The Westin Nirup Island Jadi Babak Baru Marriott di Kepri
Hotel baru yang menawarkan kemewahan tropis dan privasi mumpuni.
Akhir Riwayat
Selain bungalo dengan teras privat, Hotel des Indes juga dikenal lewat konser musik klasik, kabaret, hingga pesta-pesta sosial kaum elite Batavia. Setelah Indonesia merdeka, namanya berubah menjadi Hotel Duta Indonesia. Pada masa tersebut, ia tetap menjadi pusat gaya hidup ibu kota di mana sosialita berkumpul dan pagelaran busana digelar.
Namun, zaman perlahan berubah. Pamor Hotel des Indes mulai memudar sejak kehadiran Hotel Indonesia pada 1962 yang merepresentasikan wajah baru Jakarta modern. Akhirnya, pada 1971, bangunan legendaris tersebut diruntuhkan. Di atas lahannya berdiri kompleks ritel Duta Merlin yang kemudian dikenal lewat kehadiran supermarket asal Prancis, Carrefour. Ironisnya, selepas kepergian Carrefour dari Indonesia, Duta Merlin mulai ditinggalkan dan mengalami nasib serupa dengan Hotel des Indes. Ia diratakan pada 2023.

Tak ada sisa fisik Hotel des Indes yang berhasil dipertahankan. Kemewahan dan rupanya kini hanya hidup lewat arsip, foto hitam-putih, dan nostalgia. Barangkali, yang tersisa hanyalah pohon-pohon tua di bekas taman rusa hotel tersebut. Rasanya bak sebuah dongeng, dulu kala kawanan Bambi sempat berkeliaran di taman di kawasan Jakarta Barat.
Legasi Berlanjut
Setelah lama menghilang, nama “Hotel des Indes” kembali muncul di sejumlah situs web pemesanan hotel daring dan media sosial. Ia bukan dibuka kembali, melainkan “bereinkarnasi” pada 2021 lewat sebuah hotel butik di kawasan Menteng: Hotel des Indes Menteng.
Kami pun menyambangi hotel tersebut dan berbincang dengan Tirza dari tim Marketing Communications mereka. “Kawasan Menteng sendiri ikonik dan bersejarah,” ujarnya. “Dari sana, kami ingin membangun hotel yang merangkul nilai sejarah yang kental.”

Baca juga: Jejak Arsitektur Art Deco di Bandung
Meski mengusung nama yang sama, properti besutan Marclan Collection ini tidak memiliki hubungan langsung dengan Hotel des Indes lama. “Kami tidak bermaksud mereplikasi, tetapi ingin membawakan kembali kisah dan seni hospitality dari properti bersejarah tersebut,” jelas Tirza.
Hotel des Indes Menteng memiliki 81 kamar dengan fasilitas seperti Paloma Restaurant, Harmonie Lounge & Bar, serta sejumlah ruang rapat. Desainnya mengawinkan langgam Eropa klasik dan New Indies dalam interpretasi yang lebih kontemporer. Jika diperhatikan, ini merupakan sebuah penghormatan halus terhadap sang legenda Batavia. “Ini salah satu cara kami menghidupkan kembali kisah Hotel des Indes lama,” jelas Tirza.


Legasi tersebut juga hidup lewat program-program yang ditawarkan hotel, salah satunya sesi salsa. “Orang-orang Belanda pada era kolonial suka pesta dan dansa,” ujar Tirza. Pilihan itu terasa relevan, mengingat dulu berdiri Societeit Harmonie, tempat kaum elite Batavia berkumpul dan berpesta, tak jauh dari Hotel des Indes lama.
Di akhir perbincangan, Tirza berharap Hotel des Indes Menteng dapat terus menjaga memori tentang hotel legendaris tersebut. “Ke depannya, kami ingin berkolaborasi dengan lebih banyak pihak agar kisah Hotel des Indes terus dikenang,” tutupnya.
Runtuhnya Hotel des Indes memang menjadi salah satu episode paling pahit dalam sejarah arsitektur Jakarta. Kini, yang tersisa hanyalah arsip, foto-foto lawas, dan nostalgia tentang pesta glamor di Batavia. Ironisnya, negeri ini tampaknya memang lebih cepat meruntuhkan sejarah dibanding merawatnya. Di atas bekas hotel termewah Hindia Belanda itu, generasi demi generasi datang silih berganti—dari supermarket hingga kompleks komersial—seolah membuktikan bahwa di Jakarta, memori sering kali kalah mahal dibanding meter persegi.—Rachman Karim
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026