Tambahkan Fitur, Aplikasi Airbnb Masuki Babak Baru
Aplikasi ini sekarang tak hanya menawarkan akomodasi liburan.
Tanpa bermaksud menambah kecemasan, 2026 berpotensi menjadi periode yang menantang bagi industri pariwisata global. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan tensi geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, sektor perjalanan juga harus bersiap menghadapi satu faktor lain yang berada di luar kendali manusia: Super El Niño.
Fenomena iklim ekstrem ini ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik hingga sekitar 2 derajat Celsius atau lebih di atas kondisi normal. Kenaikan tersebut memicu perubahan pada sirkulasi atmosfer global, mengganggu pola angin, dan pada akhirnya memengaruhi cuaca di berbagai belahan dunia. Dampaknya bersifat luas dan tidak merata. Asia Tenggara serta Australia berisiko mengalami kekeringan berkepanjangan dan peningkatan ancaman kebakaran hutan, sementara sejumlah wilayah di Amerika justru menghadapi curah hujan berlebih, banjir, dan cuaca ekstrem. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa El Niño merupakan salah satu penggerak utama variabilitas iklim global yang mampu mengubah pola suhu dan curah hujan lintas benua. Sejarah menunjukkan bahwa episode El Niño kuat kerap membawa kondisi yang lebih panas dan lebih kering ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Industri pariwisata Indonesia pernah merasakan dampaknya secara langsung. Ketika El Niño kuat terjadi pada 2015, kebakaran hutan dan lahan meluas di Sumatra dan Kalimantan, memicu kabut asap yang mengganggu penerbangan, menurunkan kualitas udara, dan memengaruhi aktivitas wisata di sejumlah wilayah. Bank Dunia mencatat sekitar 2,6 juta hektare lahan terbakar dengan kerugian ekonomi mencapai US$16,1 miliar. Hingga hari ini, peristiwa tersebut masih menjadi tolok ukur tentang bagaimana musim kemarau ekstrem dapat dengan cepat berubah menjadi krisis yang berdampak lintas sektor.
Menurut berbagai proyeksi iklim, dampak Super El Niño diperkirakan mulai terasa pada paruh kedua 2026. Bagi Indonesia, konsekuensinya kemungkinan hadir dalam bentuk musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Destinasi-destinasi favorit seperti Bali, Lombok, hingga Labuan Bajo diperkirakan akan menikmati langit biru yang lebih konsisten hingga penghujung tahun—kabar baik bagi para pemburu matahari dan fotografer lanskap. Namun di balik visual yang fotogenik tersebut, terdapat tantangan lain yang perlu diperhatikan.
Kemarau berkepanjangan berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, meningkatkan risiko kebakaran lahan, serta membuat aktivitas luar ruang terasa lebih melelahkan akibat suhu yang lebih tinggi dan udara yang lebih kering. Bagi destinasi yang mengandalkan keindahan alam terbuka sebagai daya tarik utama, perubahan kondisi cuaca ini tentu akan ikut membentuk pengalaman wisata yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dari perspektif wisatawan, cuaca ekstrem juga dapat memengaruhi preferensi perjalanan. Saat suhu di destinasi tropis meningkat melampaui tingkat kenyamanan, sebagian pelancong cenderung mulai melirik alternatif lain yang menawarkan iklim lebih bersahabat. Wisata musim gugur atau musim dingin, destinasi pegunungan, hingga pengalaman berbasis budaya dan gaya hidup yang berlangsung di dalam ruangan berpotensi menjadi pilihan yang semakin menarik. Belum lagi risiko memburuknya kualitas udara akibat kebakaran lahan atau partikel debu yang terbawa angin, faktor yang dalam beberapa tahun terakhir terbukti mampu memengaruhi persepsi wisatawan terhadap sebuah destinasi.