5 Destinasi Wisata di Kampung Halaman R.A. Kartini
Rayakan Hari Kartini dengan mengunjungi berbagai tempat menarik di Jepara.
Jeruk Jeju bukan lagi komoditas asing, terutama di kalangan para pencinta kuliner Korea. Dengan profil rasa yang distingtif, buah ikonik ini kerap ditawarkan sebagai salah satu minuman di restoran-restoran Korea. Bahkan, beberapa produsen minuman instan di Indonesia mengadopsinya sebagai salah satu varian rasa untuk produknya.
Tahun kemarin, hasil alam ini mendapatkan sorotan spesial berkat When Life Gives You Tangerine, drama Korea yang dibintangi Park Bo-gum dan IU. Dilansir dari Tempo English, popularitas serial tersebut tak hanya menaikkan pamor jeruk Jeju, tetapi juga mendorong pariwisata Jeju secara keseluruhan. Pasalnya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jeju sempat turun dalam tiga tahun terakhir sebelum serial dirilis.
Terlepas dari tren yang beredar, jeruk Jeju sejatinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kunjungan ke Jeju. Dengan riwayat selama puluhan abad, hadiah dari alam ini telah menjadi identitas gustatori destinasi ikonik tersebut.
Buah Persembahan
Kisah jeruk Jeju dapat ditarik ke era Tiga Kerajaan. The Korea Herald menyebutkan bahwa Jeju telah dikenal sebagai produsen sitrus sejak era Kerajaan Tamna. Di era Kerajaan Joseon, permintaan sitrus untuk dikirimkan ke Seoul tidak terpenuhi akibat produksi yang tidak mencukupi. Alhasil, sepanjang awal 1900-an, pemerintah mendirikan perkebunan sitrus untuk mengamankan jumlah hasil panen dan pasokan untuk kerajaan.

Meski demikian, secara spesifik kisah gamgyul atau jeruk mandarin Jeju berawal di tahun 1910an. Dilansir dari Visit Jeju, Pastor Emile Joseph Taquet yang bertugas di Gereja Katolik Seogwipo mendapatkan hadiah berupa 14 pohon onju gamgyul dari Pastor Urbain Faurie yang bertugas di Prefektur Aomori, Jepang. Konon, spesies ini menjadi varietas unggul pertama di Jeju. Sayangnya, dari ke-14 pohon, hanya satu yang bertahan. Ia hidup selama lebih dari seratus tahun sebelum mati pada April 2019.
Surga Jeruk
Legasi agrikultur Pastor Emile Joseph Taquet lebih dari sekadar pohon jeruk. Seogwipo, kota tempat tinggalnya yang juga merupakan kota resor terbesar di Pulau Jeju, menjadi pusat perkebunan jeruk. Portal DongA Science mengutip informasi dari Korea Rural Economic Institute yang menyebutkan bahwa sekitar 64% area pengembangan jeruk di Pulau Jeju berlokasi di Seogwipo.

Berada di pesisir selatan Jeju, Seogwipo diberkati iklim dan lanskap yang memadai untuk mengembangkan jeruk. Suhu udaranya relatif hangat; temperatur terendahnya bahkan tak pernah berada di bawah titik beku. Berdasarkan data statistik dari Invest Korea, pada 2020 saja Jeju memiliki 30 ribu perkebunan jeruk yang menghasilkan lebih dari 630 ribu ton jeruk dalam setahun.
Legasi Asam Manis
Bagi warga Jeju, gamgyul bukan sekadar hasil bumi. Ia telah menjadi salah satu komoditas penting yang memajukan perekonomian Jeju dan Korea Selatan secara umum. Sebagai tribut bagi buah ini, pemerintah Kota Seogwipo membuka sebuah destinasi edukatif bertema jeruk Jeju: Seogwipo Citrus Museum. Berjarak sekitar 40 menit dari episentrum urban Seogwipo, museum ini dibuka pada 2005.


Di dalamnya, para pengunjung bisa mengetahui lebih jauh tentang jeruk Jeju, serta beragam varietas jeruk dari seluruh dunia, termasuk varietas Buddha’s hand yang unik. Ada pula instalasi yang menyuguhkan informasi tentang tren industri jeruk, termasuk proses pengolahan buah menjadi produk. Stasiun aroma memungkinkan tamu untuk menghirup berbagai aroma jeruk, sementara galeri serangga menunjukkan simbiosis antara insekta dan pohon jeruk.
Pengalaman edukatif tak berhenti pada buah itu sendiri. Para pengunjung dapat menelusuri kehidupan tradisional para petani jeruk. Seogwipo Citrus Museum juga memiliki air terjun buatan, area bermain anak, dan bahkan trek haiking. Museum ini menawarkan pengalaman panen buah pada November hingga Februari tahun berikutnya bagi yang ingin mencoba memanen sendiri jeruk Jeju.
Dengan tiket seharga 1.500 won (sekitar Rp17.000) untuk tamu dewasa, Seogwipo Citrus Museum menjadi destinasi wisata keluarga unik yang memadukan pendidikan dengan pengalaman hands-on. Namun, di luar itu, kehadiran museum tersebut dan kisah jeruk Jeju menjadi “sentilan” kecil: bahwa di tengah eksploitasi alam global yang makin menggila, Korea Selatan justru berhasil menghargai dan melestarikan hasil alam tempatnya berdiri.—Rachman Karim