Kabar dari rumah terakhir badak jawa.

Foto utama: Jonathan Ridley/Unsplash

Di ujung paling barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon menyimpan sesuatu yang tak lagi ditemukan di tempat lain di dunia—satu-satunya populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang masih bertahan di habitat alaminya. Spesies purba ini sebelumnya juga menghuni Vietnam, sebelum akhirnya dinyatakan punah di negara tersebut pada 2011.

Setiap 22 September, dunia memperingati Hari Badak Sedunia, momen yang mengarahkan perhatian global pada nasib lima spesies badak yang masih tersisa. Bagi Indonesia, khususnya Ujung Kulon, peringatan ini terasa lebih personal. Kawasan konservasi tersebut menjadi rumah bagi sekitar 50 ekor badak jawa yang hidup di antara rawa, kubangan, dan semak belukar seluas lebih dari 105.000 hektare.

Hidup jauh dari sorotan manusia, badak-badak ini sekaligus memikul peran besar sebagai harapan terakhir bagi kelangsungan spesiesnya. Namun, Ujung Kulon bukan hanya tentang badak jawa. Kawasan ini juga menjadi habitat sejumlah satwa langka lain yang keberadaannya terus dijaga. Berikut sejumlah kabar terbaru dari Ujung Kulon.

ujung kulon
Badak jawa. James Hendry/David Shepherd Wildlife Foundation.

Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada Minggu, 6 September 2026 pukul 03.53 WIB. Dampaknya turut terpantau hingga kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten.

Baca juga: Waspada Ancaman Sebaran Abu Vulkanik

Berjarak sekitar 50 kilometer dari Gunung Anak Krakatau, Ujung Kulon turut merasakan aktivitas vulkanik, mulai dari getaran dan suara gemuruh hingga debu vulkanik tipis. Kabar baiknya, arah angin dari selatan membawa sebagian besar sebaran abu menjauhi area utama habitat badak jawa.

Masuk Lima Besar Wisata Satwa Liar Terbaik di Dunia
Di tengah perannya sebagai kawasan konservasi, Ujung Kulon juga mendapat perhatian dari dunia pariwisata. Taman nasional ini menempati posisi kelima dalam daftar Wisata Liar Terbaik di Dunia 2026 versi Wildlife Experience Index, dengan skor 85,5 dari 100.

ujung kulon
Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Muhammad Adimaja/Wikimedia Commons.

Penilaian tersebut didasarkan pada enam indikator utama: kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, serta peluang perjumpaan dengan satwa. Posisi ini memperlihatkan bagaimana biodiversitas Ujung Kulon sekaligus menjadi daya tarik bagi tren wildlife tourism yang semakin mengedepankan pengalaman alam dan konservasi.

Mengembangkan Program Reproduksi Badak Jawa
Upaya mempertahankan populasi badak jawa terus dilakukan, termasuk melalui pendekatan teknologi reproduksi. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menuturkan pemerintah tengah mengembangkan Assisted Reproductive Technology atau teknologi reproduksi berbantu untuk mendukung pelestarian badak jawa, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor.

Baca juga: Mengapa Dunia Jatuh Cinta pada Quokka di Australia Barat?

Program ini menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan populasi badak jawa yang masih sangat terbatas. Pendekatan serupa sebelumnya telah berhasil diterapkan pada spesies badak di Way Kambas, Lampung.

Kukang Jawa Kembali ke Habitat Alaminya
Selain badak jawa, Ujung Kulon menjadi rumah bagi beragam spesies lain. Salah satu kabar terbaru datang dari upaya pelepasliaran kukang jawa. Pada awal September 2026, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama sejumlah relawan melepasliarkan enam kukang jawa ke kawasan TNUK.

Sebelumnya, satwa-satwa tersebut dibawa dari pusat rehabilitasi di Bogor menuju Ujung Kulon untuk menjalani sejumlah tahapan sebelum akhirnya kembali ke habitat alaminya.Monika Febriana

Calendar of Events

PESTAPORA 2026

Festival musik antargenerasi dengan lebih dari 80 penampil. 25-27 Sep 2026.

Tiffany Young – Edge of Calm Tour

Momen musikal yang hangat bersama sang idola. 19 Sep 2026.

Celebrate Wellness 2026

Ajang kebugaran tahunan dari The Westin Resort Nusa Dua, Bali. 12 Sep 2026.

See More