Dari perjalanan karier hingga perjalanan liburan favoritnya.

Foto utama: Monika Febriana/TFL Paper

Bicara soal masa kecil, banyak dari kita menghabiskan waktu luang dengan menggambar. Namun bagi Varsam Kurnia, aktivitas itu sejak dini terasa lebih dari sekadar hobi—ia menjadi bahasa untuk mengekspresikan imajinasi sekaligus fondasi perjalanan kreatifnya. Lulusan institusi kreatif di Indonesia dan Amerika Serikat ini kini dikenal sebagai ilustrator sekaligus sosok di balik somethingstokeep, jenama aksesori dan pakaian yang mengawinkan ilustrasi khas dengan eksplorasi ruang selestial, mitologi, dan simbolisme dalam narasi visual yang distingtif.

Kiprah Varsam di industri kreatif Indonesia pun terus berkembang. Karyanya pernah hadir dalam berbagai kolaborasi lintas disiplin, mulai dari jenama perawatan diri, pusat perbelanjaan, hingga rumah mode. Tahun ini, ia membuka lembaran baru bagi somethingstokeep. Setelah sempat hadir dalam format pop-up di ASHTA District 8, jenama tersebut kini berlabuh di Petak Enam, Glodok, melalui sebuah ruang yang memadukan butik, galeri kecil, sekaligus kedai kopi—mencerminkan tren baru ruang kreatif Jakarta yang mengaburkan batas antara ritel, seni, dan gaya hidup.

varsam kurnia
somethingstokeep di Petak Enam Glodok memadukan kafe dan pojok ritel. Monika Febriana/TFL Paper.

Suatu sore, kami menyambangi Varsam di gerai barunya di Petak Enam. Di sela aroma kopi yang baru diseduh dan atmosfer Glodok yang terus bertransformasi menjadi salah satu distrik kreatif Jakarta, kami berbincang tentang perjalanan kreatifnya, inspirasi di balik dunia visual somethingstokeep, hingga destinasi dan momen liburan yang turut membentuk cara pandangnya sebagai seorang seniman.

Bisa ceritakan seperti apa awal mula ketertarikan Anda terhadap dunia seni, khususnya seni visual?
Sejak kecil saya memang senang menggambar. Ketertarikan itu kemudian membawa saya mempelajari desain grafis dan periklanan. Meski begitu, saya selalu merasa terpanggil ke dunia ilustrasi. Setelah sempat bekerja, saya memutuskan kembali berkuliah dengan mengambil jurusan ilustrasi. Dari sanalah saya mulai melihat jalan yang lebih jelas untuk berkarier sebagai ilustrator purnawaktu.

Dalam perjalanan tersebut, tantangan apa yang paling membentuk Anda sebagai seniman?
Tantangannya banyak, baik secara personal maupun profesional. Salah satunya adalah rasa tidak yakin terhadap karya sendiri, sekaligus mencari titik temu antara idealisme pribadi dan tuntutan pasar atau tren. Seiring waktu, saya menyadari bahwa ketika mulai menemukan suara yang benar-benar autentik, respons orang justru jauh lebih positif. Sebaliknya, saat mencoba mengikuti gaya orang lain, karya saya terasa kurang beresonansi. Pengalaman mengajarkan bahwa penolakan sering kali menjadi pengarah menuju sesuatu yang lebih tepat. Ungkapan rejection is redirection menurut saya sangat relevan.

varsam kurnia
Beberapa kreasi Varsam Kurnia di somethingstokeep. Monika Febriana/TFL Paper.
varsam kurnia
Deretan produk somethingstokeep mencakup pakaian dan aksesoris. Monika Febriana/TFL Paper.

Baca juga: Bicara Seni Bersama Ida Lawrence

Karya-karya Anda identik dengan bulan, bintang, dan elemen selestial. Dari mana ketertarikan itu berasal?
Saya tumbuh bersama tontonan seperti Sailor Moon, Cardcaptor Sakura, dan gim Final Fantasy. Semua itu membentuk imajinasi masa kecil saya. Di sisi lain, saya merasa simbol-simbol selestial seperti matahari, bulan, dan bintang bersifat universal. Siapa pun, dari latar budaya atau usia apa pun, dapat memiliki tafsir yang berbeda terhadap simbol-simbol tersebut. Justru ruang interpretasi itu yang menarik bagi saya. Selain itu, saya memang lebih produktif bekerja pada malam hari. Tanpa direncanakan, motif bulan dan bintang akhirnya tumbuh menjadi bagian dari identitas visual karya saya.

Jika harus mendeskripsikan bahasa visual Anda dalam beberapa kata, apa yang akan Anda pilih?
Saya tidak pernah memberi label khusus pada gaya saya. Namun, banyak orang menyebut karya saya terasa magis dan penuh fantasi. Rasanya dua kata itu cukup mewakili dunia visual yang selama ini saya bangun.

varsam kurnia
Elemen selestial jadi identitas visual karya-karya Varsam Kurnia. Monika Febriana/TFL Paper.

Selain menjadi ilustrator, Anda juga mendirikan somethingstokeep. Apa yang mendorong Anda masuk ke dunia ritel?
Awalnya somethingstokeep lahir dari sebuah pin yang saya buat untuk menggalang dana mengikuti pameran di luar negeri. Ternyata responsnya sangat baik karena orang bisa mengenakannya dalam keseharian, baik di tas maupun pakaian. Dari situ saya menyadari bahwa karya ilustrasi juga bisa hadir dalam bentuk yang lebih fungsional. Saya sendiri memang gemar mengoleksi benda-benda antik, sehingga muncul keinginan untuk menciptakan versi saya sendiri lewat tas, dompet, aksesori, hingga berbagai objek yang bisa digunakan sehari-hari. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat karya saya tidak hanya dipajang di dinding, tetapi ikut menemani aktivitas orang lain.

Beberapa waktu lalu Anda membuka gerai baru di Petak Enam, Glodok. Mengapa memilih lokasi tersebut?
Setelah pop-up store di ASHTA berakhir, saya memang mencari ruang baru yang memungkinkan orang berinteraksi langsung dengan produk. Banyak pelanggan ingin melihat detail bordir, warna, atau material secara langsung. Kebetulan rekan bisnis saya memiliki ketertarikan di dunia teh dan F&B. Ketika ada kesempatan membuka ruang di Petak Enam, kami melihat potensi untuk menggabungkan butik dengan kedai minuman dalam satu pengalaman. Selain menjadi tantangan baru, tempat ini terasa selaras dengan karakter somethingstokeep. Glodok juga memiliki identitas yang kuat sebagai kawasan budaya dan kuliner, sehingga menghadirkan audiens baru yang menarik bagi kami.

Baca juga: Daftar Mal Jakarta dengan Ruang Hijau di Dalamnya

Dari sekian banyak kolaborasi, mana yang paling membekas?
Kolaborasi bersama ASHTA tahun lalu menjadi salah satu yang paling berkesan. Saya ditantang menerjemahkan sketsa menjadi instalasi Natal berskala besar yang dipamerkan selama lebih dari satu bulan. Selain itu, kolaborasi dengan Sebastian Gunawan melalui koleksi The Sign juga sangat spesial. Melihat ilustrasi saya diinterpretasikan menjadi payet, bordir, dan siluet busana memberikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah karya bisa hidup dalam medium yang berbeda. Pengalaman itu membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

varsam kurnia
Area kafe di somethingstokeep Petak Enam Glodok. Rachman Karim/TFL Paper.

Adakah perjalanan yang memberi pengaruh besar terhadap proses kreatif Anda?
Banyak. Justru ketika sedang berlibur dan tidak memikirkan pekerjaan, inspirasi sering datang dengan sendirinya. Saya pernah mengunjungi Gili Trawangan sebelum kawasan itu seramai sekarang. Langit malam dan suasananya yang tenang memberi banyak inspirasi untuk melukis. Bangkok menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. Kota ini terasa riuh dan penuh energi, tetapi justru memancing saya memperhatikan kombinasi warna, siluet, hingga simbol-simbol visual. Kyoto juga menjadi salah satu kota yang terus memberi inspirasi setiap kali saya berkunjung.

Kalau harus memilih tiga destinasi favorit, apa saja?
Kyoto selalu menjadi yang pertama karena menawarkan keseimbangan antara alam, kuil, sungai, dan kehidupan kota yang harmonis. Bangkok saya sukai karena kekayaan kuliner dan budayanya yang begitu hidup. Sementara itu, Italia adalah tempat yang ingin saya datangi lagi. Saya tertarik pada mitologi dan benda-benda antik, sehingga kota-kota seperti Roma, Firenze, dan Venesia masih menyimpan begitu banyak hal yang ingin saya eksplorasi.

Apa harapan dan proyek yang sedang Anda siapkan ke depan?
Harapan terbesar saya tentu melihat kafe dan butik ini terus berkembang. Dunia F&B adalah pengalaman yang benar-benar baru bagi saya, sehingga saya ingin terus belajar dan mematangkannya. Di saat yang sama, saya juga tengah menyiapkan beberapa proyek lain, termasuk sebuah picture book bersama penerbit di Tiongkok serta kolaborasi dengan beberapa jenama fesyen. Semoga semuanya dapat memperluas cara orang mengenal dunia visual somethingstokeep.Rachman Karim

Calendar of Events

Tuscan Dinner by Chef Luca Masini

Byrd House Bali mengajak para tamu menuju pesisir Tuscany. 26 Jun

Hamabe x Tsune

Kolaborasi dua koki kuliner Jepang berbakat di Bali. 26-27 Jun & 10-11 Jul

Balinale 2026

Perayaan film global tahunan berkualifikasi Academy Awards. 1-7 Jun 2026

See More