Travel Talk: Varsam Kurnia
Dari perjalanan karier hingga perjalanan liburan favoritnya.
Oleh Rachman Karim
Dalam pelajaran sekolah, “Kota Kembang” telah lama menjadi julukan populer bagi Bandung. Namun bagi saya—dan mungkin juga banyak milenial Bandung yang tumbuh pada era 2000-an—nama itu justru memunculkan ingatan yang berbeda: sebuah pusat perbelanjaan di Jalan Dalem Kaum yang pernah begitu hidup pada awal milenium baru.
Jalan Dalem Kaum sendiri merupakan salah satu koridor belanja paling legendaris di pusat Kota Bandung. Membentang hampir satu kilometer, jalan ini menghubungkan Jalan Otto Iskandar Dinata dengan Jalan Lengkong Besar. Meski demikian, denyut kehidupan kawasan sesungguhnya terkonsentrasi pada area sepanjang 250 meter yang berdiri sejajar dengan Jalan Kepatihan.
Deretan toko pakaian, sepatu, dan aksesori memenuhi kedua sisinya. Motor yang berjejer di bahu jalan, serta lapak-lapak pedagang kaki lima menciptakan kesemrawutan yang justru menjadi identitas kawasan. Jika orang tua datang untuk berburu pakaian, saya dan teman-teman semasa SMP hingga SMA memiliki agenda berbeda: berburu DVD.
Kejutan di Balik Sampul
Saya tidak pernah benar-benar tahu kapan Dalem Kaum berubah menjadi surga CD dan DVD bajakan. Namun sejak awal 2000-an, kawasan ini telah dikenal luas sebagai destinasi berburu film dan musik—setidaknya di kalangan saya dan teman-teman sekolah. Anehnya, kami lebih sering menyebutnya “Kota Kembang”, merujuk pada Pusat Perbelanjaan Kota Kembang yang menjadi episentrum aktivitas tersebut.

Baca juga: Nostalgia Rasa di Sudut Pecinan Bandung
Seluruh transaksi berpusat di dalam gedung itu. Tata ruangnya selalu mengingatkan saya pada lorong-lorong ritel Blok M tempo dulu: sempit, berkelok, dan terasa seperti labirin. Tiap kios memiliki spesialisasi sendiri. Ada yang menjual anime, dorama Jepang, CD audiophile, hingga musik-musik langka yang bahkan sulit ditemukan di toko resmi.
Jongko-jongko kerap meluber hingga ke badan jalan. Saya hampir tak pernah datang dengan daftar belanja tertentu. Justru keseruannya terletak pada proses menemukan “harta karun” secara tak sengaja. Pernah saya membawa pulang album Falling in Love Again (1993) milik penyanyi asal Yunani, Nana Mouskouri. Di kesempatan lain, saya menemukan DVD Music & Lyrics ketika film tersebut masih tergolong baru. Sensasi berburu itulah yang membuat Dalem Kaum selalu terasa menyenangkan.

Tentu, Kota Kembang juga membuka pintunya bagi siapa saja yang mencari hiburan “dewasa”. Lucunya, para pedagang seolah memiliki bahasa rahasia untuk menawarkan koleksi tersebut. Berkali-kali saya dan teman-teman dihampiri seseorang yang berbisik pelan sambil mengajak kami mendekati kiosnya.
Yang paling saya ingat adalah seorang pedagang yang menyodorkan kotak DVD bergambar Digimon Adventure.
“Miyabi. Dua kaset, lima belas ribu aja.”
Ah, rasanya seperti penghinaan bagi kartun masa kecil saya.
Wajah Baru
Menjelang akhir 2009, Pusat Perbelanjaan Kota Kembang akhirnya menutup pintunya. Laporan DetikNews menunjukkan penutupan tersebut merupakan puncak dari serangkaian razia terhadap peredaran cakram bajakan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Perlahan, nama Kota Kembang pun menghilang dari percakapan. Bersamaan dengan naiknya platform streaming dan video daring, alasan untuk datang ke Dalem Kaum ikut memudar.
Babak baru dimulai pada 2015 ketika Jalan Dalem Kaum direvitalisasi menjadi kawasan pedestrian. Aspal diganti paving block. Gapura bergaya Eropa berdiri di kedua ujung jalan. Pepohonan, bangku, dan lampu-lampu kota membuat koridor ini terasa jauh lebih ramah bagi pejalan kaki.


Transformasi tersebut segera menarik perhatian media sosial. Foto-fotonya memenuhi linimasa Facebook, Twitter, hingga Instagram. Seorang teman bahkan bersikeras mengajak saya datang pada malam hari.
“Mirip Shibuya,” katanya.
Ketika akhirnya saya datang, saya harus mengakui kawasan ini memang tampil jauh lebih menarik dibanding yang saya ingat. Pelang neon warna-warni, papan reklame, dan keramaian pejalan kaki menciptakan atmosfer urban yang hidup. Memang tidak benar-benar menyerupai Shibuya, tetapi cukup untuk membuat saya tersenyum. Mungkin lebih tepat menyebutnya: Shibuya rasa Bandung.
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul