Ikon perhotelan Batavia ini pernah lebih glamor dari Raffles Singapore.

Foto utama: Leiden University

Mencari pengalaman menginap mewah di Jakarta bukanlah perkara sulit. Hari ini, ibu kota dipenuhi deretan hotel bintang lima dari berbagai merek global, mulai dari The Ritz-Carlton hingga The Langham. Namun, seabad silam, lanskap perhotelan di Jakarta jauh berbeda. Pada masa itu, ada satu nama yang identik dengan kemewahan, pesta, dan gaya hidup elite Batavia: Hotel des Indes.

Ganti Nama dan Rupa

Hotel des Indes berdiri di kawasan Molenvliet West, yang kini dikenal sebagai Jalan Gajah Mada. Kisahnya bermula pada 1829 ketika seorang pria Prancis bernama Surleon Antoine Chaulan membeli sebidang tanah di kawasan tersebut dan mendirikan penginapan bernama Hotel de Provence. Syahdan, penginapan papan atas ini merupakan sebuah penghormatan bagi Provence, daerah asal ayahnya.

hotel des indes
Hotel des Indes, masih merupakan persinggahan sederhana. Leiden University.
hotel des indes
Fasad Hotel des Indes di era 1930an dengan langgam Art Deco. Leiden University.

Menurut National Geographic Indonesia, sang kakak, Etienne Chaulan, mengambil alih hotel tersebut pada 1845. Sebelum akhirnya dibeli François Auguste Emile Wyss, seorang warga negara Swis yang juga ipar Etienne, hotel ini sempat berganti nama menjadi Hotel Rotterdam. Atas saran Eduard Douwes Dekker, properti tersebut kemudian resmi menyandang nama Hotel des Indes pada 1856, mengikuti gelombang Frankofilia yang sedang populer kala itu.

Wajah hotel turut berubah mengikuti zaman. Dari gaya Indische Empire yang mengingatkan pada rumah-rumah perkebunan Antebellum di Amerika Serikat, Hotel des Indes akhirnya mengadopsi langgam Art Deco pada era keemasannya di era 1930-an. Hal ini menjadikannya salah satu simbol kemodernan Batavia.

Baca juga: Hotel Unik di Kyoto Ini Dulunya Kantor Nintendo

Pionir Kuliner

Pada masanya, Hotel des Indes dipandang sebagai definisi kemewahan. Dalam sebuah tulisan di Aspek.id, hotel ini bahkan disebut sepuluh kali lebih mewah dibandingkan Raffles Singapore. Guruh Sukarnoputra pun pernah menulis lagu berjudul Nostalgia Hotel des Indes yang menggambarkan suasana pesta glamor di dalamnya.

hotel des indes
Restoran utama hotel, terkenal dengan rijstaffel-nya. Tropenmuseum.
hotel des indes
Salah satu kamar tamu di Hotel des Indes. Tropenmuseum.

Pengalaman bersantap menjadi salah satu daya tarik utama hotel ini. Tradisi rijsttafel—ritual makan panjang yang mempertemukan budaya kuliner Nusantara dan Eropa—disajikan dengan sangat teatrikal. Dilansir dari Pakansi, saat jam makan siang, 24 pelayan akan datang berbaris membawa berbagai hidangan Indonesia dan Eropa untuk dipilih para tamu. Sebuah pengalaman yang terasa lebih seperti pertunjukan sosial ketimbang sekadar makan siang.

Hotel des Indes juga disebut-sebut sebagai tempat pertama di Batavia yang menjual es krim ala Eropa dan menyajikan minuman dingin. Konon es krim dan minuman ringan yang kala itu masih dianggap barang mewah didatangkan langsung dari Amerika Serikat—sesuatu yang terasa penuh perjuangan bagi pengusaha perhotelan Batavia abad ke-19.

Pages: 1 2

Calendar of Events

Balinale 2026

Perayaan film global tahunan berkualifikasi Academy Awards. 1-7 Jun 2026

The Meru Eco Tourism Week 4th Edition

Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026

Art Jakarta Gardens 2026

Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026

See More