Pameran Seni Media Baru di Nuanu Creative City
Terra Nexus akan menjadi sorotan utama Art & Bali 2025.
Foto dan teks: Rachman Karim/TFL Paper
Ada sebuah pepatah Inggris yang berbunyi “One man’s trash is another man’s treasure.” Meski terdengar klasik, maknanya relevan dalam lanskap gaya hidup yang semakin sadar lingkungan. Sesuatu yang kerap dianggap tak berguna sering kali menyimpan potensi baru jika dilihat dari perspektif berbeda. Premis inilah yang diangkat oleh ARTCYCLE, pameran seni terbaru di ASHTA District 8 yang menjadi sebuah refleksi atas tren seni daur ulang di Jakarta.
Saya datang pada momen pembukaannya pada 22 April 2026. Digelar dalam rangka Earth Day 2026, ajang ini didukung oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation yang telah lama bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Mengusung tema EARTHFORM, pameran ini mengajak pengunjung menelusuri potensi artistik dari material sisa melalui pendekatan yang kontemporer.

Ada lima seniman yang terlibat dalam ekshibisi temporer ini, masing-masing berkolaborasi dengan jenama yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Di pusat ruang, totem hasil kolaborasi GULA dan Norm:al:Living tampil mencolok. Terbuat dari rak kulkas bekas dan plastik daur ulang, karya ini menyerupai kaca patri dengan ilustrasi alam yang terasa ekspresif dan nostalgik.
Karya Aharimu bersama Chop Value juga menarik perhatian. Ia mendaur ulang sumpit bambu menjadi totem yang merefleksikan elemen alam dan gestur manusia. Sementara itu, Harishazka berkolaborasi dengan Bell Living Lab menghadirkan instalasi lampion dan kubus Rubik dari ampas kopi, membentuk siluet yang menyerupai tentakel bercahaya saat dilihat dari bawah.


Di sisi lain, kolaborasi Alphabad dan Rebricks menghadirkan eksplorasi tipografi pada batako dan plastik daur ulang. Lala Bohang melengkapi pameran dengan karya berbahan kain sisa bersama Pable, menghadirkan narasi yang lebih personal dan reflektif.
ARTCYCLE berlangsung dari 20 April hingga 17 Mei 2026. Rangkaian karya yang dihadirkan menjadi pengingat bahwa dalam konteks sustainable art di Indonesia, limbah tidak selalu berakhir sebagai sisa, melainkan dapat bereinkarnasi menjadi sesuatu yang bernilai dan bermakna.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026