Nonna Bona Ajak Tamu Ciptakan Momen Natal Istimewa
Restoran steik Italia ini hadirkan tawaran menu perayaan yang meriah.
Di Bali, restoran tepi pantai bukanlah hal yang langka. Namun, hanya sedikit yang mampu terus berevolusi tanpa kehilangan identitasnya. Itulah yang kini dilakukan SugarSand, restoran sekaligus wadah kongko yang menghadap langsung ke Pantai Legian. Setelah beberapa tahun memanjakan para pencinta kuliner Jepang dan pemburu senja dengan ragam sajian Negeri Sakura, destinasi kuliner yang menjadi bagian dari Hotel Indigo Bali Seminyak Beach ini membuka babak baru dengan menu yang terinspirasi dari kekayaan gastronomi Mediterania.
Perubahan arah tersebut hadir di bawah komando Sous Chef baru, Made “Ega” Sutarga. Sosok asal Bali ini telah menghabiskan lebih dari dua dekade mengasah kemampuannya di berbagai dapur di Australia, Singapura, dan Amerika Serikat. Pengalaman internasional tersebut kini diterjemahkan ke dalam pendekatan memasak yang lebih personal, di mana teknik, kesabaran, dan perhatian terhadap detail menjadi elemen utama.

Alih-alih hanya menghadirkan cita rasa Mediterania secara mentah-mentah, Ega memilih menyelami fondasi tradisi kuliner kawasan tersebut. Berbagai teknik preservasi yang telah digunakan selama berabad-abad menjadi bagian penting dari narasi menu baru SugarSand. Mulai dari fermentasi buah anggur muda menjadi verjuice yang memberikan keasaman lembut, proses pengacaran yang memperkaya lapisan rasa, hingga pembuatan garum—saus ikan fermentasi yang telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Yunani dan Romawi sejak ribuan tahun silam. Di SugarSand, garum buatan sendiri tersebut hadir dalam hidangan pembuka The Raw Fish, memberikan kedalaman rasa umami yang subtil tapi kompleks.
Baca juga: Hotel Indigo Bali Seminyak Beach Tetap Memikat Setelah Delapan Tahun
Pendekatan masak dari nol juga menjadi salah satu filosofi yang semakin ditekankan. Sejumlah komponen penting dalam menu dibuat sendiri di dapur, mulai dari pasta segar hingga gremolata labu yang menjadi pelengkap Lamb Gnocchi. Kreasi lain seperti fettucini tinta cumi dan Open Onsen’s Raviolo turut mencerminkan komitmen tersebut. Hasilnya adalah menu yang terasa lebih personal dan berkarakter, jauh dari kesan generik yang kerap ditemukan pada restoran-resor di destinasi wisata populer.

Meski berporos pada inspirasi Mediterania, Ega memahami bahwa Bali adalah titik pertemuan berbagai budaya kuliner dunia. Karena itu, sentuhan Asia tetap hadir dalam beberapa nomor. Salah satu yang menonjol adalah Sri Lankan Grilled Fish Curry—hidangan ikan bakar yang dipadukan dengan kari khas Sri Lanka dan disajikan bersama nasi hangat.—Ben Dharma
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026