik persinggahan menuju Jepang berkat letaknya yang dekat dengan daratan benua Asia.

Sepeda sewaan di Stasiun Hakata. Yohanes Sandy/TFL Paper

Jika Tsubame no Mori terasa kontemplatif, Canal City Hakata tampil teatrikal. Dirancang oleh Jon Jerde, arsitek asal Los Angeles yang merancang mal-mal besar di Negeri Paman Sam, kompleks ini memadukan kanal buatan, ruang semiterbuka, dan pertunjukan air mancur. Dibangun pada 1990-an, Canal City memperlihatkan bagaimana arsitektur membentuk pengalaman gaya hidup.

Pages: 1 2 3 4 5

Calendar of Events

Balinale 2026

Perayaan film global tahunan berkualifikasi Academy Awards. 1-7 Jun 2026

The Meru Eco Tourism Week 4th Edition

Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026

Art Jakarta Gardens 2026

Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026

See More