Sago Lane memiliki kisah yang sangat kelam di masa lalu.

Foto utama: KF Wong Collection/National Archives of Singapore

Bicara soal Chinatown di Singapura, ada satu bangunan yang membentuk identitas visual kawasan tersebut. Berdiri anggun di tepi Sago Lane, Buddha Tooth Relic Temple & Museum telah menjelma menjadi jangkar spiritual sekaligus ikon kultural yang tak terpisahkan dari lanskap pecinan Singapura. Diresmikan pada 2007, kuil bergaya Dinasti Tang ini menyimpan relik suci berupa gigi Buddha di dalam stupa seberat 320 kilogram. Di sekelilingnya, deretan toko suvenir, butik kecil, dan restoran membentuk ritme yang menjadikan kawasan ini destinasi wajib bagi pelancong urban yang mencari sisi historis sekaligus estetika Singapura.

Namun, jauh sebelum kuil ini berdiri dan menjadi episentrum wisata, Sago Lane—jalan kecil yang membatasi lahannya—memiliki kisah yang jauh lebih kelam. Berbeda dengan citra Chinatown masa kini yang hidup, fotogenik, dan sarat energi, Sago Lane dahulu identik dengan kematian dan fase paling sunyi dalam kehidupan manusia.

Sagu dan Judi
Sejarah Sago Lane dan Sago Street bermula pada abad ke-19, ketika Singapura tumbuh sebagai pelabuhan dagang penting di Asia Tenggara. Nama keduanya berasal dari sagu, bahan pangan yang kala itu menjadi komoditas populer sekaligus peluang bisnis yang menjanjikan. Arsip dari National Library Board Singapore mencatat bahwa pada era 1850-an terdapat sekitar 30 pabrik sagu yang beroperasi di Singapura, sebagian besar terkonsentrasi di dua jalan ini. Aroma industri dan harapan ekonomi pernah memenuhi udara di sini.

sago lane
Suasana Sago Lane, dengan rumah-rumah toko bergaya Peranakan. Buddha Tooth Relic Temple & Museum.

Namun, kemakmuran tersebut tak berlangsung tanpa bayang-bayang. Seiring waktu, citra kawasan berubah. Catatan dari Remember Singapore mengungkapkan bahwa Sago Street kerap diwarnai aktivitas perjudian ilegal, perkelahian antargeng, dan kemunculan rumah bordil yang dioperasikan kelompok rahasia. Sementara itu, Sago Lane—yang berjalan paralel—mengembangkan reputasi yang bahkan lebih muram. Jika Sago Street dikenal karena dunia malamnya, Sago Lane justru mendapat julukan yang lebih sunyi sekaligus menghantui: “Jalan Kematian”.

Persinggahan Terakhir
Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut publikasi sejarah BiblioAsia, periode 1930-an hingga 1960-an menjadi era ketika Sago Lane dikenal luas sebagai pusat rumah duka. Bangunan-bangunan sederhana berjejer rapat, membentuk sebuah ekosistem yang sepenuhnya berkaitan dengan kematian dan ritual perpisahan.

Menariknya, rumah-rumah duka ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat persemayaman, tetapi juga sebagai ruang singgah terakhir bagi mereka yang menunggu ajal. Banyak penghuninya adalah imigran lanjut usia tanpa keluarga atau individu dari latar belakang ekonomi terbatas. Tanpa fasilitas medis modern, tempat-tempat ini hanya menyediakan ranjang sederhana—sebuah ruang sunyi untuk menghabiskan hari-hari terakhir, ditemani aroma dupa yang tak pernah padam.

sago lane
Ritual penghormatan kepada yang berpulang di Sago Lane. Paul Piollet Collection/National Heritage Board.

Di lantai dasar, etalase memamerkan perlengkapan pemakaman tradisional Tionghoa: peti mati, kertas persembahan, dan ornamen ritual lainnya. Upacara penghormatan berlangsung hampir setiap hari, menciptakan kontras emosional antara duka mendalam dan kehidupan yang terus berjalan di luar. Realitas tersebut juga mencerminkan kondisi sosial masa itu. Banyak warga hidup dalam kepadatan ekstrem dan sanitasi yang buruk, membuat penyakit mudah menyebar. Ditambah dengan kepercayaan tradisional bahwa kematian di rumah dapat membawa kesialan, keluarga sering memindahkan anggota yang sakit ke rumah duka—sebuah keputusan yang lahir dari perpaduan antara keyakinan, ketakutan, dan keterbatasan.

Ironisnya, dinamika ini bahkan menarik perhatian wisatawan pada akhir 1950-an, yang datang untuk menyaksikan sisi lain Chinatown yang tak pernah mereka bayangkan.

Abadi di Museum
Transformasi Singapura menjadi metropolis modern perlahan menghapus jejak fisik masa lalu tersebut. Pada 1972, pembangunan Kreta Ayer Complex mengubah wajah kawasan ini secara drastis. Rumah-rumah duka dan bangunan lama diratakan, memberi jalan bagi infrastruktur baru yang lebih sesuai dengan visi kota masa depan. Dalam beberapa tahun, Sago Lane kehilangan sebagian besar identitas lamanya.

sago lane
Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Sago Lane terhalangi struktur baru di sampingnya. Jakub Halun/Wikimedia Commons.

Kini, lahan yang dulu menjadi “Jalan Kematian” ditempati oleh kuil megah dan ruang parkir yang melayani bus wisata. Tak ada lagi ranjang-ranjang tua atau aroma duka yang memenuhi udara. Namun, memorinya tetap hidup—diabadikan dengan penuh hormat di Chinatown Heritage Centre, hanya beberapa langkah dari lokasi aslinya. Di sana, artefak seperti ranjang kayu, koper tua, dan benda-benda personal lainnya menjadi saksi bisu kehidupan mereka yang pernah menjadikan Sago Lane sebagai persinggahan terakhir.

Hari ini, Sago Lane tampil sebagai jalan satu arah yang tenang, diapit oleh simbol spiritual dan infrastruktur modern. Wisatawan mungkin melintasinya tanpa menyadari lapisan sejarah yang tersembunyi di baliknya. Namun, seperti banyak sudut di Singapura, kawasan ini adalah pengingat bahwa di balik wajah metropolis yang rapi dan berkilau, selalu ada kisah-kisah yang diam-diam membentuk identitas kota hingga hari ini.Rachman Karim

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More