Pasar Baru: Dulu, Kini, dan Nanti
Napak tilas Passer Baroe, tempat sejarah, fesyen, dan cita rasa lintas generasi.
Tiga puluh tahun bukan sekadar penanda usia bagi Gran Meliá Jakarta, melainkan perjalanan panjang yang mencerminkan bagaimana sebuah hotel terus berevolusi mengikuti perubahan gaya hidup modern. Selama tiga dekade, hotel bintang lima ini konsisten memadukan kemewahan, inovasi, dan sentuhan budaya dalam setiap pengalaman yang ditawarkan. Untuk merayakan tonggak sejarah tersebut, Gran Meliá Jakarta mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui penyajian Beef Rendang Wellington sepanjang 31,5 meter—sebuah kreasi kuliner yang menjadi simbol perjalanan hotel selama 30 tahun.
Sorotan utama perayaan ini hadir lewat reinterpretasi dua tradisi gastronomi dari belahan dunia yang berbeda. Rendang, hidangan Nusantara yang telah diakui sebagai salah satu makanan terbaik di dunia, dipadukan dengan Beef Wellington, sajian klasik Eropa yang identik dengan teknik memasak mengutamakan presisi. Hasilnya bukan hanya sebuah hidangan istimewa, tetapi juga representasi dari pertemuan budaya, cita rasa, dan kreativitas kuliner. Filosofi tersebut selaras dengan karakter Gran Meliá Jakarta yang sejak awal menggabungkan warisan Spanyol dengan keramahan Indonesia.

Kreasi pemecah rekor ini digarap oleh tim kuliner Gran Meliá Jakarta di bawah arahan David Marteau, Executive Chef Gran Meliá Jakarta. Bagi hotel, panjang hidangan yang mencapai lebih dari 30 meter bukan sekadar angka untuk mendulang rekor. Ia menjadi metafora atas perjalanan panjang yang dibangun melalui dedikasi, inovasi, dan keberanian untuk terus menghadirkan pengalaman baru bagi para tamunya—baik melalui layanan maupun sajian di meja makan.
Dalam kesempatan tersebut, Jeronimo Molina, General Manager Gran Meliá Jakarta, menegaskan bahwa perayaan ulang tahun ke-30 merupakan momen untuk mengapresiasi seluruh tamu, mitra, dan karyawan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hotel.
“Pencapaian usia 30 tahun merupakan tonggak yang sangat berarti bagi Gran Meliá Jakarta. Keberhasilan ini mencerminkan dedikasi tim kami, kepercayaan para tamu, serta dukungan kuat dari para mitra yang telah bersama kami selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Jeronimo juga mengenang bagaimana industri perhotelan telah berubah sejak Gran Meliá Jakarta pertama kali beroperasi pada 1996. Jika dahulu tamu lebih mempertimbangkan kemegahan bangunan dan kelengkapan fasilitas, kini ekspektasi telah bergeser. Pelayanan yang personal, pengalaman yang autentik, serta hubungan emosional dengan sebuah merek menjadi faktor yang semakin menentukan ketika memilih hotel.
Meski terus beradaptasi dengan tren perhotelan dan hotel mewah di Jakarta, Gran Meliá Jakarta tetap mempertahankan identitasnya sebagai hotel yang berakar pada budaya Spanyol dan diperkaya oleh kehangatan layanan khas Indonesia. Semangat tersebut tercermin dalam berbagai inovasi, terutama di ranah gastronomi, termasuk kehadiran ERRE & Urrechu Jakarta, restoran Spanyol yang memperkaya lanskap kuliner ibu kota sekaligus menjadi salah satu destinasi bersantap favorit bagi para tamu maupun masyarakat Jakarta.
Lebih dari sekadar selebrasi, perayaan tiga dekade ini juga membawa misi sosial. Gran Meliá Jakarta menggandeng FoodCycle Indonesia, organisasi nirlaba yang berfokus pada pengurangan limbah pangan melalui distribusi makanan surplus kepada masyarakat yang membutuhkan. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa sebuah perayaan tidak harus berhenti pada pencapaian atau rekor semata. Di balik hidangan sepanjang 31,5 meter, terselip komitmen untuk menghadirkan dampak yang lebih luas baik bagi lingkungan, masyarakat, maupun masa depan industri perhotelan yang semakin bertanggung jawab.—Monika Febriana
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul