Kolaborasi Restoran Crio Jakarta dan Amici Bali
Makan malam ekslusif di Seminyak, Bali. Hanya ada pada 6 Juli 2024.
Foto utama: AYANA Bali
Di tengah maraknya makanan cepat saji dan budaya serbainstan, muncul kembali keinginan untuk kembali ke akar, yakni menikmati hidangan yang segar, lebih jujur, dan terasa dekat dengan sumbernya. Konsep farm to table atau farm to fork hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, menawarkan pengalaman bersantap yang tak hanya lezat, tetapi juga memiliki cerita dan koneksi dengan alam di sekitarnya.
Gagasan ini sendiri mulai berkembang sejak era 1970-an sebagai respons terhadap dominasi makanan olahan. Prinsipnya sederhana tetapi berdampak besar: menggunakan bahan lokal, musiman, dan sebisa mungkin langsung dari petani atau produsen. Seiring waktu, farm to table tak lagi sekadar soal makanan alami versus instan. Ia turut menyentuh isu keberlanjutan, jejak karbon, hingga pemberdayaan komunitas lokal di sekitar destinasi wisata.
Awalnya populer di restoran independen, sekitar dua dekade lalu konsep ini mulai diadopsi hotel dan resor di Indonesia. Tak ada sumber resmi yang menyebutkan, tetapi berdasarkan penelusuran kami secara daring, salah satu nama awal yang kerap dikaitkan dengan pendekatan tersebut adalah Bambu Indah di Ubud. Pilihan yang terasa masuk akal, mengingat properti eksklusif tersebut memang dibangun di tengah lanskap hijau yang subur dan sangat dekat dengan kehidupan agraris Bali.
Baca juga: 5 Bar Asia Tampil di Spirits of the Ubud Jungle, Ambar Ubud Bar
Kini, pendekatan farm to table telah menjadi bagian penting dari pengalaman menginap di banyak hotel dan resor premium Tanah Air. Bersantap bukan lagi sekadar soal rasa, tetapi juga tentang memahami asal-usul bahan, musim panen, hingga tangan-tangan yang menanamnya. Berikut beberapa properti yang menghadirkan pengalaman tersebut dengan cara yang menarik.
Bambu Indah

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Bambu Indah memiliki lahan hijau yang luas dan produktif. Alih-alih hanya ditanami tanaman dekoratif, hotel yang didirikan pasangan John Hardy dan Cynthia Hardy pada 2005 ini justru membudidayakan tanaman pangan seperti arugula, selada, pare, okra, rempah-rempah, hingga padi. Menariknya, proses pertaniannya dilakukan secara alami tanpa pestisida. Bunga gumitir digunakan untuk menghalau hama, sementara kotoran bebek dan sapi diolah menjadi pupuk kompos. Selain sayuran dan rempah, Bambu Indah juga mengembangkan pohon kelapa, mangga, dan berbagai buah tropis lain yang kemudian berakhir di meja makan para tamu. Di properti ini, pengalaman farm to table terasa sangat organik, nyaris seperti tinggal di rumah tropis milik seorang kolektor seni yang kebetulan punya kebun sendiri.
Plataran Bromo

Bagi Plataran Indonesia, keberlanjutan bukan sekadar jargon pemasaran. Di lebih dari 30 hotel dan resor yang mereka kelola, kebutuhan dapur dipasok melalui hasil tani masyarakat lokal, membentuk ekosistem yang saling mendukung antara properti dan komunitas sekitar. Pendekatan tersebut diterjemahkan secara menarik di Plataran Bromo lewat program Little Farmer. Di sini, anak-anak diajak menanam, memanen, hingga mengolah hasil kebun menjadi hidangan sederhana. Aktivitas ini terasa relevan di tengah generasi urban yang semakin jauh dari proses tumbuhnya makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.
TA’AKTANA, a Luxury Collection Resort & Spa, Labuan Bajo

Berdiri di tepi Pantai Wae Rana dengan panorama Laut Flores, TA’AKTANA, a Luxury Collection Resort & Spa, Labuan Bajo tak hanya menawarkan lanskap dramatis khas Labuan Bajo, tetapi juga pendekatan kuliner yang sangat terhubung dengan alam sekitar. Lewat Kebunku—kebun milik koki resor—beragam sayuran dan hasil bumi dipanen langsung untuk kebutuhan dapur. Sementara itu, hasil laut dipasok melalui kerja sama dengan nelayan setempat. Menariknya, seluruh bahan tersebut kemudian diolah di enam restoran dan bar yang tersebar di dalam resor, menciptakan pengalaman gastronomi yang benar-benar merefleksikan karakter Flores.
Mandapa, A Ritz-Carlton Reserve

Sebagai satu dari hanya tujuh properti ultra luks Ritz-Carlton Reserve di dunia, Mandapa menghadirkan pendekatan kemewahan yang terasa lebih hening dan reflektif. Di tengah sawah dan aliran Sungai Ayung, pengalaman farm to table diterjemahkan secara elegan lewat Sawah Terrace, restoran all-day dining yang menggunakan bahan segar dari kebun organik resor. Sementara di Kubu—restoran bambu ikonik yang berada di tepi sungai—bahan-bahan dipilih dari radius maksimal 100 kilometer. Mulai dari kepiting Serangan, ikan Jimbaran, babi Tabanan, hingga sapi Banyuwangi, semuanya diramu menjadi pengalaman bersantap yang terasa sangat Bali, tapi tetap berkelas dunia.
Raffles Bali

Di tengah rimbunnya kawasan Jimbaran, Raffles Bali menghadirkan The Farm Terrace—ruang makan luar ruang intim yang hanya menampung enam tamu. Pengalaman ini terasa seperti makan malam privat di tengah kebun tropis, lengkap dengan suara serangga malam dan aroma rempah yang terbawa angin laut. Menu yang ditawarkan berfokus pada bahan segar berkualitas, mulai dari hasil laut, daging premium, hingga sayuran musiman dari petani lokal. Para koki menyiapkan hidangan secara langsung di depan tamu, menghadirkan suasana yang personal sekaligus teatrikal tanpa terasa berlebihan.
AYANA Bali

Berdiri di atas lahan seluas dua hektare, AYANA Resort Bali mengembangkan kebun organik yang tak hanya memasok kebutuhan dapur, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman menginap itu sendiri. Kawasan ini dirancang sebagai ruang interaktif, terutama bagi keluarga dan anak-anak. Para tamu dapat menyambangi kebun di dalam hotel sebelum menikmati sesi afternoon tea yang beberapa bahannya diambil dari kebun tersebut, mengikuti lokakarya pengobatan herbal tradisional, hingga belajar mengolah hasil panen menjadi hidangan sederhana. Bahkan, lewat program farm-to-bar, tamu juga bisa meracik koktail dan moktail menggunakan herba serta rempah yang baru saja dipetik dari kebun. Di tengah tren wellness dan perjalanan yang lebih berkelanjutan, pengalaman seperti ini terasa semakin relevan.—Monika Febriana
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026