Travel 101: Jepang
Hal-hal yang perlu diketahui sebelum pergi ke Jepang.
Sebelas tahun silam, dunia perhotelan Indonesia menorehkan sejarah dengan menyambut pembukaan Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve. Resor mewah ini menjadi properti Ritz-Carlton Reserve kedua di dunia—sebuah koleksi hotel ultra luxury yang hingga kini hanya berjumlah sembilan properti secara global. Di tengah menjamurnya hotel mewah di Bali, status tersebut menjadikan Mandapa sebagai destinasi yang memiliki tempat tersendiri di peta perhotelan dunia.
Saya berkunjung ke sana pada akhir Mei 2026. Ini bukan kunjungan pertama—dan tentu saja bukan yang terakhir—ke Mandapa. Setelah beberapa kali bertandang untuk menikmati tawaran kulinernya, kali ini saya datang untuk menginap, mencari jeda dari notifikasi tanpa henti dan tenggat waktu pekerjaan yang seolah tak pernah benar-benar selesai.



Properti ini bersemayam sekitar 15 menit berkendara dari pusat Ubud. Jalan masuknya nyaris tak mencolok, tersembunyi di samping sebuah ruko di Desa Kedewatan. Namun begitu melewati gerbang utama dan tiba di lobi, lanskap berubah drastis. Hamparan lembah hijau seketika mengambil alih perhatian. Area penerimaan tamunya berada di titik tertinggi resor, sekitar 60 meter di atas sungai, menghadirkan salah satu panorama paling dramatis di Ubud. Di sinilah bersemayam Ambar Ubud, bar yang belakangan menjadi salah satu alamat favorit penikmat senja dan koktail di kawasan tersebut.
Tanpa berlama-lama, saya diantar menuju kamar oleh seorang Patih—sebutan khas Mandapa untuk butler pribadi. Saya menginap di Mandapa Suite seluas 145 meter persegi. Secara keseluruhan, resor ini menaungi 35 suite dan 25 vila dengan kolam renang privat. Ukuran kamarnya termasuk yang paling lapang di Bali, dimulai dari 100 meter persegi. Setiap unit dilengkapi balkon privat yang menghadap lanskap hijau Ubud, menghadirkan kemewahan yang terasa hening alih-alih berlebihan.
Baca juga: Debut MICHELIN Key, 33 Hotel di Indonesia Raih Penghargaan


Dirancang sebagai suaka untuk merilekskan pikiran, tubuh, dan jiwa, Mandapa menawarkan rangkaian program spiritual, wellness, dan kesehatan yang disesuaikan secara personal. Pilihan aktivitasnya pun merangkul berbagai usia, termasuk Mandapa Camp untuk tamu keluarga, semuanya dipadukan dengan layanan personal dari para Patih yang siap mengantisipasi kebutuhan tamu bahkan sebelum diminta.
Berporos pada tiga pilar utama—wellness, gastronomi, dan keberlanjutan—Mandapa menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menginap. Di sini, kemewahan tidak diterjemahkan melalui kemegahan semata, melainkan lewat kesempatan untuk melambat, kembali terhubung dengan alam, dan sesekali mengingatkan bahwa kemewahan terbesar di era modern mungkin adalah memiliki waktu untuk benar-benar beristirahat.
Saya memulai pengalaman menginap dengan mengikuti Gong Bath Therapy di Yoga Pavilion. Saya dan pasangan datang tanpa ekspektasi apa pun. Ternyata, sesi ini merupakan terapi suara yang menggunakan instrumen menyerupai gong untuk menciptakan resonansi yang menenangkan tubuh dan pikiran. Diawali dengan meditasi singkat, posisi tubuh berubah terlentang dan pemandu mulai memainkan instrumen-instrumen tersebut, menghasilkan gelombang suara yang perlahan membius kesadaran. Tak sedikit peserta yang tertidur, termasuk kami. Selama 60 menit, waktu seolah berjalan cepat. Ketika terbangun, tubuh terasa lebih ringan dan pikiran terasa jernih—kemewahan yang semakin langka di tengah kehidupan modern yang serbaterhubung.
Baca juga: 5 Bar Asia Tampil di Spirits of the Ubud Jungle, Ambar Ubud Bar

Usai bermeditasi, kami kembali ke kamar untuk bersiap menikmati senja. Tepat pukul 18.00 WITA, kami tiba di Ambar Ubud Bar. Di luar dugaan, suasananya cukup ramai. Saya bisa dibilang mengikuti perkembangan bar ini sejak masih berfungsi layaknya bar hotel yang hanya melayani tamu menginap hingga menjelma menjadi salah satu destinasi koktail paling diburu di Ubud. Kuncinya sederhana: konsistensi. Baik dalam inovasi, kualitas racikan, maupun pelayanan. Di tengah menjamurnya bar baru di Bali, konsistensi sering kali menjadi kemewahan tersendiri.


Selepas menikmati koktail, kami bergeser ke Sawah Terrace untuk makan malam. Restoran ini menyajikan hidangan khas Bali dan Indonesia yang dapat dinikmati sembari menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali. Suasananya terasa intim dan hening, khas sebuah penginapan ultra-luks yang memahami seni menjamu tamu. Duduk di sana, dengan suara gamelan mengalun lembut dan lembah Ayung yang menggelap di kejauhan, saya sempat merasa seperti kembali menjadi turis—sesuatu yang tanpa disadari mulai jarang dirasakan setelah dua tahun menetap di Pulau Dewata.
Hari kedua dimulai dengan bermalas-malasan. Matras empuk seolah masih mendekap saya, membuat saya enggan meninggalkannya. Namun, perut sudah keroncongan. Saya pun menuju Sawah Terrace untuk sarapan. Di bawah cahaya pagi, suasananya terasa berbeda. Hamparan hijau lembah menjadi latar, sementara gemericik Sungai Ayung mengisi udara. Sesekali terdengar sorak para penikmat arung jeram yang melintas—pengingat bahwa Ubud kini tak pernah benar-benar diam.
Menu sarapannya cukup ekstensif, memadukan pilihan prasmanan dengan hidangan à la carte yang dapat dinikmati sepuasnya. Mungkin Anda pun setuju, salah satu kesenangan sederhana saat menginap di resor mewah adalah sarapan yang baik. Dan di Mandapa, ritual pagi ini sama sekali tidak mengecewakan.
Usai sarapan, jadwal Tapa Samadhi di Yoga Pavilion menanti. Bertepatan dengan World Meditation Day, saya diajak mengikuti sesi yang mengawinkan praktik spiritual dengan pendekatan wellness modern. Lewat latihan pernapasan terarah, instruktur membimbing kami untuk menenangkan pikiran dan melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar.
Meditasi ini merupakan bagian dari Disconnect to Reconnect, kampanye wellness yang diluncurkan Mandapa awal tahun ini. Berakar pada kearifan penyembuhan Ubud dan budaya Bali, program ini mengajak tamu membangun kembali hubungan dengan alam, diri sendiri, dan lingkungan sekitar melalui pendekatan yang holistik.
Baca juga: Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve Rayakan Earth Day 2026

Rangkaian aktivitasnya dikurasi secara saksama oleh tim wellness resor. Mulai dari Watsu yang memadukan terapi air dan shiatsu, terapi tidur, Homa Yajna—ritual api penyembuhan dari tradisi Weda—hingga melukat dan sesi bersama Ibu Ketut Mursi, penyembuh tuna netra yang dikenal akan intuisi mendalamnya. Seluruh pengalaman ini dapat dinikmati tamu resor dengan reservasi terlebih dahulu. Cukup minta bantuan Patih untuk menyusun jadwal Disconnect to Reconnect yang sesuai dengan kebutuhan.
Kolam renang utama Mandapa cukup menggoda untuk direnangi. Walau tak terlalu lebar, panjangnya memadai untuk membakar kalori. Apalagi, kolam ini dirancang menghadap Sungai Ayung dan persawahan resor yang hijau membentang. Tamu yang menghabiskan waktu di sini juga akan dimanjakan dengan kukis, buah segar, dan kelapa muda secara cuma-cuma—sebuah gestur kecil yang terasa personal dan menyenangkan.


Namun, bila perut mulai meminta diisi, The Pool Bar di sisi kolam menawarkan pilihan makan siang yang layak dicoba. Opsi pastanya cukup memuaskan, sementara burger menjadi santapan ringan yang menggugah selera, lengkap dengan kentang goreng renyah yang nikmat disantap sembari memandangi lanskap Ubud yang menenangkan.
Salah satu agenda yang paling saya nantikan di hari kedua adalah makan malam di Kubu. Berbeda dengan Sawah Terrace, restoran ini mengusung pendekatan yang lebih modern layaknya sebuah fine dining. Berlokasi tepat di tepi Sungai Ayung, Kubu menghadirkan suasana makan malam temaram di dalam kepompong bambu yang ikonis—romantis, intim, dan terasa nyaris sinematik.
Menu di Kubu digarap oleh Executive Sous Chef Eka Sunarya. Berangkat dari filosofi keberlanjutan dan zero waste, bahan-bahan yang digunakan berasal dari radius 100 kilometer. Ikan dan lobster didatangkan dari Jimbaran, kepiting dari Serangan, kacang dari Payangan, babi dari Tabanan, dan daging sapi dari Banyuwangi. Tiap hidangan hadir dengan cerita dan karakter tersendiri: nikmat di lidah, berkesan di hati. Sesi makan malam diakhiri dengan hidangan penutup berbahan madu Kintamani, sementara pilihan wine dan minuman fermentasi racikan tim kuliner melengkapi pengalaman. Pada akhirnya, Kubu mengingatkan bahwa santapan terbaik bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang tempat, cerita, dan kenangan yang dibawa pulang.
Baca juga: Pendekatan Kuliner yang Digemari Hotel-Hotel di Indonesia
Hari terakhir saya di Mandapa ditutup dengan sesi pijat di Mandapa Spa. Jantung dari aktivitas kebugaran resor ini berdiri tak jauh dari Kubu. Bersemayam di tepi sungai, spa ini ditemani simfoni alam yang nyaris tak pernah berhenti seperti gemericik Sungai Ayung, desir angin, dan sesekali nyanyian burung dari balik pepohonan. Ruang pijatnya terasa privat dan modern, tetapi tetap menyisakan sentuhan kehangatan khas Bali.

Mepijet menjadi teknik pijat yang kami pilih. Perawatan khas Mandapa ini dirancang untuk menyasar otot-otot yang tegang, ideal bagi mereka yang baru kembali dari perjalanan panjang atau rutinitas yang padat. Dengan tekanan yang cukup kuat, terapi ini memadukan gerakan memanjang, memijat, dan meregangkan otot, diperkaya teknik akupresur untuk melepaskan ketegangan yang tersimpan di tubuh. Selepas 90 menit, tubuh terasa lebih ringan, sementara pikiran seolah mendapat kesempatan untuk bernapas kembali.
Bagi yang ingin memperpanjang ritual relaksasi, Mandapa Spa juga dilengkapi dengan fasilitas sauna, ruang uap, dan kolam bertekanan yang dapat dinikmati sebelum maupun sesudah perawatan. Dengan latar suara Sungai Ayung dan suasana yang hening, area ini terasa layaknya sebuah suaka kecil untuk berdiam sejenak, tempat di mana tubuh dipulihkan perlahan, sementara pikiran diberi ruang untuk kembali tenang.


Ketika tiba saatnya meninggalkan Mandapa, saya menyadari bahwa daya tarik resor ini tak semata terletak pada akomodasi yang lapang atau lanskap lembahnya yang memesona. Ada sesuatu yang lebih subtil: kemampuannya membuat tamu rileks dan kembali hadir sepenuhnya. Di era ketika kemewahan kerap diukur lewat kecepatan dan akses tanpa batas, Mandapa justru menawarkan kemewahan yang semakin langka berupa keheningan, ruang untuk bernapas, dan kesempatan untuk terhubung kembali dengan diri sendiri. Dan mungkin, itulah alasan mengapa Mandapa bukan sekadar tempat untuk menginap, melainkan tempat untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia.—Yohanes Sandy