Menyelami Makna Kesabaran Bersama The Balvenie di Jia CURATED 2025
Menghadirkan The Makers Project di Bali dengan menggandeng Lianggono dari Studio Lianggono.
Nama Andi Rianto telah menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Indonesia selama lebih dari dua dekade. Sebagai komposer, penata musik, dan kreator ilustrasi musik film, ia dikenal melalui karya-karya yang membekas di hati pendengar lintas generasi. Sejumlah musisi ternama, mulai dari Kris Dayanti, Judika, dan Raisa hingga Lyodra, pernah mempercayakan karya mereka kepada pria kelahiran Sorong, Papua tersebut.
Jejak prestasinya pun terbentang panjang, dari berbagai penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) dan Festival Film Indonesia (FFI) hingga perannya sebagai pengarah musik dalam ajang nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) dan ASEAN Para Games.
Pada 2026, Andi Rianto kembali berkolaborasi dengan Marriott Bonvoy melalui The Circle by Marriott Bonvoy, sebuah inisiatif yang menghubungkan para anggota dengan dunia seni, budaya, musik, dan hiburan. Edisi perdananya, Jejak Nada, akan hadir dalam format konser orkestra pada 3 Juli 2026 di Astor Ballroom, The St. Regis Jakarta.

Usai konferensi pers The Circle by Marriott Bonvoy di Jakarta, TFL Paper berkesempatan berbincang dengan Andi Rianto mengenai kolaborasi terbarunya bersama Marriott Bonvoy, destinasi yang menginspirasinya dalam berkarya, hingga seperti apa definisi liburan ideal menurut salah satu komposer paling berpengaruh di Indonesia saat ini.
Bagaimana awal mula kolaborasi Anda dengan Marriott Bonvoy?
The Circle sebenarnya sudah mulai dibicarakan sejak 2022. Awalnya berangkat dari obrolan santai mengenai kemungkinan menghadirkan sebuah konser bersama. Karena hubungan saya dengan Marriott Bonvoy memang sudah terjalin cukup lama, akhirnya saya, Lindsey (Lindsey Bradley – Area Director of Marketing, Indonesia & Malaysia at Marriott International), dan tim mulai mengembangkan gagasan tersebut hingga menjadi program yang lebih matang seperti sekarang.
Apakah ada persiapan khusus untuk konser kali ini?
Tentu ada. Saat ini kami masih berada dalam tahap penyusunan aransemen musik. Setelah itu akan dilanjutkan dengan sesi latihan bersama para penyanyi dan Magenta Orchestra. Meskipun konsernya tinggal sekitar satu bulan lagi, proses kreatif dan persiapannya masih cukup panjang agar setiap detail dapat tersaji dengan maksimal.
Sebagai seorang komposer, seberapa besar pengaruh perjalanan terhadap proses kreatif Anda?
Sangat besar. Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, tetapi ketika saya bepergian atau mengunjungi tempat baru, biasanya ada lebih banyak hal yang memantik ide-ide segar. Bagi saya, perjalanan adalah cara untuk menyegarkan pikiran sekaligus mengisi ulang energi. Musik memang pekerjaan saya, tetapi menariknya, saat sedang berlibur pun saya tetap memikirkan musik. Selalu ada melodi, suasana, atau gagasan baru yang muncul di tengah perjalanan.

Adakah destinasi yang memberikan inspirasi emosional atau musikal yang sangat kuat?
Banyak sekali, tetapi salah satu yang paling berkesan adalah Papua. Pada 2021 saya dipercaya menjadi Music Director untuk PON Papua. Karena saya lahir di sana, pengalaman itu terasa seperti pulang ke kampung halaman setelah hampir lima dekade. Lanskap alam Papua yang luar biasa indah dan megah memberikan inspirasi yang sangat kuat, baik secara emosional maupun musikal.
Apa saja destinasi favorit Anda di Indonesia?
Saya sangat menyukai Bali, Papua, dan Labuan Bajo. Selain itu, saya juga memiliki kenangan khusus dengan Manado karena di sanalah saya pertama kali belajar menyelam. Belakangan ini saya juga terkesan dengan Aceh. Saya sempat berkunjung ke sana saat bertugas sebagai Music Director untuk PON. Aceh memiliki karakter yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia. Suasananya terasa lebih religius, tetapi dalam cara yang hangat, positif, dan menenangkan.
Seperti apa liburan ideal versi Andi Rianto?
Kalau sedang berlibur, saya biasanya memiliki dua gaya. Ada kalanya saya ingin semuanya terencana dengan baik dan dipenuhi berbagai aktivitas. Semua agenda yang sudah disusun harus terlaksana sesuai rencana. Namun, ada juga momen ketika saya justru ingin menikmati perjalanan tanpa agenda apa pun. Bangun pagi tanpa terburu-buru, menghabiskan waktu di hotel, mampir ke kafe, atau sekadar berjalan santai menikmati suasana sekitar. Jika harus memilih, saya lebih condong pada tipe liburan yang kedua. Rasanya jauh lebih rileks dan memberi ruang untuk menikmati sebuah destinasi secara lebih natural.—Monika Febriana
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026