Napak tilas Passer Baroe, tempat sejarah, fesyen, dan cita rasa lintas generasi.

Foto dan teks: Monika Febriana/TFL Paper

Di tengah laju Jakarta yang terus bergerak ke depan, Pasar Baru berdiri tenang sebagai pengingat bahwa gaya hidup kota terpadat di Indonesia ini pernah tumbuh dari lorong-lorong sederhana. Kawasan yang dalam arsip sejarah dikenal sebagai Passer Baroe ini bukan sekadar pasar, melainkan salah satu pusat mode dan gaya hidup paling awal di Batavia—jauh sebelum pusat perbelanjaan modern menjadi norma. 

Didirikan pada 1820, kala itu Pasar Baru menjadi destinasi belanja favorit kalangan Belanda. Aktivitas perdagangannya banyak digerakkan oleh komunitas Tionghoa, yang sejak awal memainkan peran penting dalam denyut ekonomi kawasan ini. Hampir dua abad berselang, Pasar Baru tidak sekadar bertahan. Ia perlahan menemukan kembali relevansinya, terutama bagi mereka yang mencari pengalaman urban yang lebih berlapis. 

Berburu Busana
Menyusuri koridor Pasar Baru hari ini, deretan toko tekstil, pakaian, sepatu, dan tas masih berdiri rapat. Beberapa di antaranya telah melayani pelanggan lintas generasi. Isardas Tailor adalah salah satu nama yang nyaris tak terpisahkan dari kawasan ini. Rumah jahit yang berdiri sejak 1929 tersebut hingga kini menjadi rujukan bagi mereka yang mencari busana dengan potongan klasik dan presisi yang terjaga. 

pasar baru
Berbagai lapak thrifting di Metro Atom Plaza. Monika Febriana/TFL Paper.

Baca juga: Surga Distro Bandung dan Daya Tahan Fesyen Indie Lokal

pasar baru
Isardas Tailor, salah satu gerai yang menghuni kawasan Pasar Baru. Monika Febriana/TFL Paper.

Di sisi lain spektrum, Metro Atom Plaza menghadirkan suasana lebih kontemporer. Di lantai tiga dan empat gedung ini, puluhan pedagang thrifting menawarkan pilihan pakaian bekas yang terkurasi, mulai dari kemeja, jaket, celana, hingga aksesori. Ruang ini menjadi magnet bagi generasi muda yang melihat fesyen bukan semata soal tren terkini, tetapi soal karakter dan keberlanjutan. 

Jejak Komunitas India
Pasar Baru juga menyimpan jejak kuat komunitas India di Jakarta. Dahulu, kawasan ini bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga tempat tinggal banyak keluarga India. Warisan itu masih terasa hingga kini. Salah satunya melalui T&D, butik India pionir yang berdiri sejak 1933. 

pasar baru
Lahmi G. Mahtani, pemilik T&D. Monika Febriana/TFL Paper.

Dikelola oleh Lakhmi G. Mahtani, generasi keempat keluarga pendiri, T&D menjual berbagai kebutuhan khas India, mulai dari sari, gamis, kain, hingga manik-manik bernuansa Bollywood. Menariknya, pelanggan toko ini tidak hanya berasal dari komunitas India atau warga lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara. “T&D sudah hampir berusia 93 tahun. Sejak awal, toko ini menjadi bagian dari Pasar Baru dan dikenal sebagai tempat pertama yang menjual barang ikonis Bollywood di sini,” ujar Lakhmi. 

Bertahan di Tengah Perubahan
Namun, dinamika Pasar Baru hari ini tidak sepenuhnya romantis. Lie Ie Seng, toko alat tulis yang berdiri sejak 1873 dan kini dikelola generasi keempat, menjadi potret perubahan tersebut. Pernah menjadi langganan utama pelajar karena harganya yang terjangkau, toko ini kini merasakan pergeseran pola belanja masyarakat. Jumlah pembeli turun drastis. Bahkan di akhir pekan—saat Pasar Baru dipadati wisatawan—hanya segelintir yang benar-benar melangkah masuk ke toko-toko tua seperti Lie Ie Seng. Sebuah potret kontras antara sejarah panjang dan tantangan masa kini. 

Rehat, Senja, dan Rasa
Di sela-sela menjelajah, tak ada yang lebih menyenangkan selain berhenti sejenak di Tropic, restoran dan gerai es krim legendaris di Pasar Baru. Es krim jadulnya terkenal lembut dan tidak terlalu manis. Rasanya sederhana, tapi sarat nostalgia. Selain es krim, Tropic juga menyajikan beragam hidangan khas Tionghoa, menjadikannya tempat singgah lintas generasi sejak dulu hingga sekarang. 

pasar baru
Interior Pos Bloc. Monika Febriana/TFL Paper.
pasar baru
Kiri-kanan: suasana Bakmi Gang Kelinci; bakmi ayam. Monika Febriana/TFL Paper.

Baca juga: 3 Destinasi Seni Budaya Rekomendasi Ida Lawrence

Menjelang senja, Pos Bloc—yang berdiri tepat di seberang Pasar Baru—menawarkan wajah lain kawasan ini. Ruang kreatif seluas 2.400 meter persegi ini sejak 2021 menjadi titik temu generasi muda. Gerai makanan, photobox, dan toko fesyen kekinian mengisi ruang bekas kantor pos yang direvitalisasi, menciptakan dialog menarik dengan Pasar Baru di seberangnya. 

Hari pun ditutup dengan sepiring Bakmi Gang Kelinci. Berdiri sejak 1957, restoran legendaris ini mempertahankan interior autentiknya—bangku merah muda dan dinding hijau yang ikonis. Banyak pelanggan setia percaya, rasa bakmi di cabang Pasar Baru adalah yang paling autentik. 

Pasar Baru mungkin tak lagi menjadi pusat mode utama Jakarta. Namun justru di situlah kekuatannya hari ini: sebuah ruang tempat masa lalu dan masa kini berjalan berdampingan, menawarkan cerita, rasa, dan pengalaman urban yang tak lekang oleh waktu.Monika Febriana

Calendar of Events

Balinale 2026

Perayaan film global tahunan berkualifikasi Academy Awards. 1-7 Jun 2026

The Meru Eco Tourism Week 4th Edition

Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026

Art Jakarta Gardens 2026

Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026

See More