Hal-hal yang perlu diketahui sebelum berkunjung ke Kota Batik.

Foto utama: Fala Syam/Unsplash

Surakarta atau Solo tak hanya dikenal sebagai kampung halaman Joko Widodo maupun dinamika keratonnya. Sejak lama, kota ini menjadi salah satu poros budaya Jawa, berdampingan dengan Yogyakarta, sekaligus destinasi yang terus menemukan cara baru untuk tetap relevan di mata para pelancong. Pada penghujung Juli 2026, Solo meresmikan Tahir Solo Museum, museum sains dan ilmu pengetahuan yang sebelumnya bernama Museum Sains dan Teknologi. Kehadirannya langsung menyita perhatian berkat koleksi berskala internasional, termasuk fosil dinosaurus Omeisaurus yang didatangkan dari Museum Zigong, Tiongkok.

Di saat yang hampir bersamaan, Solo juga berusaha melestarikan Sekaten, tradisi tahunan Keraton Kasunanan Surakarta dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung hingga awal September 2026. Dua momentum ini memperlihatkan bagaimana Solo terus bergerak di antara pelestarian tradisi dan hadirnya ruang-ruang baru yang memperkaya pengalaman berwisata.

surakarta
Surakarta dikenal sebagai Kota Batik. Visual Karsa/Unsplash.

Mulai dari keraton yang masih aktif, kampung batik tertua di Indonesia, hingga deretan kuliner legendaris yang tak lekang oleh waktu, berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui sebelum menjelajahi Kota Batik.

Sejarah Singkat
Surakarta merupakan salah satu kota paling berpengaruh dalam sejarah Pulau Jawa. Nama resminya, Surakarta Hadiningrat, diberikan oleh Kerajaan Mataram Islam ketika pusat pemerintahan dipindahkan dari Kartasura ke Desa Sala pada abad ke-18. Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih terasa kuat, menjadikan Solo sebagai kota yang hidup berdampingan dengan masa lalunya.

Pemindahan itu tak lepas dari peristiwa Geger Pecinan pada 1742 yang menyebabkan Keraton Kartasura mengalami kerusakan akibat konflik antara pasukan Tionghoa, VOC, dan kerajaan. Atas perintah Pakubuwono II, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Desa Sala di tepi Bengawan Solo yang dianggap lebih strategis dan aman.

Pada 17 Februari 1745, Keraton Surakarta Hadiningrat mulai ditempati meski pembangunannya belum sepenuhnya rampung. Dari sinilah Desa Sala berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, sekaligus kebudayaan yang kemudian dikenal sebagai Kota Solo. Nama “Solo” sendiri dipercaya berasal dari penyebutan masyarakat terhadap Desa Sala yang perlahan berubah pelafalannya.

Destinasi Seni dan Budaya
Julukan Kota Budaya bukan sekadar slogan. Solo menawarkan pengalaman yang mempertemukan tradisi dengan kehidupan sehari-hari. Keraton Surakarta Hadiningrat masih aktif menjadi pusat kebudayaan Jawa, sementara Pura Mangkunegaran memikat lewat arsitektur megah dan agenda seni yang rutin digelar.

surakarta
Pura Mangkunegaran. Mangkunegaran.
surakarta
Salah satu sudut di Lokananta. BPPD Surakarta.

Bagi pencinta musik, Lokananta menjadi destinasi wajib. Studio rekaman pertama di Indonesia ini menyimpan ribuan arsip musik nasional, termasuk rekaman asli Bengawan Solo karya Gesang. Di sisi lain, Kampung Batik Laweyan mengajak pengunjung menyusuri gang-gang bersejarah yang dipenuhi rumah saudagar batik bergaya Indis, sekaligus menelusuri jejak penyebaran Islam di Kampung Santri Laweyan.

Pilihan lain adalah De Tjolomadoe (Rasamadu Heritage), bekas pabrik gula kolonial yang kini menjelma menjadi ruang pameran, museum, dan pusat kegiatan seni. Sementara itu, Benteng Vastenburg masih berdiri kokoh sebagai saksi sejarah perkembangan Kota Solo.

Destinasi Alam
Meski berada di dataran rendah, Solo tetap menawarkan akses mudah menuju destinasi alam yang menyegarkan. Sekitar satu jam dari pusat kota, Grojogan Sewu di Tawangmangu menyuguhkan air terjun yang dikelilingi hutan pinus. Tak jauh dari sana, Kebun Teh Kemuning menawarkan panorama perbukitan yang dapat dinikmati sambil bersantai di deretan kafe yang menghadap hamparan kebun teh. Bagi keluarga, Solo Safari menjadi alternatif menarik. Bekas Taman Satwa Taru Jurug ini telah bertransformasi menjadi taman konservasi modern dengan program edukasi satwa dan pertunjukan interaktif.

Destinasi Kuliner
Menjelajahi Solo belum lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Untuk pengalaman yang lebih istimewa, Pracimasana di kawasan Pracima Tuin Mangkunegaran menghadirkan interpretasi modern terhadap hidangan tradisional Jawa dalam suasana yang elegan. Restoran ini menjadi bagian dari ekosistem budaya Mangkunegaran bersama Pracimaloka dan Pracimawisik.

surakarta
Pasar Gede Hardjonagoro. Andri Wijayanto/Pexels.

Bagi pencinta kuliner legendaris, Pasar Gede Hardjonagoro menawarkan aneka hidangan khas seperti timlo, cabuk rambak, dan es dawet. Saat malam tiba, Galabo (Gladag Langen Bogan) berubah menjadi pusat makanan kaki lima dengan puluhan penjaja makanan khas Solo. Tak jauh dari sana, Jalan Slamet Riyadi menjadi koridor utama kota yang dipenuhi restoran, kafe, hingga kedai-kedai legendaris.

Pilihan Akomodasi
Solo menghadirkan pilihan akomodasi untuk berbagai gaya perjalanan. Bagi pencari pengalaman menginap premium, tersedia Alila Solo, Grand Mercure Solo Baru, dan The Royal Surakarta Heritage Solo MGallery Collection yang memadukan kenyamanan modern dengan sentuhan budaya lokal.

Sementara itu, wisatawan yang mengutamakan opsi yang ramah di kantong dapat memilih Swiss-Belhotel Solo, Aston Solo Hotel, The Alana Hotel & Convention Center Solo, maupun berbagai hotel butik dan penginapan yang tersebar di pusat kota. Beragam pilihan ini menjadikan Solo destinasi yang mudah dijelajahi, baik untuk liburan akhir pekan maupun perjalanan budaya yang lebih mendalam.Monika Febriana

Calendar of Events

The Archipelago Table by William Wongso

Acara kuliner menarik persembahan The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. 1-2 Ags

Gastronomy Artistry Masahiko Kawano

Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul

Tuscan Dinner by Chef Luca Masini

Byrd House Bali mengajak para tamu menuju pesisir Tuscany. 26 Jun

See More