Hal-hal Menarik Untuk Dilakukan di Lusail, Qatar
Pilihan alternatif kegiatan selama gelaran MotoGP Qatar 2025.
Nama yang Diabadikan
Mungkin belum banyak yang tahu bahwa nama Dalem Kaum berkaitan erat dengan Raden Adipati Wiranatakusumah II, bupati keenam Bandung (1794-1829) yang kerap dijuluki sebagai pendiri Kota Bandung modern. Julukan “Dalem Kaum” merupakan nama anumerta yang kemudian melekat pada dirinya.
Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari Dayeuhkolot menuju kawasan yang kini menjadi jantung Kota Bandung. Dilansir dari Mata Bandung besutan Pikiran Rakyat, era kepemimpinannya melahirkan pembangunan alun-alun, Masjid Agung, hingga pendopo yang menjadi cikal bakal tata kota Bandung saat ini. Kawasan Cipaganti maupun Cikapundung Kolot pun berkembang berkat arahannya.

Makam sang bupati berada tak jauh dari Masjid Raya Bandung, tersembunyi di balik deretan pertokoan modern. Sebuah gapura sederhana bertuliskan “Makam Pendiri Kota Bandung” menjadi satu-satunya penanda bahwa salah satu tokoh terpenting dalam sejarah kota ini beristirahat di sana.
Rasa yang Berbeda
Keinginan saya kembali menyusuri Jalan Dalem Kaum Bandung pada libur Iduladha lalu sempat dibayangi satu kekhawatiran: lautan manusia. Namun setibanya di sana, saya justru menemukan suasana yang jauh lebih lengang. Sepi, setidaknya menurut standar Dalem Kaum yang saya kenal.
Saya mencoba mengikuti kembali jejak-jejak masa sekolah, meski beberapa bangunan lama kini telah berganti wajah. Komoditas utamanya kembali seperti dahulu: pakaian, sepatu, dan aksesori. Di sebuah lapak, saya melihat Nike Air Force 1 putih yang nyaris identik dengan sepatu yang sedang saya kenakan. Harganya? Hanya sekitar sepersepuluh dari yang saya beli di Foot Locker.

Baca juga: Surga Distro Bandung dan Daya Tahan Fesyen Indie Lokal
Syukurlah, beberapa nama lama masih bertahan. Istana Sepatu, Adidas, dan Ria Busana tetap menjadi penghuni setia kawasan ini. Seperti dulu, Ria Busana masih ditemani musik “jedag-jedug” dan pemandu acara yang tak lelah mengajak pejalan kaki masuk ke toko.
Di ujung jalan, gerai Dunkin’ Donuts membangkitkan kenangan lain: segelas cokelat dingin sebagai hadiah karena bersedia menemani Ibu berbelanja.


Di seberangnya, Plaza Parahyangan masih bertahan sebagai rumah bagi sejumlah distro lokal. Mal yang sempat menjadi ikon fesyen independen Bandung pada awal hingga akhir 2000-an itu kini menemukan ritme baru. Gerai-gerai distro berkumpul di lantai atas, sementara lantai dasar diisi restoran dan apotek.
Sebelum pulang, saya menyempatkan diri mampir ke The Kings Shopping Centre. Mal legendaris yang sempat terbakar pada 2014 itu kini tampil lebih modern. Namun satu hal tetap bertahan: arena permainan anak di lantai atas, lengkap dengan roller coaster mini “Ulil” yang rupanya berhasil selamat dari kobaran api.
Hampir dua dekade telah berlalu sejak saya dan teman-teman berburu DVD bajakan di Dalem Kaum—aktivitas yang, meski ilegal, tanpa disadari telah menjadi salah satu kenangan terbaik di masa sekolah. Kunjungan kali ini meninggalkan rasa saudade: rindu terhadap sesuatu yang tak mungkin kembali persis seperti dahulu. Namun di balik nostalgia itu, ada pula rasa lega. Jalan Dalem Kaum masih hidup, terus berevolusi, dan tetap menjadi salah satu denyut paling autentik di pusat Kota Bandung, bertahan di tengah derasnya pembangunan dan ekspansi jenama-jenama global.—Rachman Karim
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul