Kenapa Anda Harus ke Bhutan (Setidaknya Sekali Seumur Hidup)?
Alasan valid kenapa Bhutan wajib jadi destinasi petualangan Anda selanjutnya.
Bicara soal cuaca, panasnya Jakarta tentu bukan lagi rahasia. Namun di balik rasa gerah yang akrab dirasakan warga ibu kota, tersembunyi ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Paparan sinar ultraviolet dapat meningkatkan risiko beragam gangguan, mulai dari katarak hingga kanker kulit. Data WeatherBox bahkan mencatat indeks UV Jakarta sempat menyentuh angka 9,6 pada 2025. Kategori ini sangat tinggi dan menuntut perlindungan ekstra saat beraktivitas di luar ruang.
Berangkat dari realitas tersebut, UNIQLO menghadirkan UV Protection Wear, koleksi pakaian anti UV yang dirancang untuk membantu melindungi tubuh dari paparan sinar matahari tanpa mengorbankan kenyamanan. Beberapa waktu lalu, jenama asal Jepang itu menggandeng SANA Kenal Kota melalui program The Everyday UV Journey: Discovering Jakarta’s Hidden Gems Under The Sun. Melalui perjalanan ini, sejumlah media diajak menjelajahi Kota Tua dan Glodok sambil merasakan langsung performa koleksi tersebut di bawah terik matahari Jakarta.
Proteksi dalam Gaya
UNIQLO selama ini dikenal lewat desain yang minimalis, material inovatif, dan siluet yang mudah dipadukan untuk berbagai kesempatan. Pada lini UV Protection Wear, pendekatan tersebut diperkaya dengan teknologi perlindungan sinar ultraviolet hingga UPF 50+, menjadikannya pilihan praktis untuk aktivitas luar ruang, mulai dari berjalan kaki di kota hingga berolahraga.
Menariknya, fungsi proteksi tidak mengorbankan kenyamanan. Sejumlah produknya dibekali teknologi cool-to-the-touch yang memberikan sensasi sejuk saat bersentuhan dengan kulit. Material seperti AIRism dan DRY-EX membuat pakaian tetap terasa ringan, cepat menyerap kelembapan, dan nyaman dikenakan meski cuaca sedang terik.

Baca juga: TFL Selects: 5 Light Down Jacket Praktis dan Nyaman
Koleksinya terdiri atas sebelas produk, termasuk Jaket Ultra Stretch AIRism, hoodie ritsleting DRY-EX, serta kardigan ringan. UNIQLO juga melengkapinya dengan aksesori seperti reversible bucket hat, topi 2WAY Stretch, kacamata hitam berlensa UV400 yang mampu menyaring hingga 99% sinar ultraviolet, serta payung lipat yang sama andalnya saat menghadapi panas maupun hujan.
Menjelajah Jakarta dari Atas Bus
Eksplorasi Jakarta kali ini turut menggandeng Open Top Tour, layanan bus wisata milik TransJakarta. Pagi itu, Sarinah menjadi titik awal perjalanan. Mengenakan koleksi UV Protection Wear, kami naik ke dek terbuka bus tingkat yang perlahan menyusuri jalan-jalan utama ibu kota—cara yang tepat untuk menguji kenyamanan pakaian di bawah sinar matahari secara langsung.

Sepanjang perjalanan menuju Kota Tua, Abimantra Pradhana, arsitek sekaligus pendiri SANA Kenal Kota, membagikan kisah-kisah yang kerap terlewat dari wajah Jakarta. Menteng, yang dahulu bernama Weltevreden, diperkenalkan sebagai kawasan hunian elite bentukan pemerintah Hindia Belanda, sementara Jalan Jenderal Sudirman dijelaskan sebagai salah satu proyek monumental Presiden Soekarno yang membentuk wajah Jakarta modern.
“Inilah sebabnya gedung-gedung tinggi terkonsentrasi di jalan ini,” ujar Abi.
Kami juga melintasi kawasan Duta Harmoni yang dahulu menjadi lokasi Hotel des Indes, hotel mewah pertama di Batavia. Di seberangnya berdiri bekas Hotel des Galeries, yang konon lahir dari kisah seorang saudagar Arab yang ditolak menginap di des Indes sebelum akhirnya membangun hotel tandingan yang tak kalah megah.

Semakin mendekati Glodok, sengatan matahari terasa semakin kuat. Namun jaket AIRism tetap terasa ringan dan sejuk, sementara kacamata UV400 membantu meredam silau yang memantul dari jalanan ibu kota.
Menyusuri Fragmen Sejarah
Bus berhenti di depan Toko Merah, bangunan ikonis yang berdiri sejak 1730. Dari sini, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menuju kawasan Kota Tua. Sambil menyusuri pelataran Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Indonesia, hingga Stasiun Jakarta Kota atau Beos, Abi mengajak kami melihat kawasan ini bukan sekadar sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai saksi perjalanan panjang Jakarta.
Rute kemudian berlanjut ke Glodok melalui Jalan Pintu Besar Selatan. Di bawah deretan ruko bergaya kolonial, trotoarnya terasa teduh meski masih dipenuhi jongko pedagang kaki lima. Beberapa bangunan yang menyisakan bekas kebakaran di tubuhnya menjadi pengingat bisu tragedi 1998 yang pernah membekas di kawasan ini.

Gang Gloria menjadi pemberhentian berikutnya. Koridor kuliner legendaris ini dihuni nama-nama yang telah lama menjadi favorit warga Jakarta, mulai dari Soto Afung, Mi Kangkung Si Jangkung, Kari Lam, hingga Es Kopi Tak Kie. Di Jalan Pancoran, Little Salt Bread menghadirkan warna baru dengan antrean yang sudah mengular sejak pagi.
Perjalanan berlanjut ke Gang Kalimati, tempat pasar tradisional Glodok masih berdenyut setiap hari. Di sela kios buah, perlengkapan sembahyang, dan jajanan pasar, berdiri Lao Hoe yang telah menjual Laksa Bogor selama lebih dari empat dekade. Tak jauh darinya, LIT Bakehouse menawarkan kontras lewat pastri artisanal bergaya modern.
Baca juga: 5 Rumah Ibadah Ikonis di Jakarta
Menjelang akhir perjalanan, kami sempat melihat Vihara Dharma Jaya atau Toa Se Bio yang diperkirakan berdiri sejak pertengahan abad ke-18, sebelum kemudian melintasi Gereja Santa Maria de Fatima yang menampilkan perpaduan arsitektur Tionghoa dan Katolik. Di titik inilah kisah mengenai komunitas Tionghoa Indonesia kembali mengemuka—tentang luka sejarah, ketangguhan, dan bagaimana sebuah komunitas membangun kembali kehidupannya.

Selepas seharian berada di bawah matahari, kami menguji efektivitas UV Protection Wear menggunakan kartu tes UV. Area yang terlindungi menunjukkan perubahan warna yang jauh lebih terang dibanding area terbuka, memperlihatkan kemampuan material dalam membantu mengurangi paparan sinar ultraviolet.
Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar memperkenalkan koleksi terbaru UNIQLO. Menyusuri Kota Tua dan Glodok menjadi pengingat bahwa sebuah kota selalu menyimpan cerita di balik fasad-fasad lamanya. Dan dengan perlindungan yang tepat, menikmati sejarah sambil berjalan kaki di bawah matahari Jakarta pun terasa jauh lebih nyaman.—Rachman Karim