Hal-hal yang perlu diketahui sebelum berkunjung ke Chiang Mai.

Foto utama: Wat Phra That Doi Suthep, Chiang Mai. Foto: Unsplash/Nat Weerawong

Jika Jakarta punya Bandung, maka Bangkok punya Chiang Mai. Mirip Bandung yang menjadi destinasi liburan akhir pekan para warga Jakarta, Chiang Mai merupakan alternatif slow escape bagi mereka yang ingin sejenak menjauh dari ritme Bangkok yang serbacepat.

Bersarang di dataran tinggi, Chiang Mai dikelilingi pegunungan dan kerap disebut memiliki iklim yang lebih sejuk. Meski tiap tahun—dari Januari hingga April—didera polusi udara akibat pembakaran lahan pertanian, kota kecil ini tetap menyimpan pesona yang sulit diabaikan, terutama bagi para pencari pengalaman yang lebih kontemplatif.

Gerai-gerai kopi tumbuh. Restoran artisanal menjamur. Bahkan, banyak wisatawan menyebut Chiang Mai memiliki kharisma tersendiri, mulai dari tata ruang kotanya yang lebih santai hingga keramahan penduduknya yang terasa tulus. Dalam lanskap pariwisata Asia Tenggara, kota ini menjelma sebagai destinasi yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan.

Tahun ini, kota di kawasan Thailand Utara tersebut siap menyambut Songkran dengan skala yang lebih besar dari biasanya. Jika umumnya Songkran berlangsung selama tiga hari pada 13–15 April, tahun ini Chiang Mai memperpanjang perayaan hingga 12 hari penuh, mulai 6 hingga 17 April 2026. Keputusan ini diambil sebagai strategi untuk mendorong pariwisata sekaligus menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

Akses ke Chiang Mai
Perjalanan menuju Chiang Mai dari Indonesia membutuhkan satu kali transit, umumnya di Bandara Internasional Don Mueang di Bangkok sebelum melanjutkan penerbangan ke Bandara Internasional Chiang Mai. Penerbangan dapat dimulai dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, atau Surabaya.

Setibanya di Chiang Mai, wisatawan akan menemukan bahwa sistem transportasi di kota ini masih tergolong sederhana dan belum dilengkapi jaringan modern seperti MRT atau kereta listrik. Sebagai alternatif, masyarakat lokal mengandalkan songthaew (kendaraan bak terbuka yang berfungsi sebagai angkutan umum) dengan rute yang dibedakan berdasarkan warna. Selain itu, tuk-tuk dan layanan sewa kendaraan menjadi pilihan populer, sementara taksi daring menawarkan kenyamanan ekstra bagi mereka yang mengutamakan efisiensi dalam perjalanan.

Songthaew, angkutan umum utama di Chiang Mai. Unsplash/Suzi Kim

Kuliner Khas Chiang Mai
Sebagai bagian dari Thailand Utara, lanskap kuliner Chiang Mai dipengaruhi budaya Myanmar, Laos, dan Tiongkok. Asimilasi kuliner ini menciptakan profil rasa yang lebih ringan tetapi kompleks. Rempah seperti jahe dan kunyit menjadi elemen dominan, menghadirkan karakter yang hangat dan bersahaja. Menariknya, masyarakat setempat lebih mengandalkan khao niao atau nasi ketan sebagai sumber karbohidrat utama ketimbang nasi putih.

Hidangan seperti khao soi yang memadukan mi dan kuah kari kuning yang kaya rasa menjadi kuliner yang wajib dicicipi. Selain itu, sajian khan toke menawarkan pengalaman bersantap khas Lanna dalam satu set lengkap, sementara sai oua (sosis berbumbu khas utara) menjadi camilan gurih yang kerap dicari.

Destinasi Kuliner
Sebagai destinasi kuliner yang terus berkembang, Chiang Mai menawarkan beragam restoran yang mengangkat kekayaan rasa khas Lanna sekaligus menjawab selera generasi baru. Khao Soi Khun Yai dikenal luas berkat sajian autentiknya yang sederhana tapi berkarakter.

Sementara itu, Pakorn’s Kitchen menghadirkan pilihan menu yang lebih beragam, termasuk kari massaman yang kaya rempah. Untuk pengalaman bersantap yang lebih visual, Tong Tem Toh menjadi pilihan tepat dengan sajian pembuka khas Thailand Utara yang ditata secara estetis.

Khao soi, mi kari khas Thailand Utara dengan topping mi goreng kering. Unsplash/Kittitep Khotchale

Di luar kuliner tradisional, Chiang Mai juga dikenal sebagai surga bagi pencinta kopi dan restoran modern. Nimmanhaemin (Nimman) menjadi pusat gaya hidup kontemporer dengan deretan kafe dan restoran trendi. Area lain seperti Old City, Santitham, dan Wat Ket—yang berada di tepi sungai—juga dipadati spot kuliner yang mencerminkan dinamika kota ini.

Destinasi Wisata Sejarah
Sebagai bekas pusat Kerajaan Lanna, Chiang Mai menyimpan jejak sejarah yang masih terasa hingga kini, terutama melalui ratusan kuil yang tersebar di seluruh kota. Wat Chiang Man merupakan kuil tertua yang berdiri sejak 1296 dan memiliki nilai historis penting sebagai fondasi awal kota.

Di sisi lain, Wat Phra That Doi Suthep menjadi ikon spiritual dengan pagoda emasnya yang berdiri di atas perbukitan. Tidak jauh dari pusat kota, Gerbang Tha Phae menandai kawasan kota tua yang sarat sejarah, sementara Monumen Tiga Raja berdiri sebagai penghormatan bagi para pendiri Chiang Mai.

Destinasi Wisata Alam
Dikelilingi pegunungan dan lanskap hijau, Chiang Mai menawarkan suaka alami yang menenangkan—sebuah gaya hidup yang kerap memikat turis. Taman Nasional Doi Inthanon menjadi destinasi utama, rumah bagi gunung tertinggi di Thailand serta berbagai atraksi seperti Air Terjun Wachirathan dan jalur trekking Kew Mae Pan yang terkenal dengan panorama matahari terbitnya.

Doi Inthanon. Unsplash/Bharath Mohan

Kawasan Doi Suthep juga menawarkan pemandangan kota dari ketinggian, berpadu dengan nuansa spiritual yang khas. Bagi pencinta satwa, Elephant Nature Park menghadirkan pengalaman berinteraksi dengan gajah dalam konsep konservasi yang lebih etis—sejalan dengan tren pariwisata yang bertanggung jawab.

Pilihan Akomodasi
Pilihan akomodasi di Chiang Mai cukup beragam, mulai dari hotel mewah hingga penginapan yang lebih terjangkau. Hotel seperti AMANOR Hotel Chiang Mai, U Nimman Chiang Mai, Maladee Rendezvous Hotel, dan Shangri-La Chiang Mai menawarkan pengalaman menginap dengan fasilitas premium dan sentuhan desain yang mengundang decak kagum.

Sementara itu, opsi lain seperti Away Chiang Mai Thapae Resort yang mengusung konsep retret vegan, Travelodge Nimman Chiang Mai, serta U Chiang Mai menjadi alternatif yang lebih kasual tanpa mengorbankan kenyamanan.Monika Febriana

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More