Rekomendasi Tempat Merayakan Imlek 2025 di Bali
Rayakan kedatangan Tahun Ular Kayu di Pulau Dewata bersama keluarga.
Foto utama: The cave by Chef Ryan Clift
Di era modern, sebuah restoran tak lagi dinilai semata dari kualitas makanannya. Bagi banyak orang, pengalaman yang menyertainya kini sama pentingnya dengan apa yang tersaji di atas meja. Tak heran jika restoran tematik terus bermunculan, menawarkan narasi dan suasana yang membuat momen bersantap terasa lebih berkesan—bahkan layak menjadi tujuan perjalanan tersendiri.
Selama bertahun-tahun, gua identik dengan petualangan alam, ekspedisi bawah tanah, dan wisata geologi. Namun, belakangan, formasi alami tersebut mulai menginspirasi dunia desain dan hospitality. Dinding-dinding bertekstur, lengkungan organik, permainan cahaya temaram, hingga atmosfer yang terasa intim menghadirkan sensasi yang sulit ditemukan pada ruang konvensional. Tak mengherankan jika estetika gua kini menjadi salah satu pendekatan desain yang digemari dalam lanskap kuliner dan gaya hidup.
Di sejumlah kota besar Indonesia, muncul destinasi-destinasi makan yang mengadopsi konsep ini secara penuh. Ada yang menerjemahkannya ke dalam ruang kontemporer yang dramatis, ada pula yang menggabungkannya dengan nuansa Mediterania ala Santorini. Dari ceruk bergaya modern hingga ruang makan yang menyerupai gua alami, berikut lima destinasi kuliner bertema gua di Indonesia yang layak masuk daftar kunjungan Anda berikutnya.
Goldstar 360

Dirancang sebagai salah satu destinasi gaya hidup di Bandung, Goldstar 360 menaungi beragam fasilitas hiburan, mulai dari lapangan futsal hingga sejumlah gerai kuliner. Namun, magnet utamanya berada di Cave House, restoran bertema gua yang unik. Alih-alih menghadirkan nuansa gua yang gelap dan misterius, Cave House memilih pendekatan yang lebih ceria. Elemen-elemen prasejarah ala kartun The Flintstones dipadukan dengan estetika serbaputih yang mengingatkan pada lanskap Santorini di Yunani, menghasilkan ruang yang fotogenik sekaligus ramah untuk keluarga dan kelompok teman. Agenda kulinernya didominasi hidangan Indonesia dan Jepang, lengkap dengan berbagai kudapan manis populer seperti panekuk dan banana boat.
Jl. Dangdeur Indah No. 2B, Bandung; instagram.com/goldstar360.
GoaSaya

Di tengah cepatnya evolusi lanskap kuliner PIK 2, GoaSaya hadir sebagai salah satu pemain yang menawarkan pengalaman berbeda. Ruang utamanya dirancang menyerupai gua dengan pendekatan modern dengan tekstur batu, lengkungan organik, dan permainan cahaya temaram yang membangun suasana intim. Repertoar kulinernya bergerak di antara hidangan Barat dan Pan-Asia yang dirancang untuk dinikmati bersama. Bagi banyak pengunjung, justru hidangan penutupnya yang paling mencuri perhatian. Mulai dari mus cokelat yang menyerupai batang pohon hingga kreasi berbentuk “kerikil” ala taman Zen Jepang, setiap sajian tampil dengan detail visual yang nyaris terlalu realistis untuk disantap.
Entertainment District, PIK 2; goasaya.com.
PALEO Stone Age

Sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta, PALEO Stone Age menawarkan pengalaman yang terasa berbeda dari kebanyakan restoran tematik. Sesuai namanya, destinasi ini membawa pengunjung kembali ke masa prasejarah melalui sebuah gua gamping alami yang disulap jadi ruang bersantap. Beragam dekorasi bertema zaman purba, termasuk replika fosil dinosaurus, memperkuat narasi visual yang diusung. Namun, makanan tetap menjadi fokus utama. Menunya mengangkat kekayaan kuliner tradisional Indonesia dengan Sego Kumpul sebagai salah satu sajian andalan. Menariknya, pengalaman di PALEO Stone Age tidak harus berakhir setelah makan. Properti ini juga memiliki sejumlah kamar dan vila yang mengusung tema serupa, menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin menikmati suasana alam Gunungkidul lebih lama.
Betoro Lor, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta; instagram.com/paleo.stoneage.
The Cave by Chef Ryan Clift

Dengan kapasitas hanya 22 tamu dalam satu waktu, The Cave by Chef Ryan Clift menawarkan salah satu pengalaman bersantap paling eksklusif di Bali. Bersemayam di dalam gua alami di kompleks The edge Bali, restoran ini membawa konsep adiboga ke level yang benar-benar berbeda—secara harfiah berada di bawah permukaan tanah. Formasi stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun menjadi bagian dari latar alami restoran, bersanding dengan furnitur kontemporer dan sentuhan artefak budaya Bali. Atmosfernya terasa dramatis, nyaris teatrikal. Untuk melengkapinya, para tamu diajak menikmati menu degustasi tujuh atau sepuluh babak yang menampilkan pendekatan gastronomi modern dan eksperimental khas Ryan Clift.
The edge Bali, Jl. Pura Goa Lempeh, Kuta Selatan, Bali; thecavebali.com.
MARU Bake House

Tak hanya Pulau Jawa dan Bali yang memiliki destinasi kuliner bertema gua. Di Batam, Kepulauan Riau, MARU Bake House menawarkan interpretasi yang lebih lembut dan kontemporer terhadap konsep tersebut. Interiornya dirancang menyerupai gua batu kapur dengan garis-garis organik dan warna netral yang menghadirkan suasana hangat sekaligus modern. Berbeda dengan beberapa nama lain dalam daftar ini yang berfokus pada santap berat, MARU Bake House menjadi surga bagi pencinta kudapan manis dan kopi. Mochi Pumpkin Donut menjadi salah satu menu yang paling sering diburu pengunjung, sementara deretan pai buatannya—mulai dari pai keju klasik hingga pai pistachio—tak kalah menggoda.
Ruko Superblock Sydney Hotel No. 6, Batam; instagram.com/marubakehouse.—Rachman Karim
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026