Bursa Seni ArtMoments Jakarta 2023 Usung Konsep Butik
ArtMoments Jakarta kembali jadi ajang penghubung pencinta seni dan kolektor dengan para seniman dari berbagai wilayah.
Seni tidak selalu harus hadir di balik dinding putih galeri. Di tengah ritme kehidupan urban yang semakin cepat, karya seni justru menemukan makna baru ketika menjadi bagian dari ruang yang dihuni, digunakan, dan dinikmati setiap hari. Gagasan inilah yang diangkat melalui CURATED LIVING, sebuah pameran yang mengaburkan batas antara seni, desain, dan gaya hidup di ASHTA District 8. Berlangsung pada 3–23 Juli 2026, pameran ini mengajak pengunjung melihat bagaimana sebuah ruang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga medium yang menyimpan cerita dan identitas penghuninya.
Mengusung tema Where Design Meets Lifestyle, CURATED LIVING menghadirkan pengalaman yang menunjukkan bahwa desain lebih dari sekadar elemen estetika. Ia membentuk atmosfer, memengaruhi emosi, dan menentukan cara seseorang berinteraksi dengan ruang di sekitarnya. Melalui kolaborasi lintas disiplin bersama para seniman, desainer, dan praktisi interior, setiap sudut instalasi dirancang menyerupai ruang hidup yang terasa akrab dengan keseharian masyarakat urban, sekaligus menghadirkan inspirasi baru bagi pencinta seni dan desain.

Edisi perdana CURATED LIVING mengangkat tajuk Alaya Kaya, sebuah frasa yang dimaknai sebagai tempat bernaung sekaligus ruang untuk bertumbuh. Konsep ini berakar dari perjalanan kreatif seniman Adi Gunawan di Yogyakarta, kemudian diterjemahkan menjadi instalasi kontemporer yang terinspirasi dari arsitektur rumah Joglo. Namun, yang dihadirkan bukan sekadar bentuk fisiknya. Instalasi ini mengajak pengunjung merenungkan kembali makna rumah sebagai ruang yang menyimpan kehangatan, kebersamaan, dan jejak kehidupan yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Narasi tersebut diperkuat melalui perpaduan karya patung Adi Gunawan dengan kurasi furnitur dan elemen interior dari SANKHARA, OLA Studio EST. 2016, Theory of Living, dan Quatro Design Studio. Patung-patung Adi yang identik dengan figur bertubuh tambun dan berambut keriting menjadi identitas visual yang langsung dikenali, sekaligus membawa pesan tentang keberagaman dan penerimaan diri—tema yang terasa semakin relevan di tengah budaya visual masa kini.


Baca juga: ARTCYCLE di ASHTA District 8
“Inspirasi saya lahir dari definisi cantik yang selama ini dibentuk media, yaitu bertubuh langsing, berkulit putih, dan berambut lurus. Saya ingin mematahkan stereotip tersebut. Bagi saya, cantik juga bisa hadir dalam sosok bertubuh gemuk dan berambut keriting,” ujar Adi Gunawan saat ditemui TFL Paper.
Salah satu karya yang paling mencuri perhatian menyambut pengunjung tepat di pintu masuk pameran, yakni LOVE IS BLIND (2023). Patung ini menggambarkan sepasang suami istri yang tengah mengarungi perjalanan menggunakan sebuah perahu. Sosok laki-laki digambarkan sedang mendayung sebagai simbol perjuangan seorang kepala keluarga, sementara perempuan membawa lentera yang melambangkan kehangatan, harapan, dan cahaya bagi keluarganya. Perahu yang mereka tumpangi menjadi metafora sebuah rumah tangga yang terus bergerak, beradaptasi, dan bertahan menghadapi berbagai dinamika kehidupan.—Monika Febriana
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul