Travel 101: Kroasia
Hal-hal yang perlu diketahui sebelum berkunjung ke Kroasia.
Foto: Dokumentasi pribadi Kenny Santana
Awal 2010, ketika Twitter menjelma sebagai medium paling riuh di jagat digital, konsep berbagi cerita dalam 140 karakter terasa membatasi bagi banyak orang. Bagi Kenny Santana, justru sebaliknya. Ia melihat ruang kecil itu sebagai kanvas baru untuk menulis—ringkas, jujur, dan personal.
Lewat akun Twitter @kartupos, Kenny mulai membagikan potongan kisah perjalanan dan gaya hidup, memanfaatkan kebebasan yang tak selalu ia dapatkan di media cetak. Seiring waktu, lanskap media
sosial bergeser. Instagram tumbuh pesat, dan Kenny pun berpindah medium. Kini, Instagram @kartuposinsta telah diikuti lebih dari 114 ribu orang, menjadi arsip perjalanan yang tak sekadar visual, tetapi juga reflektif.
Boleh Anda ceritakan bagaimana @kartuposinsta bermula?
Saya memang berangkat dari dunia media cetak—koran dan majalah. Twitter memberi saya kebebasan untuk menulis tanpa harus menunggu persetujuan redaksi. Meski terbatas 140 karakter, tapi saya bisa bebas membahas tentang tema apapun. Dari sana, audiens bertambah, lalu datang undangan talkshow dan media trip berkat koneksi dari pekerjaan saya terdahulu. Saat Instagram naik, saya ikut berpindah dan mulai membangun @kartuposinsta di sana.
Apa tantangan terbesar Anda sebagai seorang travel influencer?
Awalnya tentu soal menjangkau audiens. Untuk konten sponsor, angka tetap penting. Namun untuk unggahan pribadi, saya belajar melepaskan beban mengejar view. Liburan tidak boleh berubah menjadi proyek. Sekarang, fokus saya adalah menjaga keseimbangan antara menikmati liburan, tanpa terpaku media sosial. Saya selalu bilang ke pengikut: pengalaman adalah yang utama, konten hanyalah bonus.

Seperti apa proses kurasi konten yang Anda lakukan?
Saya tidak memilih destinasi berdasarkan tren. Saya pergi karena ingin, lalu bercerita jika menemukan sesuatu yang menarik. Untuk Reels, saya suka mengangkat hal-hal praktis, seperti tips transportasi di Jepang atau rekomendasi hotel, yang mungkin belum banyak dibahas, tapi relevan untuk pelancong. Misalnya, dalam kunjungan ke Jepang, saya belajar bahwa subway pass lebih terjangkau dibandingkan kartu PASMO atau Suica. Topik-topik terkait hotel dan bursa wisata juga menarik untuk dibahas.
Bisa ceritakan proses pembentukan @kartupostrip?
Sejak dulu, saya terbiasa merancang perjalanan sendiri—mencari tiket, hotel, dan menyusun itinerary. Awalnya hanya untuk teman. Ketika ada konser atau pertunjukan musikal di Singapura, saya coba membuat paket sederhana dan menawarkannya lewat Twitter. Tanpa modal besar. Kalau ada yang ikut, syukur. Dari situ, @kartupostrip tumbuh organik.
Bagaimana Anda menentukan sebuah destinasi atau acara untuk disambangi?
Untuk konser, biasanya berdasarkan permintaan pengikut dan popularitas sang musisi. Di luar itu, saya memilih destinasi yang juga ingin saya kunjungi. Kadang, inspirasi datang dari peserta trip. Pernah ada yang bercerita tentang Uzbekistan—saya penasaran, lalu riset dan akhirnya membawa rombongan ke sana.

Sejauh ini, apa destinasi favorit Anda?
Jepang tak pernah membosankan. Dalam dua tahun terakhir, saya menyambangi Tokyo,
Osaka, dan Kyoto. Namun, saya ingin menjelajah prefektur lain, melihat sisi yang lebih sunyi. Untuk trip bersama @kartupostrip, Mesir menjadi kejutan terbesar. Tanpa trip ini, mungkin saya tak akan pernah tahu betapa luar biasanya negara tersebut.
Terakhir, boleh ceritakan rencana yang Anda miliki ke depannya?
Ke depan, saya ingin fokus pada konten yang sederhana, tapi berguna. Untuk trip, saya tertarik membuka destinasi yang belum banyak terpikirkan. Di dalam negeri, saya juga mulai mengembangkan paket staycation karena kini banyak hotel Indonesia yang kualitasnya diakui dunia. Tahun ini, Georgia, Italia, dan Afrika masuk radar perjalanan saya.—Rachman Karim
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026