Hotel Review – The Meru Sanur
Harmoni desain tropis dan layanan personal di destinasi klasik Bali.
Berbeda generasi, berbeda pula cara memaknai liburan. Jika generasi sebelumnya menjadikan perjalanan sebagai kesempatan untuk melepas penat, generasi Z kerap mencari pengalaman yang layak dikenang sekaligus dibagikan. Tumbuh bersama internet dan media sosial, mereka kini menjadi salah satu kelompok yang paling memengaruhi arah tren perjalanan global. Data Skyscanner yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa 43% responden masih memprioritaskan destinasi yang atraktif untuk dibagikan ke Instagram. Meski demikian, visual yang menarik bukan lagi satu-satunya tujuan. Pengalaman yang autentik tetap menjadi pertimbangan utama dalam memilih destinasi maupun akomodasi.
Di Singapura, sebuah hotel butik menjawab perubahan tersebut melalui pendekatan yang berbeda. Dibuka pada September 2025, Mama Shelter Singapore menjadi properti pertama jenama Mama Shelter di Asia. Hotel ini bersemayam di Killiney Road, kawasan yang mempertemukan deretan ruko bergaya Peranakan dengan wajah modern Orchard Road yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki. Sejalan dengan DNA jenamanya, Mama Shelter dirancang bukan sekadar sebagai tempat menginap, melainkan ruang sosial tempat musik, percakapan, desain, dan kuliner bertemu dalam suasana yang santai sekaligus ekspresif.

Hotel ini menaungi 115 kamar yang terbagi ke dalam tiga kategori. Narasi visualnya dirancang oleh Dion & Arles, firma desain yang juga berada di balik sejumlah properti Mama Shelter di Paris, London, dan kota-kota lain. Budaya Peranakan menjadi sumber inspirasi utama, diterjemahkan ke dalam pendekatan yang lebih kontemporer melalui permainan warna, pola, dan detail dekoratif yang berani. Di sisi lain, karakter-karakter Looney Tunes muncul sebagai elemen kejutan yang menghadirkan nuansa ceria tanpa mengorbankan gaya.
Meski ukuran kamarnya tidak menjadi keunggulan utama, setiap unit tetap dirancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan modern. TV pintar dengan koleksi film gratis menjadi teman beristirahat setelah menjelajahi Singapura, sementara koneksi internet berkecepatan tinggi memastikan tamu tetap terhubung, baik untuk bekerja maupun berbagi momen perjalanan. Di kamar mandi, rangkaian produk perawatan tubuh Ink & Water menghadirkan formulasi yang ringan sekaligus ramah lingkungan. Beberapa tipe kamar bahkan dilengkapi tempat tidur tingkat dan balkon privat, menjadikannya pilihan menarik bagi keluarga kecil maupun rombongan sahabat.

Soal kuliner, Executive Chef Eugene Chan menghadirkan perpaduan resep-resep lokal dan hidangan internasional ke seluruh gerai kuliner hotel. Di lantai dasar, Mama Restaurant mengusung konsep brasserie dengan interpretasi yang lebih berani dan penuh karakter, sesuai identitas Mama Shelter yang dikenal nyentrik. Tak jauh dari sana, Island Bar meracik koktail dengan kombinasi rasa yang unik dan tidak biasa. Sementara itu, rooftop pool lengkap dengan bar dan hidangan Mediterania menjadi tempat ideal menikmati sore, ketika matahari mulai turun dan langit Singapura perlahan berubah warna.
Keseruan tidak berhenti di situ. Mama Shelter Singapore juga menyediakan berbagai gim arkade dan permainan papan yang menghidupkan kembali tradisi bermain bersama di tengah era layar sentuh. Fasilitas-fasilitas tersebut bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menciptakan ruang bagi para tamu untuk berinteraksi secara spontan. Sebelum pulang, jangan lewatkan Mama Shop di lantai dasar yang menjual koleksi pakaian, aksesori, hingga parfum khas Mama, Ambiance, untuk oleh-oleh.
110 Killiney Road, Singapura; mamashelter.com/singapore.—Rachman Karim
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul