Hal-hal yang perlu diketahui sebelum berkunjung ke distrik ikonis di Singapura.

Foto utama: Christine Puspitasari/Pexels

Dalam peta pariwisata Singapura, Chinatown bukanlah nama yang asing. Membentang seluas 58 hektare, kawasan ini menjadi titik awal perkembangan komunitas Tionghoa dan kini menjelma sebagai salah satu destinasi wisata yang paling ikonis di Negeri Merlion. Chinatown juga lama dikenal sebagai surga oleh-oleh murah, terutama di kalangan wisatawan asal Indonesia yang datang berburu suvenir, teh herbal, hingga camilan khas dalam satu kawasan yang mudah dijelajahi dengan berjalan kaki.

Chinatown Singapura menyimpan sejarah berlapis yang tak selalu semeriah dekorasi lampionnya. Di balik fasad ruko warna-warni dan butik kontemporer, kawasan ini pernah menjadi ruang hidup yang keras—tempat ambisi, harapan, dan realitas berjalan berdampingan. Sebelum menyambanginya, memahami sejarah Chinatown Singapura akan memperkaya pengalaman, mengubah kunjungan biasa menjadi perjalanan yang lebih bermakna secara budaya dan emosional.

Sejarah
Awal mula kawasan Chinatown dapat ditelusuri ke dua abad silam. Tepatnya pada 1822, Sir Stamford Raffles mengalokasikan satu area di selatan Sungai Singapura sebagai pemukiman bagi para imigran, terutama dari Tiongkok. Gelombang migrasi yang kencang mendorong perkembangan kawasan tersebut menjadi pusat kehidupan diaspora. Menurut National Library Board Singapore, sekitar 3.300 orang menghuni kawasan ini; jumlah yang mencerminkan hampir sepertiga total populasi Singapura kala itu.

chinatown
Gedung opera Lai Chun Yuen, sekarang menjadi sebuah hotel. Asian Itinerary.

Perluasan kawasan dimulai pada 1843. Dilansir dari situs resmi Chinatown Singapore, ekspansi pecinan mencakup Pagoda Street, Telok Ayer Street, dan Upper Pickering Street. Uniknya, “kampung” Tionghoa tersebut kemudian dibagi ke dalam beberapa zona berdasarkan daerah asal perantau, menciptakan identitas mikro yang berbeda dalam satu distrik. Temple Street, misalnya, dihuni masyarakat Kanton, sementara komunitas Tiociu bermukim di South Canal Road dan Carpenter Street—jejak yang masih terasa dalam lanskap budaya Chinatown Singapura hari ini.

chinatown
Sago Lane pada 1920an, sekarang diapit Buddha Tooth Relic Temple dan area parkir. Singapore National Archives.

Namun, citra Chinatown tak selalu seindah bangunan cagar budayanya. Populasi yang membeludak tak berbanding lurus dengan kualitas ruang hidup. Banyak penghuni harus tinggal di ruang sempit dengan sanitasi terbatas. Dokumentasi Visit Singapore juga mencatat kawasan ini pernah menjadi pusat opium, perjudian, dan rumah bordil—sebuah fase kelam yang juga dialami banyak pecinan di Asia Tenggara, termasuk Glodok di Jakarta.

Tahun 1983 menjadi titik balik transformasi Chinatown. Bangunan bergaya Barok dan Peranakan direstorasi, sementara sebagian penduduk direlokasi ke hunian modern yang lebih layak. Pedagang kaki lima dipindahkan ke Kreta Ayer Complex untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertata. Kini, Chinatown Singapura telah berevolusi menjadi destinasi budaya dan gaya hidup yang dinamis. Bahkan menurut Channel NewsAsia, Singapura menarik sekitar 2,5 juta wisatawan Indonesia sepanjang 2024—banyak di antaranya menjadikan Chinatown sebagai destinasi utama.

Destinasi Seni Budaya
Bagi yang ingin mendalami sejarah Chinatown Singapura secara lebih intim, Chinatown Heritage Centre menjadi titik awal yang ideal. Menempati tiga bangunan cagar budaya, museum ini merekonstruksi kehidupan imigran Tionghoa pada era 1950-an, lengkap dengan replika kamar tinggal dan narasi personal yang menyentuh. Sementara itu, Kreta Ayer Heritage Gallery mengajak pengunjung menelusuri sejarah kawasan Kreta Ayer serta tradisi artistiknya, termasuk wayang potehi dan opera Cina yang dahulu menjadi hiburan utama komunitas setempat.

chinatown
Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Battina Norgaard/Pexels.

Kunjungan ke Chinatown juga belum lengkap tanpa singgah di Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Kuil bergaya Dinasti Tang ini tampil mencolok di antara ruko-ruko tua, sekaligus menjadi pusat spiritual penting. Di dalamnya tersimpan relik yang dipercaya sebagai gigi Buddha, sementara taman di lantai atas menawarkan ruang hening.

Meski dikenal sebagai pecinan, Chinatown mencerminkan wajah multikultural Singapura. Masjid Jamae di South Bridge Road telah berdiri sejak 1826, memadukan elemen India, Islam, dan Yunani dalam satu struktur arsitektur yang unik. Tak jauh dari sana, Sri Mariamman Temple berdiri megah dengan menara penuh figur dewa berwarna cerah—pengingat bahwa Chinatown adalah ruang hidup lintas identitas, bukan sekadar periuk etnis tunggal.

Destinasi Kuliner
Perkara kuliner Chinatown Singapura, pilihannya nyaris tak terbatas. Tepat di seberang kuil utama, Chinatown Complex menghadirkan pengalaman bersantap autentik dengan harga bersahabat—dari nasi ayam Hainan hingga hidangan laut segar, termasuk kios durian yang menjadi magnet tersendiri. Diapit Ann Siang Hill dan Tanjong Pagar, Maxwell Food Centre menawarkan atmosfer serupa, menjadi ruang pertemuan lintas generasi dan latar belakang.

chinatown
Smith Street, salah satu surga kuliner di Chinatown. Jason Goh/Unsplash.

Deretan restoran dan kafe menghidupkan Smith Street dan Pagoda Street sepanjang hari. Awali pagi seperti warga lokal di kopitiam dengan kaya toast dan kopi tarik, ritual sederhana yang menjadi bagian dari identitas kuliner Singapura. Untuk cita rasa yang lebih intens, restoran hotpot seperti Xiao Long Kan dan Yeahcoco Hot Pot menghadirkan pengalaman bersantap komunal yang hangat.

Saat malam tiba, Chinatown berubah wajah menjadi destinasi hiburan malam Singapura yang penuh karakter. Keong Saik Road dan Ann Siang Hill dipenuhi bar dan lounge dengan pendekatan kreatif. No Sleep Club dikenal lewat racikan koktail progresifnya, sementara Native mengeksplorasi bahan Asia Tenggara—sebuah refleksi dari identitas kawasan yang terus berevolusi.

Akomodasi
Dengan lokasi strategis dan akses mudah ke berbagai atraksi, Chinatown Singapura menjadi salah satu kawasan terbaik untuk menginap. Pilihannya beragam—mulai dari hotel butik hingga properti mewah milik jaringan global seperti Marriott International, Accor, dan Pan Pacific Hotels & Resorts.

chinatown
Area kolam renang Mondrian Singapore Duxton. Accor.

Dibuka pada 2023, Mondrian Singapore Duxton memadukan estetika retro dengan sensibilitas modern, mencerminkan semangat kreatif kawasan Duxton. Sementara itu, PARKROYAL COLLECTION Pickering, Singapore tampil mencolok dengan fasad hijau biofilik—oase vertikal di tengah lanskap urban. Untuk opsi yang lebih intim dan terjangkau, Hotel Mono di Mosque Street menawarkan pengalaman menginap bergaya minimalis, membuktikan bahwa di Chinatown Singapura, sejarah dan gaya hidup kontemporer selalu berjalan berdampingan.Rachman Karim

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More