The Westin Bali Ikut Ramaikan Hari Tidur Sedunia
Sudahkan Anda tidur cukup hari ini?
“Kapan terakhir kali Anda tidur nyenyak seperti anak-anak?”
Pertanyaan itu dilontarkan kepada kami saat berkunjung ke Pan Pacific Jakarta beberapa hari silam. Sebuah jawaban usil langsung melintas di kepala.
“Sekitar 30 kilogram yang lalu,” celetuk saya kepada rekan media di samping.
Kami tertawa pelan. Namun di balik gurauan tersebut, saya justru terpancing untuk benar-benar mencari jawabannya. Saya tak bisa mengingat pasti kapan saya tidur nyenyak—dan benar-benar berkualitas—seperti anak-anak. Seorang rekan media lain bahkan menjawab bahwa kali terakhir ia tidur seperti anak kecil adalah, secara harfiah, saat ia masih kecil.
Krisis Tidur Modern
Di tengah ritme hidup yang semakin padat, tenggat pekerjaan, hubungan sosial, dan daftar keinginan yang tak pernah selesai, ada satu hal yang hampir selalu dikorbankan: tidur. Padahal, kualitas tidur merupakan fondasi kesehatan fisik maupun mental.
Laporan HelpGuide yang terbit pada 2026 menyebutkan sekitar sepertiga populasi dewasa di dunia mengalami kurang tidur. Dampaknya jauh melampaui rasa kantuk keesokan harinya—mulai dari menurunnya fungsi kognitif, gangguan kesehatan mental, hingga meningkatnya risiko diabetes dan penyakit jantung. Bahkan, riset Harvard Medical School menunjukkan bahwa tidur kurang dari lima jam setiap malam dapat meningkatkan risiko kematian hingga 15%. Ironisnya, kurang tidur kini terasa seperti hal normal—yang mungkin dinormalisasi.
Berangkat dari fenomena tersebut, Pan Pacific Hotels Group memperkenalkan Happy Sleepers, sebuah program wellness yang dirancang untuk membantu tamu mendapatkan tidur lebih nyenyak. Mulai dari pilihan bantal, ritual sebelum tidur, menu bernutrisi, hingga aromaterapi, seluruh elemennya disusun untuk mendukung proses pemulihan tubuh secara menyeluruh.
Membangkitkan Kenangan
Sore itu, langit Jakarta cerah ketika saya tiba di Pan Pacific Jakarta. Seorang staf concierge mengarahkan saya menuju lift yang melesat ke Pacific Club di lantai 90 hanya dalam hitungan detik. Sensasi telinga berdenging akibat perubahan tekanan udara langsung terasa—pengingat bahwa saya sedang menaiki salah satu lift tercepat di Indonesia.
Perkenalan terhadap Happy Sleepers berlangsung di Pan Pacific Suite, kamar terbesar di hotel ini. Mengusung slogan Once Upon a Sleep, program tersebut dibalut nuansa nostalgia melalui buku cerita anak, boneka beruang, hingga ilustrasi yang mengingatkan pada masa kecil. Pendekatan yang terasa sederhana, tetapi efektif menggeser fokus dari rutinitas menuju momen beristirahat. Program Happy Sleepers juga tersedia di beberapa properti Pan Pacific lainnya, termasuk Pan Pacific Orchard Singapore dan Pan Pacific Hanoi.


Presentasi berlanjut ke master suite, di mana tujuh jenis bantal berjajar di atas tempat tidur. Para tamu yang mengikuti program Happy Sleepers bisa memilih bantal yang ingin digunakan sesuai preferensi atau kebutuhannya. Selain bantal, hadir pula sleep kit yang mencakup aromatic pillow spray dan dua varian masker mata. Sementara itu, di ruang makan telah tersaji beragam kudapan bernutrisi, serta pilihan teh yang dikurasi untuk mendukung relaksasi.
Tertidur di Atas Air
Selepas mengisi perut secukupnya dan berganti pakaian, kami menuju lantai 71 untuk mencoba floating sound bath yang dipandu Soulace bersama praktisi sound healing, Asteriska.
Sebelum sesi dimulai, kami diminta menulis surat singkat kepada diri sendiri di masa lalu. Saya tak menyangka terapi suara akan dibuka dengan momen yang begitu personal. Pikiran saya langsung melayang ke masa SMP—ketika akhir pekan masih diisi bermain gim arkade dan les piano. Surat itu berisi satu pesan sederhana: teruslah bertahan.


Tak lama kemudian kami berbaring di atas matras terapung atau floatee. Pada beberapa menit pertama tubuh saya sempat merasa mual karena floatee kerap bergoyang di atas air. Namun perlahan rasa tersebut menghilang, digantikan kantuk yang datang tanpa dipaksa.
Dentingan singing bowl dan instrumen meditasi lainnya perlahan mengaburkan kesadaran. Saya sempat beberapa kali terbangun ketika floatee saling bertabrakan, tetapi berhasil benar-benar tertidur. Beberapa rekan media bahkan mendengkur. Menurut Asteriska, setiap orang akan merasakan efek terapi suara yang berbeda. Saya membayangkan, tanpa benturan-benturan kecil itu, mungkin saya benar-benar bisa memasuki fase deep sleep.
Kemewahan yang Sebenarnya
Puncak program Happy Sleepers ternyata bukan sesi sound bath, melainkan ritual sebelum tidur yang disusun begitu detail.
Setibanya di kamar, sebuah sleep-friendly bento telah menunggu. Isinya meliputi Shio Cod, Kombu & Shimeji Broth, Shiitake Ohitashi, dan Mizu Mochi, ditemani kukis hangat serta secangkir teh kamomil. Menu ini dirancang untuk membantu tubuh kembali rileks setelah menjalani aktivitas sepanjang hari.
Usai makan malam, saya mengisi bathtub dengan air hangat dan menjatuhkan bath bomb beraroma almon. Inilah bagian favorit saya. Kehangatan air perlahan mengendurkan otot-otot yang tegang, sementara aroma lembutnya menciptakan jeda yang terasa langka di tengah kehidupan kota.


Ritual berlanjut dengan menyemprotkan aromaterapi ke bantal pilihan saya. Sebelum memejamkan mata, saya membaca The Tooth Fairy dari seri The World of Peter Rabbit, ditemani boneka beruang berjubah mandi yang menjadi bagian dari konsep Happy Sleepers. Rasanya seperti kembali ke masa kecil, ketika tidur bukan sesuatu yang harus diperjuangkan.
Saya memang sempat terbangun sekali di tengah malam untuk mengganti bantal. Namun ketika pagi datang, tubuh terasa jauh lebih segar dibanding biasanya.
Barulah saya memahami esensi program ini. Happy Sleepers bukan menawarkan kemewahan dalam bentuk seprai berbenang tinggi atau kamar yang megah. Ia menawarkan sesuatu yang kini jauh lebih langka: kemewahan untuk tidur berkualitas. Di tengah dunia yang terus bergerak semakin cepat, Pan Pacific Jakarta mengingatkan saya bahwa istirahat di penghujung hari pun sama berharganya dengan menjalani hari.—Rachman Karim
Sebuah pengalaman kuliner istimewa di Roso Restaurant, Sanur. 10 Jul