Acara edisi terbatas pada 28-29 Oktober memadukan racikan teh, kuliner, dan tradisi.

Sejatinya, teh sudah akrab dengan keseharian keluarga saya. Ayah menyukai teh poci Jawa yang lekat dengan istilah “nasgitel”—panas, legi atau manis, dan kental. Sementara itu, saya dan ibu memiliki selera yang kurang lebih serupa: tieguanyin dan pu’erh. Bagi kami, teh bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari ritual kecil yang menemani percakapan dan jeda di tengah kesibukan.

Namun, beberapa waktu silam, saya mendapat kesempatan untuk menyelami perspektif baru tentang tanaman aromatik ini melalui seduhan pilihan TWG Tea. Bertajuk The Tea Traveller Series: White Tea, acara tersebut berlangsung pada 7 Oktober 2026 di gerai TWG Tea Pacific Place, Jakarta. Sesuai namanya, sesi apresiasi ini menempatkan teh putih sebagai sorotan utama, memperkenalkan karakter dan kompleksitasnya lewat pengalaman yang lebih personal.

Lebih dari sekadar mencicipi teh, para tamu diajak menikmati menu set yang dipasangkan dengan beberapa varian pilihan. Momen ini sekaligus menandai debut film pendek White Tea, yang merangkum perjalanan teh putih sejak pucuknya dipanen pada awal musim semi hingga menjadi seduhan istimewa.

Baca juga: Dari Lintasan ke Meja Makan: Ritual Baru Masyarakat Urban Jakarta

Sebelum acara dimulai, saya sempat berbincang ringan dengan Romain Mendez, Senior Brand Experience Trainer di TWG Tea Institute. Datang langsung dari Singapura, Romain bertugas memandu sesi apresiasi tersebut.

“What kind of tea do you like?” tanyanya.

“I enjoy pu’erh and oolong,” jawab saya.

twg tea
Romain Mendez, Senior Brand Experience di TWG Tea Institue.

Romain menjelaskan bahwa sesi ini dirancang untuk memperkenalkan teh putih dan beragam variannya dalam koleksi TWG Tea. Berbeda dari teh hitam, teh putih melalui proses pengolahan yang relatif minimal. Pucuk mudanya dipanen pada awal fase pertumbuhan, lalu dikeringkan secara hati-hati tanpa proses oksidasi intensif maupun penyangraian.

Namanya merujuk pada pucuk muda berwarna keperakan yang menjadi ciri khasnya, sementara seduhannya cenderung berwarna pucat. Di antara berbagai jenis teh, teh putih dikenal sebagai varietas bernilai tinggi yang belum banyak dieksplorasi oleh penikmat teh awam. Dalam sejarahnya, teh putih tertentu bahkan pernah menjadi komoditas eksklusif yang dinikmati kalangan kekaisaran Tiongkok.

Baca juga: Chongqing, Kota Delapan Dimensi

Di ruang utama, saya diajak mengeksplorasi deretan teh yang tertata di atas meja. TWG Tea mengolah yinzhen, yang juga dikenal sebagai silver needle, menjadi berbagai blend dengan karakter tersendiri. Perpaduan bunga dan bahan aromatik lainnya menghadirkan kompleksitas rasa di luar profil alami teh. Dari 37 pilihan dalam koleksi teh putih TWG Tea, sesi ini memperkenalkan empat varian terpilih.

twg tea
White Night Jasmine Tea, salah satu varian teh putih unggul dari TWG Tea.
twg tea
Partisipan dapat membuat catatan tentang setiap varian teh yang dicoba.

Siang itu dibuka dengan White Night Jasmine Tea, seduhan yinzhen yang dipadukan bunga melati. Berbeda dari teh melati yang umum saya kenal, karakter seduhannya terasa ringan, dengan aroma white floral yang lembut dan sedikit nuansa hijau menyerupai dedaunan segar.

Berikutnya, First Kiss hadir sebagai blooming tea, perpaduan teh putih, hibiskus, dan bunga amaranth. Warna seduhan merah muda serta bunga yang merekah di dalam teko menghadirkan daya tarik visual tersendiri. Teh ini disajikan bersama scone hangat, krim kocok, dan jeli TWG Tea yang menyegarkan.

Memasuki hidangan utama, Chicken Soubise tersaji dengan daging ayam yang juicy dan saus soubise beraroma harum dengan sentuhan manis. Sajian ini dilengkapi nasi putih bertabur furikake berbahan genmaicha. Pasangannya, Longevity Tea, memiliki konsentrasi pucuk perak lebih tinggi. Teksturnya tetap lembut di lidah, meski aromanya terasa lebih intens.

twg tea
Chicken Soubise.

Pengalaman bersantap ditutup dengan White Tea Sky, perpaduan teh putih dan bunga kenanga yang menawarkan karakter floral manis nan segar. Seduhan ini menemani kue mousse Jasmine Queen Tea dan es krim White Night Jasmine Tea. Sebagai penutup interaktif, para tamu juga berkesempatan meracik es teh sendiri menggunakan pilihan Tea Teddies yang disajikan dalam gelas kertas emas khas TWG Tea.

Pengalaman ini bukan sekadar perjalanan bersantap eksklusif, melainkan pengingat bahwa secangkir teh menyimpan kisah panjang tentang alam, tradisi, dan keterampilan meracik rasa. Bagi yang ingin mengenal lebih jauh karakter teh putih, The Tea Traveller Series: White Tea akan dibuka untuk umum pada 28–29 Oktober 2026 di gerai TWG Tea Pacific Place. Informasi dan pemesanan tersedia melalui Goers.—Rachman Karim

Calendar of Events

The Bimasena Wellness Week

Menggabungkan kebugaran, pemulihan tubuh, mindfulness, dan interaksi komunitas. 12-18 Okt 2026

Ubud Writers & Readers Festival 2026

Festival sastra tahunan ini menghadirkan lebih dari 100 sesi. 21-25 Okt 2026

PESTAPORA 2026

Festival musik antargenerasi dengan lebih dari 80 penampil. 25-27 Sep 2026.

See More