“Wisman mulai lirik kawasan pedesaan di Jepang…”
Wawancara eksklusif bersama Yoshiko Iwamoto, Direktur Senior JNTO Jakarta.
Foto utama: Kang Minku/Unsplash
Penafian: September diperingati sebagai bulan pencegahan bunuh diri. Beberapa institusi global memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sambil berbagi dukungan dengan sesama. Artikel ini membahas topik yang mungkin sensitif bagi sebagian orang. Di TFL Paper, kami percaya bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan, oleh karenanya, tidak boleh disepelekan.
Dunia hiburan Korea Selatan kembali dirundung duka pada 2025. Aktris Kim Sae-ron ditemukan meninggal di rumahnya dalam kasus bunuh diri. Kabar kepergiannya kemudian turut mengangkat kembali kontroversi yang melibatkannya dan aktor Kim Soo-hyun. Namun, ini bukanlah satu-satunya kasus bunuh diri yang mengguncang ranah hiburan Korea Selatan.
Tiga tahun sebelumnya, Lee Sun-kyun, pemeran karakter Nathan Park dalam film arahan Bong Joon-ho, Parasite, meninggal dalam kasus bunuh diri. Pada 2019, eks-anggota f(x), Sulli, dan eks-anggota Kara, Goo Hara, juga meninggal dalam kasus serupa. Dua tahun sebelumnya, vokalis utama grup SHINee, Kim Jonghyun, ditemukan meninggal di sebuah hotel dalam kasus bunuh diri.
Di luar dunia hiburan Korea Selatan, isu bunuh diri juga menjadi persoalan sosial yang serius. Data dari Badan Statistik Korea Selatan menunjukkan bahwa pada 2024 tercatat 14.872 kematian akibat bunuh diri, dengan angka 29,1 per 100.000 penduduk—tertinggi sejak 2011. Korea Selatan juga masih memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara OECD. Namun, bunuh diri bukanlah penyebab kematian nomor satu secara keseluruhan; pada 2024, posisinya berada di urutan kelima. Meski demikian, bunuh diri menjadi penyebab kematian utama bagi kelompok usia 10–49 tahun.

Dan di tengah kehidupan Seoul yang serba cepat, Sungai Han menjadi salah satu ruang publik yang memperlihatkan kontras tersebut: tempat warga datang untuk berolahraga, piknik, menikmati sore, sekaligus lokasi yang selama bertahun-tahun membutuhkan perhatian serius dalam upaya pencegahan bunuh diri.
Terang dan Gelap
Dengan total panjang sekitar 514 kilometer, Sungai Han telah menjadi nadi kehidupan di Semenanjung Korea, terutama Provinsi Gangwon, Chungcheong Utara, dan Gyeonggi. Dilansir dari Britannica, sungai ini dimanfaatkan sebagai rute transportasi vital, terutama pada periode Dinasti Joseon. Ia memasok air untuk kebutuhan sehari-hari dan industri, serta mendukung pembangkit listrik tenaga air di kawasan pegunungan.
Di era modern, Sungai Han merupakan salah satu ruang rekreasi populer Seoul untuk menghabiskan waktu luang dan berolahraga. Pada Olimpiade Musim Panas 1988 di Seoul, sungai ini menjadi tempat perlombaan dayung. Taman-taman seperti Yeouido Hangang Park dan Mangwon Hangang Park dibangun di sepanjang pinggirannya, menawarkan beragam aktivitas, dari piknik dan bersepeda hingga pesiar dan olahraga air. Bagi warga Seoul, tepian sungai telah berkembang menjadi semacam urban escape tanpa harus meninggalkan kota.

Sayangnya, Sungai Han juga menjadi lokasi yang membutuhkan perhatian khusus dalam pencegahan bunuh diri. Menurut data Pemerintah Kota Seoul yang dikutip The Korea Herald, terdapat 5.341 kasus percobaan bunuh diri di kawasan Sungai Han sepanjang 2022 hingga 2024. Sekitar 26,5 persen di antaranya terjadi di Jembatan Mapo, yang diresmikan pada 1970 dan pernah mendapat julukan “Jembatan Bunuh Diri”.
Membantu Bertahan
Kasus percobaan bunuh diri di area Sungai Han tidak luput dari perhatian Pemerintah Kota Seoul. Tahun 2011 menandai salah satu langkah penting dalam upaya pencegahan. Dilansir dari The Korea Times, pemerintah kota memasang telepon di sejumlah jembatan yang melintasi Sungai Han melalui kolaborasi dengan Korea Life Insurance Philanthropy Foundation, Seoul Metropolitan Fire & Disaster Headquarters, serta organisasi nonprofit Life Line.
Kehadiran perangkat tersebut—dikenal sebagai telepon SOS Lifeline—bukan sekadar simbol. Data Korea Life Insurance Philanthropy Foundation menunjukkan lebih dari 10 ribu konsultasi krisis telah dilakukan melalui layanan tersebut antara Juli 2011 hingga Juni 2025. Saat ini terdapat 75 telepon SOS Lifeline di 20 jembatan yang melintasi Sungai Han.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) pun turut dimanfaatkan Pemerintah Seoul untuk memperkuat pencegahan bunuh diri di berbagai jembatan Sungai Han. Sejak 2021, Hangang Bridge CCTV Integrated Control Centre menggunakan AI untuk mendeteksi orang yang berada lebih dari 300 detik di area tertentu yang dianggap membutuhkan perhatian. Sistem kemudian membunyikan alarm agar petugas dapat memeriksa situasi secara langsung. Pusat kendali tersebut memantau ratusan kamera CCTV di jembatan-jembatan yang dapat diakses pejalan kaki.
Dukungan pun hadir dalam berbagai bentuk. Di Jembatan Mapo, pejalan kaki dapat menemukan pesan-pesan penyemangat yang ditinggalkan orang lain. Sebuah patung bertajuk One More Time juga ditempatkan di jembatan tersebut, menggambarkan seorang pria yang menghibur temannya. Perlahan, Jembatan Mapo pun mendapat julukan baru: Jembatan Kehidupan.

Kasus percobaan bunuh diri di Sungai Han memperlihatkan sisi lain kehidupan urban Seoul. Di balik budaya pop, kemajuan teknologi, dan taraf hidup yang tinggi, persoalan kesehatan mental dan tekanan hidup tetap menjadi bagian dari realitas masyarakat. Namun, berbagai upaya pemerintah, organisasi, dan publik menunjukkan bahwa ruang kota juga dapat dirancang untuk memberi kesempatan berhenti, berbicara, dan mendapatkan pertolongan. Di tengah kerasnya kehidupan urban, mungkin justru di situlah makna sebuah kota yang benar-benar hidup: bukan hanya menyediakan tempat untuk pergi, tetapi juga sistem yang membantu warganya tetap bertahan.
Jika Anda atau orang yang Anda kenal tengah mengalami krisis atau terpikir untuk mengakhiri hidup, segera hubungi layanan darurat atau psikolog. Di Indonesia, LISA Suicide Prevention Helpline menawarkan dukungan psikososial dan kesehatan mental selama 24 jam via WhatsApp dan panggilan telepon yang tersedia dalam bahasa Indonesia (+62811-3855-472) dan bahasa Inggris (+62811-3815-472). Anda juga bisa menghubungi hotline 119 (ekstensi 8) secara gratis untuk konsultasi kesehatan jiwa. Hidup Anda berharga.—Klaus Rachman