Contrast Therapy: Manfaat, Risiko, dan Cara Melakukannya dengan Aman
Mengenal lebih jauh terapi panas dan dingin.
Sabtu pagi di Jakarta kini punya pemandangan yang semakin familiar. Jalanan dipenuhi pelari dengan jersey komunitas, pesepeda bergerombol menuju rute favorit, sementara studio pilates dan lapangan padel mulai ramai sejak pagi. Setelah berolahraga, sebagian melanjutkan pagi dengan secangkir kopi, teh, atau sarapan bersama.
Olahraga memang menjadi aktivitas utama, tetapi pertemuan sosial acap kali menjadi bagian yang tak kalah penting. Bagi masyarakat urban dengan waktu yang semakin terbatas, olahraga menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kesehatan: sebuah ruang untuk bertemu, berbagi, dan membangun koneksi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Sosial Budaya 2025 menunjukkan bahwa DKI Jakarta memiliki persentase tertinggi penduduk usia lima tahun ke atas yang berolahraga dalam seminggu terakhir, yakni 57,27 persen. Sementara itu, survei Populix menunjukkan hampir 67 persen masyarakat yang menikmati olahraga memilih aktivitas lari atau joging.
Angka tersebut memperlihatkan bagaimana olahraga semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Namun, di balik popularitasnya, ada perubahan lain yang menarik untuk dilihat: cara masyarakat membangun hubungan sosial.
Olahraga sebagai Ruang Sosial
Menurut Kasyfiyullah, dosen dan pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, olahraga tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga konsumsi dan jejaring. Bagi pekerja dengan rutinitas nine-to-five, akhir pekan memiliki arti khusus sebagai waktu untuk sejenak keluar dari rutinitas.
Tingginya mobilitas masyarakat perkotaan membuat waktu semakin berharga. Karena itu, aktivitas yang mampu memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus menjadi semakin menarik. Olahraga dapat menjadi cara menjaga kesehatan sekaligus bertemu orang lain, mendapatkan informasi, hingga membangun jaringan.
“Olahraga itu membicarakan tentang konsumsi dan jejaring,” ujarnya.
Di sinilah olahraga mulai berfungsi sebagai third place atau ruang ketiga—tempat di luar rumah dan tempat kerja yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain. Komunitas lari, studio pilates, lapangan padel, hingga kelompok bersepeda menjadi ruang sosial baru bagi masyarakat urban.
Ruang tersebut bahkan tidak berhenti ketika sesi olahraga selesai. Interaksi dapat berlanjut melalui grup percakapan, media sosial, maupun pertemuan berikutnya.

Dari Pace ke Percakapan
Pengalaman tersebut dirasakan Renita, anggota USS Running Club. Ia mulai berlari setelah menyadari bahwa dirinya hampir setahun tidak berolahraga. Lari terlihat sebagai pilihan paling sederhana, meski menurutnya, “ternyata salah.”
Bersama komunitas, aktivitas yang awalnya hanya bertujuan untuk berolahraga berkembang menjadi ruang bertukar cerita. Mereka berbagi tips, menu latihan, target lomba, hingga berdiskusi mengenai pace dan daya tahan tubuh.
Setelah long run, pertemuan pun sering berlanjut dengan kopi dan obrolan santai. Dari rutinitas tersebut, Renita bahkan mendapatkan teman baik dan pernah memperoleh informasi mengenai peluang pekerjaan yang dianggap cocok untuknya.
“Ngopi, nongkrong santai atau sekadar ngobrol biasa. Karena memang sudah menjadi jadwal menu lari seminggu sekali itu long run plus ngopi setelah itu,” ungkapnya menjelaskan hobi barunya.
Cerita ini memperlihatkan bahwa komunitas olahraga dapat berkembang menjadi jaringan sosial yang lebih luas. Pertemanan, informasi, bahkan peluang profesional dapat muncul dari sebuah aktivitas yang awalnya sederhana—sebuah alasan baru mengapa olahraga urban kini bukan hanya tentang bergerak, tetapi juga tentang menemukan koneksi.
Babak Kedua Setelah Berolahraga
Perubahan ini turut menciptakan pola baru dalam menikmati waktu luang. Setelah berolahraga, kafe, kedai teh, atau tempat makan menjadi perpanjangan dari ruang komunitas. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana gaya hidup urban semakin terhubung dalam satu rangkaian: berolahraga, bersosialisasi, kemudian makan atau minum bersama. Chagee dan Paris Baguette, misalnya, dapat menjadi bagian dari pilihan tempat untuk melanjutkan pertemuan setelah aktivitas.

Teknologi ikut memperkuat ekosistem tersebut. Smartwatch membantu mencatat aktivitas dan performa, sementara ponsel pintar digunakan untuk mencari rute, bergabung dalam komunitas, berbagi pencapaian, hingga mengatur pertemuan berikutnya. Media sosial kemudian memperluas ruang fisik tersebut menjadi jaringan yang lebih besar.
Kasyfiyullah melihat teknologi dan media sosial sebagai bagian dari cara masyarakat urban membangun ruang sosialnya. Bentuknya dapat berubah mengikuti zaman, tetapi kebutuhan untuk terhubung tetap ada.
“Media sosial dan teknologi lah yang mendorong munculnya tren olahraga dan membentuk itu semua di masyarakat urban,” tuturnya.
Dari Teknologi ke Gaya Hidup
Perubahan tersebut menarik jika dilihat dalam perjalanan industri selama beberapa dekade terakhir. Teknologi yang dahulu lebih banyak hadir sebagai perangkat personal kini semakin menyatu dengan aktivitas sehari-hari, termasuk olahraga dan gaya hidup aktif.
Dalam konteks 30 Tahun Erajaya Group, perubahan ini menunjukkan bagaimana ekosistem teknologi dan lifestyle bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat. Kehadiran perangkat teknologi, pengalaman active lifestyle, hingga aktivitas komunitas memperlihatkan bahwa konsumen tidak lagi melihat produk secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari keseharian.
Program seperti URmazing Run 2026 dan aktivitas yang membawa ekosistem teknologi ke lapangan padel menjadi contoh bagaimana olahraga juga dapat menjadi titik temu antara teknologi, komunitas, dan gaya hidup.
Pada akhirnya, popularitas lari, pilates, padel, atau bersepeda mungkin akan terus berganti. Namun, kebutuhan di baliknya cenderung tetap sama: masyarakat urban membutuhkan ruang untuk bergerak sekaligus sesuatu untuk saling terhubung.—Monika Febriana