Warisan dan Masa Depan di Tangan Ida Bagus Kharisma Wijaya
Kepiawaian pemilik Sanur Village Hotel dalam menjaga warisan dan merangkai masa depan.
Foto utama: Chainwit/Wikimedia Commons
Para penggemar auteur kondang Wong Kar-Wai tentu tak asing dengan Chungking Express. Dirilis pada 1994, film romansa dua segmen ini dibintangi deretan aktor dan aktris legendaris seperti Tony Leung, Takeshi Kaneshiro, dan Faye Wong. Judulnya sendiri diambil dari Chungking Mansions, sebuah kompleks residensial-komersial di jantung Tsim Sha Tsui, Hong Kong, yang juga menjadi salah satu latar dalam cerita.
Berdiri sejak 1961, kompleks ini terdiri atas lima blok apartemen bergaya modernis setinggi 17 lantai. Chungking Mansions juga memiliki podium ritel untuk mengakomodasi kebutuhan para penghuni, seperti kompleks apartemen modern di Indonesia. Awalnya dirancang sebagai hunian, ia kini lebih kesohor sebagai destinasi belanja, pusat grosir internasional, serta penginapan bujet yang menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap urban Hong Kong.

Ironisnya, meski populer berkat Chungking Express, nama Chungking Mansions justru kerap dikaitkan dengan hal-hal yang jauh dari kata romantis. Sebuah artikel di bc Magazine Hong Kong menyebutkan bahwa kompleks tersebut bahkan kerap disandingkan dengan Kowloon Walled City. Gordon Matthews, dosen antropologi di Chinese University of Hong Kong, pun mengabadikan fenomenanya melalui buku bertajuk Ghetto at the Center of the World: Chungking Mansions, Hong Kong.
Hunian Impian
Chungking Mansions sejatinya lahir sebagai respons atas berkembangnya Tsim Sha Tsui sebagai kawasan komersial. Ia berdiri di atas lahan yang sebelumnya ditempati Chungking Arcade, pusat perbelanjaan yang dikembangkan Jaime Tiampo, seorang pebisnis Hokkian dari Filipina. The Industrial History of Hong Kong Group menyebutkan bahwa kompleks tersebut diresmikan pada 1941 dan dikenal dengan layout berbentuk tapal kuda. Namanya sendiri merupakan ejaan bahasa Kanton dari Chongqing.
Baca juga: Chongqing, Kota Delapan Dimensi
Pada periode pendudukan Jepang, Chungking Arcade tak luput dari sasaran perang. Dua bom dijatuhkan sekutu ke pusat perbelanjaan pada 1944, tetapi hanya satu yang meledak. Pascaperang dunia kedua, kompleks belanja ini kembali dibuka dengan 50 toko. Namun, pesatnya perkembangan Tsim Sha Tsui mendorong keluarga Tiampo untuk mengembangkan Chungking Arcade menjadi Chungking Mansions.

Pembangunannya dimulai pada 1959. Pada masa konstruksi, satu bom lain dengan berat lebih dari 225 kilogram yang tak meledak pada Perang Dunia II ditemukan. Chungking Mansions pun resmi memulai kiprahnya sebagai hunian pada 1961. Sementara itu, podium ritel tiga lantainya dibuka setahun kemudian dan kala itu didapuk sebagai salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Hong Kong.
Popularitas Chungking Mansions sebagai apartemen mewah pun sempat melejit, terutama berkat lokasinya yang strategis dan kedekatannya dengan kawasan pelabuhan. Situs resmi kompleks menyebutkan unit seluas 92 meter persegi pernah ditawarkan dengan harga 30.000 dolar Hong Kong (senilai Rp1,15 miliar dengan kurs sekarang). Demografi penghuninya pun didominasi warga Tionghoa, termasuk selebritas dan pimpinan pemerintahan.
Tak Seindah Film
Meski menjadi latar film drama Chungking Express, apartemen ini tak punya masa kejayaan yang panjang. Mulai 1966, pamor Chungking Mansions sebagai hunian mewah perlahan memudar. South China Morning Post melaporkan kebakaran pertama terjadi pada tahun tersebut. Sekitar 6.000 penghuni turun ke jalan untuk menyelamatkan diri, sementara kerugian akibat kebakaran mencapai jutaan dolar Hong Kong.
Selama dua dekade berikutnya, stigma negatif semakin erat dengan kompleks ini. Chungking Mansions bahkan mendapatkan julukan “sarang dosa” karena menjadi markas bisnis prostitusi oleh para perempuan Eropa serta tempat berlangsungnya perdagangan emas ilegal. Uniknya, pada 1987, Lonely Planet menerbitkan ulasan tentang akomodasi-akomodasi murah yang beroperasi di Chungking Mansions. Ironisnya, sebagian backpacker yang menginap di sana rupanya terlibat dalam aksi penyelundupan emas.

Baca juga: Apartemen di Jakarta Ini Punya Cara Jitu Tangkal Polusi Udara
Memasuki abad ke-21, kompleks apartemen ini berubah menjadi melting pot kelas menengah ke bawah. Dalam artikel ilmiah bertajuk Chungking Mansions: A Center of Low-End Globalization, Gordon Matthews menyebutkan bahwa dalam setahun, daftar pengunjung Chungking Mansions mencakup lebih dari 100 negara. Bahkan, Matthews memperkirakan sekitar 20 persen ponsel yang dijual untuk kawasan sub-Sahara Afrika pernah “singgah” di Chungking Mansions.
Transformasi Luar Dalam
Jengah dengan stigma buruk yang melekat, Chungking Mansions mulai berbenah. Komite pemilik apartemen mengambil sejumlah langkah untuk mengubah citra hunian yang acap kali digambarkan negatif oleh media. Lalu, pada 2007, TIME Magazine memuji kompleks ini dan menyebutnya sebagai salah satu contoh terbaik globalisasi di Asia.
Kini, kompleks apartemen tersebut menjadi tempat tinggal sekaligus pusat bisnis bagi beragam etnis minoritas di Hong Kong, terutama mereka yang berasal dari Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Podium ritelnya dimeriahkan ratusan toko dan restoran yang merepresentasikan budaya pemiliknya. Toko sari berdampingan dengan gerai ponsel bekas. Di sudut lain, toko koper dan tas bertetangga dengan toko perlengkapan sembahyang Buddha yang menguar aroma dupa.


Petualangan gastronomi menjadi salah satu alasan menarik untuk menyambangi kompleks ini. Pilihannya pun sangat variatif. Sher-E-Punjab, misalnya, menawarkan hidangan khas Pakistan dan India yang populer bagi mereka yang mencari sajian halal. Ghana Locals menyuguhkan sajian tradisional Afrika seperti nkran dokono. Gerai lainnya, seperti restoran Afrika fusion Paul’s Kitchen, kopitiam Lan Fong Yuen, hingga semi-fine dining India Moti Palace, tak kalah menarik untuk disambangi.
Bagi yang tertarik menyelami lebih jauh kehidupan di Chungking Mansions, beberapa organisasi bahkan mengadakan tur. African Center Hong Kong, misalnya, menggelar Chungking Mansions Tour yang menyoroti kehidupan komunitas Afrika dan Asia Selatan di kompleks. Aktivis keturunan Tamil, Jeffrey Andrews, juga mengadakan tur serupa bertajuk Five Senses Tour @ Chungking Mansions melalui program Centre for Refugees dari organisasi nirlaba Christian Action.
Ritel Tiga Generasi
Jika dilihat dari penampilan dan pilihan gerainya, Chungking Mansions mungkin terkesan kuno. Namun, pengalaman ritelnya justru merangkul beberapa generasi. Menempati lantai satu dan dua kompleks, Cke atau Chungking Express dibuka pada 2003 dan hadir dengan jenama-jenama yang lebih baru.
Meski tak segelap dan sekusut podium ritel asli kompleks, Cke sendiri tergolong tua untuk standar era 2020-an. Tata letak dan interiornya sepintas mengingatkan pada mal-mal senior seperti Senayan Trade Center atau Lippo Mall Nusantara di era Plaza Semanggi. Meski demikian, berbagai produk dengan harga bersaing tersedia di sini, dari perlengkapan dapur dan elektronik hingga daster Gucci.

Baca juga: REXKL, Wadah Komunitas dan Gaya Hidup di Kuala Lumpur
Pada 2022, sebuah destinasi gaya hidup baru lahir sebagai respons atas kebutuhan generasi milenial dan Z. Bersemayam di basemen kompleks, Heath menjadi titik pertemuan pengalaman kuliner, budaya, dan belanja yang lebih modern. Kurasi tenant-nya lebih kekinian; sebagian bahkan masuk kategori “yang tahu-tahu saja” di kalangan generasi muda Hong Kong. Heath juga rutin menggelar beragam acara, dari ekshibisi seni hingga garage sale.
Dengan segala keunikan dan kekurangannya, Chungking Mansions memang bukan destinasi yang paling bergengsi. Masa lalunya diwarnai fragmen kehidupan yang tak selalu indah. Namun, di balik tembok tersebut, tersimpan lebih banyak kisah dari mereka yang datang dari berbagai belahan dunia. Kisah-kisah yang terasa semakin menarik untuk dinikmati bersama sepiring fufu, secangkir kopi, dan mungkin sedikit aroma dupa.—Rachman Karim
Acara kuliner menarik persembahan The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. 1-2 Ags
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul