Mandarin Oriental Hadir di Bali dalam Bentuk Vila Esklusif
Mandarin Oriental akhirnya buka di Bali. Tarif sewanya di atas Rp150 juta.
Merek hotel mewah Regent sempat hadir di Bali pada 2013. Usianya singkat. Ia hanya bertahan hingga akhir 2014 sebelum akhirnya menghilang dari peta perhotelan Pulau Dewata. Bangunannya masih berdiri hingga kini dan tetap berada di bawah payung IHG, tetapi nama Regent sempat menjadi kenangan bagi para penikmat hotel mewah di Bali.
Hampir satu dekade kemudian, Regent akhirnya kembali. Kali ini, bukan di kawasan resor yang identik dengan kemewahan klasik seperti Nusa Dua atau Jimbaran, melainkan di Canggu—distrik pesisir yang lebih dikenal lewat ombak, kafe, beach club, serta komunitas digital nomad daripada layanan ultra-luxury. Kehadirannya sempat memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat perhotelan. Bisakah sebuah hotel mewah di Canggu dengan standar tertinggi hidup berdampingan dengan ritme kawasan yang santai sekaligus tak pernah benar-benar tidur? Jawabannya ternyata bisa. Bahkan, Regent Bali Canggu berhasil menawarkan sesuatu yang selama ini nyaris tidak dimiliki kawasan tersebut: kemewahan yang tenang di tengah hiruk-pikuk Jalan Pantai Batu Bolong. Tak berlebihan jika kini ia juga menyandang predikat sebagai salah satu, bahkan hotel termahal di Canggu.


Lokasi
Regent Bali Canggu bersemayam di ujung Jalan Pantai Batu Bolong, salah satu urat nadi utama Canggu. Dalam beberapa menit berjalan kaki, tamu sudah dapat mencapai nama-nama legendaris seperti Old Man’s, The Lawn, hingga deretan butik independen, galeri, dan specialty coffee yang membentuk karakter kawasan ini. Meski berada di jantung salah satu destinasi paling hidup di Bali, atmosfer di dalam resor terasa seolah terpisah dari keramaian di luar gerbang.
Di Asia Tenggara sendiri, Regent hanya mengoperasikan dua resor, yakni Regent Bali Canggu dan Regent Phu Quoc di Vietnam. Fakta tersebut semakin menegaskan posisi properti ini sebagai salah satu portofolio paling eksklusif milik IHG di kawasan tersebut.

Desain
Arsitektur Regent Bali Canggu digarap oleh firma WATG asal Singapura, nama yang sudah lama dikenal lewat portofolio hotel-hotel mewah di Nusa Dua, Jimbaran, hingga Uluwatu. Dimiliki oleh pengusaha eksportir kayu asal Surabaya, resor ini seolah membawa latar belakang tersebut ke dalam identitas desainnya. Kayu bukan sekadar material pelengkap, melainkan menjadi bahasa arsitektur yang hadir hampir di setiap sudut properti.

Perpaduan desain tradisional Bali dan estetika kontemporer terasa konsisten sejak tamu melangkah ke area lobi. Lantai kamar, dek, gazebo, kursi di tepi kolam renang, hingga bathtub dari kayu jati solid yang dihiasi ukiran menjadi elemen yang terus mengikat pengalaman menginap. Di luar bangunan, dinding batu alam mempertegas kesan membumi, sementara permainan garis-garis modern menjaga keseluruhan desain tetap terasa segar dan relevan. Hasil akhirnya bukan kemewahan yang berteriak, melainkan kemewahan yang matang, hangat, dan memiliki karakter kuat—sesuatu yang justru terasa semakin langka di tengah menjamurnya hotel-hotel baru di Canggu.

Kamar
Regent Bali Canggu menawarkan 141 suite, tujuh vila, dan dua penthouse. Di tengah tren hotel yang berlomba memaksimalkan jumlah kamar, Regent justru memilih pendekatan sebaliknya: memberi ruang lebih banyak kepada tamunya. Bahkan kategori paling dasar, Studio Suite, sudah memiliki luas 76 meter persegi—ukuran yang lebih lapang dibanding banyak kamar hotel bintang lima di Canggu. Satu tingkat di atasnya, One Bedroom Suite menawarkan tambahan ruang duduk terpisah sehingga terasa lebih menyerupai apartemen privat daripada kamar hotel. Saya menginap di tipe ini.
Setiap akomodasi di Regent Bali Canggu dilengkapi tempat tidur kayu empat tiang yang menjadi titik fokus ruangan. Namun, elemen desain yang paling membekas bagi saya justru berada di kamar mandi: sebuah bathtub dari kayu jati solid yang dipahat dengan ukiran rumit. Selama bertahun-tahun mengulas hotel di Bali, saya belum pernah menemukan bathtub dengan karakter seunik ini. Ia bukan sekadar perlengkapan kamar mandi, melainkan karya kriya yang mengingatkan bahwa kemewahan tak selalu diwujudkan lewat marmer Italia atau lapisan emas.

Pengalaman berendam pun semakin lengkap berkat rangkaian produk mandi Sodashi yang harum dan menenangkan. Di meja rias tersedia pengering rambut Dyson, detail kecil yang kini semakin sering dicari tamu hotel mewah, tetapi masih belum menjadi standar di banyak properti lain.
Soal fasilitas dan sentuhan layanan, Regent menunjukkan perhatian yang nyaris sulit ditandingi. Layanan penatu dan setrika tanpa batas menjadi salah satu kejutan terbesar—lagi-lagi pertama kalinya saya temukan di hotel Bali. Di dalam kamar juga tersedia matras yoga, pilihan bantal dengan berbagai tingkat kenyamanan, face mist untuk menyegarkan wajah setelah beraktivitas di bawah matahari Canggu, hingga Refreshment Gallery, interpretasi Regent terhadap minibar. Menariknya, seluruh isi minibar dapat dinikmati satu kali tanpa biaya tambahan, termasuk koleksi minuman beralkohol. Detail-detail semacam inilah yang membuat pengalaman menginap terasa semakin personal dan bernilai, bukan sekadar mewah.

Kuliner
Regent Bali Canggu memiliki tujuh destinasi kuliner: CURE Bali, The Curing Room, Bar Nua, Sazón, Beach House, Taru, The Lounge, serta pool bar. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda sehingga pengalaman bersantap tidak terasa repetitif, bahkan bagi tamu yang menginap beberapa malam.
Mari mulai dari CURE Bali. Restoran ini merupakan “saudara” dari restoran berbintang Michelin di Singapura milik koki asal Irlandia, Andrew Walsh. Bersama Chef de Cuisine, Arvin Tjandra, CURE Bali mengolah bahan-bahan terbaik dengan teknik kuliner Eropa modern, tetapi tetap mempertahankan cita rasa Asia sebagai fondasi utamanya. Hasilnya adalah pengalaman bersantap yang terasa elegan tanpa kehilangan identitas.

Dari seluruh menu yang saya cicipi, prawn toast, roasted aged duck, dan citrus-fed wagyu picanha menjadi tiga hidangan yang wajib dipesan. Masing-masing menunjukkan keseimbangan rasa sekaligus teknik memasak yang presisi. Pada akhir pekan, restoran ini juga menghadirkan Sunday Roast, tradisi makan siang khas Inggris yang telah berlangsung sejak abad ke-15, kini dihidangkan dengan interpretasi kontemporer di tepi pantai Canggu.

Masih berada dalam ekosistem CURE Bali, The Curing Room merupakan ruang makan eksklusif berkapasitas hanya 12 tamu. Konsepnya berfokus pada kolaborasi dengan koki-koki ternama melalui pengalaman bersantap yang intim dan lebih personal. Sementara itu, Bar Nua menjadi tempat ideal untuk memulai malam. Menghadap matahari terbenam, bar ini menghadirkan suasana santai yang perlahan berubah semakin hidup seiring bergantinya waktu. Saat malam tiba, Anda bisa melanjutkan dengan makan malam di CURE Bali.
Di sisi lain resor terdapat Sazón yang dapat dicapai menggunakan buggy. Restoran besutan Andrew Walsh ini awalnya berfokus pada hidangan Spanyol sebelum akhirnya berevolusi menjadi restoran Mediterania. Meski arah kulinernya berubah, satu hal tetap bertahan: rasa yang bersih, berani, dan mudah diingat. Sazón menjadi alternatif menarik bagi tamu yang ingin menikmati makan malam dengan atmosfer yang sedikit lebih kasual.

Beach House mungkin merupakan representasi paling menarik dari wajah baru Canggu. Alih-alih mengikuti tren beach club dengan musik menghentak dan keramaian tanpa jeda, tempat ini justru menawarkan kebalikannya. Kolam renang yang luas, musik disko bernuansa lembut, sofa-sofa nyaman, serta panorama laut menjadikannya ruang bersantai yang terasa lebih dewasa. Menyesap koktail sambil menikmati matahari terbenam dari tepi kolam menjadi ritual yang menyenangkan di sana.
Untuk kebutuhan sehari-hari, Taru berperan sebagai restoran all-day dining yang menyajikan hidangan Indonesia dan internasional. Sarapannya menggabungkan konsep prasmanan dan à la carte sehingga tamu tidak perlu mengantre panjang untuk menikmati hidangan utama yang disiapkan segar. Sementara itu, The Lounge menjadi tempat ideal menikmati kopi, teh, maupun pertemuan santai dengan latar pemandangan laut dan kolam renang. Terakhir, pool bar yang berada di dekat Taru melengkapi pengalaman bersantai dengan pilihan minuman dan camilan ringan tanpa perlu meninggalkan area kolam renang.

Fasilitas
Selain kolam renang utama yang membentang menghadap laut, Regent Bali Canggu juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti Kids Club, pusat kebugaran, serta Regent Spa & Wellness—fasilitas spa dan kebugaran pertama milik Regent di dunia. Kehadirannya mempertegas ambisi Regent Bali Canggu untuk menjadi lebih dari sekadar hotel mewah di Canggu; resor ini ingin menjadi destinasi relaksasi yang utuh.
Pengalaman di spa dimulai bahkan sebelum terapis menyentuh tubuh Anda. Setiap sesi pijat diawali dengan audio therapy menggunakan headphone kedap suara yang memutar musik meditatif untuk membantu pikiran beralih dari hiruk-pikuk Canggu menuju suasana yang lebih tenang. Ritual sederhana tersebut ternyata efektif membangun suasana sebelum terapi dimulai.

Regent Spa & Wellness memiliki enam ruang perawatan. Di sisi lain tersedia juga sauna. Namun, bagi tamu yang ingin menjaga kebugaran tanpa harus menghabiskan waktu di atas treadmill atau mengangkat beban, pilihan aktivitasnya jauh lebih menarik. Setiap pagi tersedia sesi yoga, sementara siang harinya diisi beragam kelas kebugaran seperti tinju, latihan core, hingga agility training yang dipandu instruktur profesional. Pendekatan ini terasa selaras dengan karakter Canggu yang identik dengan gaya hidup aktif sekaligus kebugaran.
Favorit Kami
Pelayanan menjadi salah satu alasan terbesar mengapa pengalaman menginap di Regent Bali Canggu terasa berbeda. Keramahtamahan staf hadir secara alami—hangat tanpa dibuat-buat, sigap tanpa terasa mengganggu. Di restoran, staf mengingat nama tamu dan, setelah satu malam menginap, bahkan mampu mengingat preferensi minuman yang biasa Anda pesan. Perhatian terhadap detail-detail kecil inilah yang sering kali membedakan hotel mewah dengan hotel yang benar-benar memahami makna hospitality.

Favorit kami berikutnya adalah Regent Club. Tak banyak tamu yang dapat mengakses ruang eksklusif ini. Bahkan anggota IHG One Rewards berstatus Gold pun belum tentu mendapatkannya, kecuali melalui undangan atau tipe kamar tertentu. Akses ke Regent Club terbuka bagi tamu yang menginap di vila dan penthouse. Namun, tamu suite tetap dapat menikmatinya dengan tambahan Rp1.250.000++ per orang per hari—harga yang menurut saya sangat sepadan dengan pengalaman yang ditawarkan.
Sepanjang hari, tamu dapat menikmati sarapan, makan siang ringan, afternoon tea, camilan, kopi, teh, koktail, hingga sampanye tanpa biaya tambahan. Ingin memulai pagi dengan sarapan yang lebih tenang? Bisa. Mampir untuk makan siang setelah berenang? Bisa. Menikmati koktail di tengah hari sambil menyelesaikan pekerjaan? Juga bisa. Bahkan tersedia akses ke kolam renang eksklusif yang membuat suasana terasa jauh lebih intim dibanding area utama. Yang paling saya apresiasi, menu makanan dan minuman terus berganti setiap hari sehingga tamu yang menginap lebih lama tetap menemukan sesuatu yang baru.
Pada akhirnya, kekuatan Regent Bali Canggu bukan hanya terletak pada suite yang luas, desain yang matang, atau jajaran restoran besutan Andrew Walsh. Nilai sesungguhnya justru hadir dari kemampuan resor ini menciptakan pengalaman yang terasa personal tanpa kehilangan kesan elegan. Di tengah Canggu yang semakin ramai oleh beach club, kafe, dan lalu lintas yang nyaris membuat frustasi, Regent menawarkan kemewahan yang lebih hening. Dan jika predikat sebagai salah satu hotel termahal di Canggu membuat ekspektasi tamu melambung tinggi, pengalaman menginap di sini menunjukkan bahwa label tersebut bukan sekadar soal tarif, melainkan tentang standar pelayanan yang memang layak diperhitungkan.
Jl. Pantai Batu Bolong No.93, Canggu, Kec. Kuta Utara; ihg.com; tarif kamar mulai dari Rp10.000.000 per malam.
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul