5 Destinasi Kuliner Favorit Kabir Suharan, Co-Founder Pantja Hospitality Group
Bali tetap masuk ke daftar rekomendasinya.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri parfum lokal Indonesia tengah menjadi sorotan publik, termasuk para wisatawan dari Negeri Jiran. Puluhan hingga ratusan merek memamerkan kreasi mereka di berbagai bursa parfum dan produk kecantikan. Di tengah geliat ini, ada satu nama yang tak asing, terutama di kalangan pegiat parfum lokal: Layr Fragrance.
Menyandang julukan “arsitek olfaktif”, jenama ini dikenal lewat racikan aromatik yang nostalgis dan terinspirasi dari momen sehari-hari. Tahun ini, Layr Fragrance melebarkan sayap ke ranah minuman. Bertajuk Layr Tea Shop, kedai teh ini memadukan seni meracik teh dengan kreativitas olfaktif jenama. Saat ini, Layr Tea Shop memiliki dua gerai, masing-masing berlokasi di Pasaraya Blok M dan Lippo Mall Nusantara di Jakarta.
Berbekal rasa penasaran, saya mengunjungi gerainya di Lippo Mall Nusantara. Di sini, Layr Tea Shop menjadi bagian dari ekosistem Tomorrow World, destinasi gaya hidup yang sempat mengetren di jagat maya berkat perpustakaan parfumnya. Syahdan, ruang ritel besutan Kenny Koesoemo ini sempat digadang-gadang sebagai perfume library terbesar di Indonesia.

Baca juga: Rekomendasi Parfum Hangat untuk Musim Hujan
Interior dikemas hangat dan intim, dengan dominasi corak cokelat lempung serta instalasi seni dari dahan pohon dan kain perca. Tiga island berlapis material menyerupai travertine zamrud menjadi jantung gerai, tempat pengunjung mengeksplorasi menu sekaligus menghirup aroma teh-teh kering yang tersedia. Set meja dan kursinya pun terasa seperti terjemahan kontemporer dari desain tradisional Tionghoa. Dibandingkan gerai Pasaraya Blok M, atmosfer di sini terasa sedikit lebih tenang dan lebih cocok untuk menikmati teh tanpa terburu-buru.
Ada 13 pilihan minuman teh yang tersedia, termasuk empat varian crafted tea. Layaknya parfum, setiap racikan disajikan dengan informasi top, middle, dan base note. Kustomisasi lanjutan hadir melalui pilihan susu, tingkat kemanisan, jumlah es, serta beragam topping yang tersedia.

Saya pun memesan Velvet Leather, salah satu menu favorit di Layr Tea Shop. Namun, jangan bayangkan aroma leather khas parfum saat menyesapnya. Profil rasanya terbentuk dari perpaduan teh oolong dengan karamel, kacang panggang, dan kayu pinus. Hasilnya adalah racikan dengan sentuhan smoky ringan dan efek creamy di lidah, bak beludru.
Baca juga: Dari Lintasan ke Meja Makan: Ritual Baru Masyarakat Urban Jakarta
Yang tak kalah menarik adalah Peach Amber. Saya sejatinya bukan penggemar persik yang kerap saya kaitkan dengan parfum-parfum fruity untuk remaja. Namun, persik dalam racikan berbasis teh oolong ini terasa lebih lembut dan “kalem”. Sementara itu, sentuhan manis hangat khas ambar diterjemahkan melalui aroma burnt honey yang berpadu apik dengan aroma susu cokelat.

Pengalaman tak berhenti sampai di situ. Tentunya, pengunjung bisa mengeksplor pilihan wewangian Layr Fragrance yang ditampilkan di area pajang. Di salah satu sudut, terdapat sudut foto instan bagi yang ingin mengabadikan momen kunjungan bersama kerabat atau keluarga.
Lewat Layr Tea Shop, jenama ini menunjukkan dimensi yang berbeda dari akar olfaktifnya. Di tengah ketatnya persaingan bisnis teh, gerai tersebut menawarkan pengalaman minum teh yang unik, menyatukan dua dunia aromatik dalam setiap seduhannya.—Klaus Rachman