Dunia Imajinatif Minecraft Hadir di Singapura
Taman bermain interaktif pertama di Asia untuk petualangan keluarga.
Foto: Xuelei Fragrance Museum
Bicara tentang rekor dunia, Tiongkok memang tak pernah kehabisan ambisi. Dari infrastruktur hingga teknologi, Negeri Tirai Bambu terus menorehkan pencapaian berskala global. Sistem kereta bawah tanah Beijing menjadi yang terpanjang di dunia dengan lintasan sepanjang 891 kilometer. Di Shanghai, sebuah robot industri memecahkan rekor sebagai robot terkuat di dunia yang mampu mengangkat beban hingga 5.000 kilogram. Yang terbaru, Tiongkok kembali mencatatkan namanya dalam Guinness World Records 2026 melalui pertunjukan drone dengan jumlah drone terbanyak yang pernah diterbangkan secara bersamaan.
Ambisi tersebut kini merambah dunia gaya hidup dan budaya. Di Guangzhou, sebuah museum baru hadir sebagai destinasi yang menarik perhatian wisatawan sekaligus pencinta wewangian dari berbagai penjuru dunia. Dibuka pada Juli 2025, Xuelei Fragrance Museum memiliki luas sekitar 9.500 meter persegi dan langsung menyandang predikat sebagai museum parfum terbesar di dunia.


Dari kejauhan, Xuelei Fragrance Museum sudah mencuri perhatian lewat fasadnya yang tak biasa. Delapan silinder raksasa dari bata ekspos membentuk superstruktur bangunan, terinspirasi dari tabung dan peralatan penyulingan yang digunakan untuk mengolah bahan mentah menjadi minyak asiri. Berbanding terbalik dengan eksteriornya yang masif, interior hasil rancangan studio Leaping Creative tampil bersih dengan pendekatan ultramodern yang sarat permainan cahaya dan ruang. Tak mengherankan jika museum ini juga masuk daftar museum tercantik di dunia 2026 versi Prix Versailles.
Pengalaman menjelajahi museum terbagi ke dalam 18 zona tematik yang tersebar di lima lantai. Sejak memasuki area utama, setiap pengunjung akan menerima Scent Card digital yang berfungsi merekam preferensi aroma selama perjalanan. Kartu tersebut menjadi teman eksplorasi di lebih dari 50 instalasi interaktif dan 300 scent station. Selain itu, museum juga menghadirkan sekitar 400 parfum dari berbagai karakter aroma yang dapat dicoba secara langsung.


Salah satu daya tarik utamanya adalah instalasi pencampuran parfum berbasis akal imitasi yang menjadi pusat perhatian di atrium utama. Instalasi tersebut membentang di tengah tangga spiral yang menghubungkan lima lantai bangunan. Ratusan vial transparan menggantung mengelilinginya, sementara pencahayaan prismatik berpadu dengan lantai dan langit-langit reflektif menciptakan komposisi visual yang terasa nyaris sinematik. Sulit untuk tidak berhenti sejenak hanya demi mengamati bagaimana teknologi dan desain saling melengkapi.
Saat mencapai lantai empat, pengunjung dapat memperoleh Fragrance Travel Report, laporan personal yang disusun berdasarkan data yang tersimpan di Scent Card. Hasil analisis tersebut kemudian menjadi dasar pembuatan parfum bespoke di AI-blending station yang berada di lantai satu. Dalam waktu sekitar tiga menit, sistem berbasis kecerdasan buatan mampu menerjemahkan preferensi olfaktif menjadi racikan parfum yang dirancang khusus untuk masing-masing individu—sebuah suvenir yang jauh lebih personal daripada sekadar membawa pulang sebotol parfum dari rak toko.
Di luar pengalaman meracik parfum, museum ini juga mengajak pengunjung menelusuri sejarah dan budaya wewangian dari berbagai belahan dunia, termasuk Asia. Di Tiongkok sendiri, tradisi menggunakan aroma telah berkembang jauh sebelum era Masehi. Dupa menjadi salah satu komoditas aromatik terpenting yang digunakan dalam ritual spiritual, pengobatan tradisional, hingga kehidupan sehari-hari. Beragam bahan alami seperti cendana, gaharu, dan bunga lawang menjadi bagian dari warisan tersebut yang masih bertahan hingga kini.—Rachman Karim
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul