ArtMoments Jakarta 2024 Usung Tema Pembaruan
Tahun ini mereka juga berikhtiar untuk menjadi bursa seni yang ramah lingkungan.
Foto utama: Notloop/Wikimedia Commons
Mendengar nama Sriwedari, ada dua hal yang selalu terlintas di benak saya: tembang Setapak Sriwedari milik Maliq & D’Essentials, serta kretek legendaris Taman Sriwedari produksi Gudang Garam, dengan bungkus lurik dan ilustrasi taman yang ikonik. Namun, jauh sebelum menjadi inspirasi budaya populer, ada satu tempat di Solo yang memberi nama bagi keduanya: Taman Sriwedari.
Bersemayam di jantung Kota Solo, taman bersejarah ini telah lama menjadi ruang publik yang mempertemukan rekreasi, seni, dan kebudayaan Jawa. Gerbang megahnya, lengkap dengan relief di kedua sisi, menjadi penanda visual yang menyambut setiap pengunjung. Lokasinya pun berada di kawasan yang kaya akan destinasi budaya, hanya sepelemparan batu dari Museum Radya Pustaka, Museum Keris Nusantara, serta Stadion Sriwedari, markas kebanggaan Persis Solo.

Dengan harga tiket yang tetap ramah di kantong, Taman Sriwedari masih menjadi pilihan banyak keluarga untuk menikmati sore di bawah rindangnya pepohonan atau sekadar melepas penat dari hiruk-pikuk kota. Namun, daya tariknya tak berhenti sebagai ruang hijau urban. Di balik suasananya yang teduh, taman ini menyimpan lapisan sejarah yang telah menjadi bagian dari perjalanan budaya Solo selama lebih dari satu abad.
Taman Raja
Kisah Taman Sriwedari tak dapat dipisahkan dari sejarah Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Arsip dari portal Kerajaan Nusantara menyebutkan bahwa taman ini mula-mula dibangun sebagai ruang rekreasi keluarga istana pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X. Pembangunannya dimulai pada 1899, dan setelah rampung, kawasan ini dikenal dengan nama Kebon Rojo atau Taman Raja.

Konsepnya terinspirasi dari taman surgawi dalam karya sastra klasik Serat Arjunasasra. Majalah Kajawèn edisi 1928 menuturkan bahwa Sriwedari merupakan taman kahyangan milik Batara Wisnu yang kemudian “diturunkan” ke bumi oleh Prabu Arjuna Sasrabahu demi meminang Dewi Citrawati. Imajinasi sastra tersebut kemudian diterjemahkan menjadi ruang hijau yang menjadi kebanggaan Surakarta.
Baca juga: Travel 101: Surakarta, Indonesia
Berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 hektare, taman ini ditanami berbagai pohon peneduh, termasuk kenari dan trembesi. Kawanan angsa dan bangau turut menghidupkan lanskapnya. Di bagian tengah terdapat segaran, telaga buatan dengan sebuah pulau kecil yang menggendong paviliun. Sejak awal, paviliun tersebut menjadi panggung bagi berbagai pertunjukan seni—tradisi yang masih bertahan hingga kini.
Tak lama kemudian, Taman Sriwedari dibuka untuk masyarakat umum dan segera menjelma menjadi ruang publik favorit warga Surakarta. Menariknya, di penghujung artikel Kajawèn tertulis bahwa siapa pun yang belum mengunjungi Sriwedari saat bertandang ke Surakarta, sejatinya belum benar-benar mengenal jiwa kota tersebut. Di masa itu, perpaduan pertunjukan seni, musik, dan lanskap yang teduh menjadikan Sriwedari sebagai simbol kehidupan sosial kota.
Wayang dan Rusa
Seiring waktu, wajah Taman Sriwedari mengalami banyak perubahan. Pepohonan rindangnya memang masih bertahan, tetapi tata ruangnya tak lagi sama. Wahana permainan, kios, dan warung mulai mengisi sebagian kawasan. Pendopo di bagian depan taman diruntuhkan pada 2018, sementara sebagian hamparan rumput beralih fungsi menjadi area parkir berlapis aspal.
Meski begitu, sejumlah ikon tetap bertahan. Meriam tua masih menyambut pengunjung di pintu masuk, sementara segaran tetap menjadi tempat memancing favorit warga. Patung Gatotkaca–Pergiwa juga berhasil selamat dari pembongkaran pendopo. Menurut Solo Pos, monumen tersebut merupakan penghormatan bagi Roesman dan Dasri, pasangan maestro Wayang Orang Sriwedari.

Wayang orang sendiri menjadi denyut budaya yang terus hidup di kompleks ini. Gedung Wayang Orang Sriwedari, yang berdiri sejak 1911, berkapasitas sekitar 1.200 penonton dan masih rutin menggelar pertunjukan setiap bulan. Di tengah derasnya arus hiburan digital, panggung ini tetap menjadi salah satu ruang terbaik untuk menikmati seni pertunjukan Jawa secara langsung.
Baca juga: 8 Museum Atraktif di Jakarta
Daya tarik lain hadir melalui kawanan rusa yang telah lama menjadi penghuni taman. Pengunjung masih dapat berinteraksi dan memberi makan sebagian rusa yang tersisa, meski menurut Kompas, sejumlah rusa muda telah dipindahkan ke Taman Balekambang sejak Juni 2026 setelah viralnya video yang memperlihatkan rusa memakan sampah.

Bagi pencinta aktivitas luar ruangan, kompleks ini juga menaungi Lapangan Panahan Kakung Popop. Berdasarkan informasi dari Solo Balapan, fasilitas yang beroperasi sejak 2008 ini terbuka untuk umum dengan tarif Rp25.000 per sesi, sudah termasuk penyewaan perlengkapan dan pendampingan pelatih.
Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern dan berbagai polemik yang masih membayangi status lahannya, Taman Sriwedari tetap mempertahankan pesonanya sebagai ruang hijau bersejarah di jantung Solo. Ia mungkin tak lagi semeriah masa jayanya, tetapi masih menjadi tempat untuk berjalan perlahan, menikmati semilir angin, dan menemukan sepotong jiwa Surakarta di setiap langkahnya.—Rachman Karim
Acara kuliner menarik persembahan The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. 1-2 Ags
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul