Jepang Siap Buka Perbatasan Lebar-Lebar
Mulai Oktober nanti, turis mancanegara dapat mengunjungi Jepang tanpa persyaratan yang rumit.
Selain Jakarta, Bali telah lama memegang posisi penting dalam lanskap kuliner Indonesia. Pulau ini bukan hanya destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga salah satu pasar gastronomi paling dinamis di kawasan Asia Tenggara. Namun, meski reputasinya terus berkembang, masih relatif jarang hadir sebuah ajang yang mempertemukan produsen wine alias anggur internasional dengan pelaku industri F&B lokal dalam satu ruang yang sama.
Kesempatan tersebut hadir pada 18 Mei 2026 melalui gelaran tur anggur Italia yang dibawa oleh Gambero Rosso di Paradisus by Meliá Bali. Dikenal sebagai salah satu otoritas kuliner dan anggur paling berpengaruh di Italia, Gambero Rosso menghadirkan sejumlah produsen ternama untuk memperkenalkan label-label unggulan mereka kepada pasar Indonesia, khususnya Bali yang terus berkembang sebagai destinasi kuliner dan gaya hidup premium.
Ratusan label anggur diperkenalkan dalam acara yang dihadiri para pemilik restoran, koki, sommelier, distributor, hingga pelaku bisnis F&B. Di sepanjang sesi pencicipan, para tamu berkesempatan menjelajahi beragam karakter anggur Italia sambil berdiskusi langsung dengan para produsennya. Format ini menghadirkan pengalaman yang jauh lebih personal dibandingkan sekadar mencicipi anggur di restoran atau toko khusus.
Pengalaman tersebut turut didukung oleh perlengkapan profesional dari Pulltex, mulai dari pembuka botol hingga spittoon. Detail-detail seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi bagi dunia perangguran, cara penyajian dan pencicipan yang tepat merupakan bagian penting dari keseluruhan pengalaman.

Indonesia sendiri masih berada pada tahap awal sebagai pasar anggur dunia. Nilai impornya tercatat sekitar US$18,6 juta pada 2024, dengan anggur Italia berada pada kisaran US$3,3 juta. Namun, meningkatnya jumlah wisatawan internasional dan berkembangnya budaya bersantap premium menjadikan Indonesia—terutama Bali—sebagai pasar yang semakin menarik bagi produsen global.
“Wine telah membuktikan bahwa ia tidak mengenal batas, dan negara-negara yang beberapa tahun lalu tampak enggan mengimpor wine kini menjadi pasar yang mulai dilirik oleh produsen Italia,” ujar Giuseppe Carrus, salah satu kritikus wine terkemuka Italia sekaligus kontributor panduan Vini d’Italia. “Bali adalah salah satunya. Wisatawan tentu berperan penting, tetapi melalui mereka, wine dapat menjadi produk yang semakin populer. Selain itu, agama mayoritas di Bali berbeda dengan sebagian besar wilayah Indonesia, memungkinkan konsumsi alkohol.”
Selain perdagangan dan jejaring bisnis, edukasi menjadi fokus utama dalam pengembangan budaya minum anggur. Pemahaman mengenai terroir, varietas anggur, hingga teknik pencicipan sering kali menjadi pintu masuk bagi konsumen untuk menemukan preferensi mereka sendiri. Untuk itu, Carrus turut membawakan tiga sesi Masterclass yang mengupas keragaman anggur Italia secara lebih mendalam.
Tak hanya itu, acara ini juga menjadi panggung bagi pengumuman Top Italian Restaurants, penghargaan yang menyoroti restoran-restoran terbaik di kawasan yang berhasil menghadirkan pengalaman kuliner Italia secara autentik. Dari pizzeria kasual hingga restoran fine dining, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antara makanan dan anggur selalu lebih dari sekadar pasangan di atas meja makan. Keduanya adalah bagian dari sebuah budaya yang terus berkembang.—Yohanes Sandy
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026