Ramadan Ala Turki di Shangri-La Jakarta
Ada dua koki tamu dari Shangri-La Bosphorus yang akan menghadirkan sajian-sajian autentik Turki.
Di tengah hiruk-pikuk Blok M yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu episentrum kuliner Jakarta, SU MA memilih mengambil jalur yang berbeda. Alih-alih berlomba menghadirkan sensasi yang serbacepat, restoran ini mengambil jalur fine dining yang lebih menghargai proses. Bersemayam berdampingan dengan Nirmana Kinetic Space, SU MA tampil tenang dengan estetika minimalis yang terasa selaras dengan lingkungan kreatif di sekitarnya.
Dominasi warna putih, garis-garis bersih, dan elemen kayu hangat menciptakan suasana yang lapang tanpa terasa dingin. Kontras muncul di area bar yang dibalut nuansa gelap nan elegan, sementara teras luar ruang menawarkan jeda yang nyaman di sela perjalanan gastronomi yang berlangsung lebih dari dua jam.


Di balik dapurnya berdiri dua alumnus Le Cordon Bleu. Executive Chef Brendon Chen membawa pengalaman dari sejumlah restoran ternama di Asia dan Eropa, termasuk Restaurant du Vieux Pont yang pernah meraih bintang Michelin. Bersamanya, Co-Executive Chef Ryan Kim menghadirkan perspektif Negeri Ginseng yang dibentuk sejak masa kecilnya sebelum melanjutkan pendidikan kuliner dan pastri di Australia.
Saat kunjungan kami, SU MA tengah menyajikan Volume 6: Passage, menu degustasi musiman berisi 11 hidangan yang akan diperbarui setiap lima bulan. “Kami merayakan bahan musiman, fermentasi, dan keseimbangan rasa. Seluruh hidangan berangkat dari tradisi kuliner Tiongkok dan Korea, lalu kami mencari titik temu di antaranya,” ujar Brendon.
Baca juga: Pendekatan Kuliner yang Digemari Hotel-Hotel di Indonesia
Perjalanan dimulai dengan serangkaian sajian pembuka yang memperlihatkan filosofi tersebut. Amaebi memadukan udang manis, longjing, dan alpukat dalam permainan tekstur yang halus. Wagyu Tartare tampil lebih mewah berkat sentuhan tahu dan kaviar Oscietra, sementara Broccolini dengan shishito dan telur ikan salmon menghadirkan kombinasi segar yang ringan.
Memasuki babak berikutnya, Bluefin Tuna dengan kimci dan jeruk kalamansi menawarkan dialog menarik antara rasa segar dan karakter fermentasi yang kompleks. Scallop hadir dalam sajian hangat yang menenangkan sebelum salah satu hidangan paling berkesan malam itu tiba di meja: lobster dengan tteok. Alih-alih disajikan dengan gaya tradisional, kue beras khas Korea tersebut digoreng hingga renyah di luar, tapi tetap lembut di bagian dalam, menghadirkan kontras tekstur yang memikat.

Sorotan lain datang melalui Pine Nut, sajian jamur tiram dengan ssamjang buatan sendiri dan serutan jamur truffle hitam, serta Wagyu Char Siu yang menjadi interpretasi modern dari hidangan klasik Kanton. Untuk hidangan utama, Kinmedai disandingkan dengan suancai, sebelum perjalanan mencapai klimaks melalui Aged Duck yang dipadukan dengan bit merah dan bawang hitam.
Tiga pencuci mulut menutup sesi makan dengan elegan. Omija yang segar, Jiuniang yang lembut, hingga Butternut Squash with Caviar yang mengejutkan—sepintas tampil menyerupai cheesecake, tetapi menyimpan lapisan rasa yang jauh lebih kompleks. Dan seperti keseluruhan pengalaman di SU MA, hidangan terakhir itu mengingatkan bahwa kemewahan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang mencolok. Terkadang, ia muncul melalui detail-detail kecil yang dirangkai dengan presisi dan kesabaran.—Monika Febriana