Panen Raya Menggugah Kesadaran Lewat Seni di Art:1 New Museum
Dari karya Affandi hingga SBY, pameran ini merangkai kisah tentang pangan dan harapan.
Foto dan teks oleh Rachman Karim
Terik matahari siang itu terasa menyengat, meski hujan baru saja turun beberapa jam sebelumnya. Bersama seorang sepupu, saya berteduh di sebuah gerai teh susu asal Taiwan sambil menyesap segelas teh dingin. Ia membuka peta di ponselnya, lalu memiringkan layar ke arah saya.
“Di sini, ya?” tanyanya, menunjuk sebuah penanda di Pantai Indah Kapuk (PIK).
Saya mengangguk. Kami memang berencana makan siang di kawasan yang dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner PIK paling ramai di Jakarta. Namun kali ini saya punya tujuan tambahan, yakni sebuah tempat yang beberapa minggu terakhir kerap muncul di linimasa media sosial: Galeri Budaya Tionghoa Indonesia.
Diresmikan pada akhir Januari 2026, galeri ini hadir sebagai destinasi wisata budaya baru di PIK. Lokasinya berada di Pantjoran PIK, kawasan pecinan modern yang populer berkat pagoda merah dan patung Dewi Kwan Im yang ikonis. Di antara deretan toko makanan, kedai kopi, dan suvenir, fasad galeri ini tampil mencolok dalam gaya Peranakan dengan balutan warna salem yang lembut.

Begitu melangkah masuk, kami disambut oleh sebuah kedai teh kecil di dekat area registrasi. Namanya Tiga Saudara. Sebuah ruang yang terasa seperti pengantar sebelum memasuki perjalanan sejarah. Kedai ini menyajikan berbagai teh dari Tiongkok, lengkap dengan etalase yang memamerkan kecap asin, hio, hingga teko-teko keramik klasik. Pengunjung bisa berhenti sejenak di sini, menikmati seduhan aromatik sebelum menjelajahi galeri.
Setelah mendaftarkan diri, kami diarahkan menuju lantai dua. Galeri Budaya Tionghoa Indonesia dibagi menjadi tiga zona utama. Zona pertama, Ruang Kedatangan, membuka cerita tentang awal perjalanan para imigran Tiongkok di Nusantara. Lewat video animasi yang atraktif, kisah migrasi ini disampaikan dengan cara yang ringan, tapi tetap menyisakan emosi yang berisi tentang harapan, perjuangan, dan pencarian tempat baru untuk hidup.

Dua zona berikutnya, Ruang Kesaksian dan Ruang Keakraban, terletak dalam satu ruang memanjang yang dipisahkan partisi kayu berukir. Di Ruang Kesaksian, narasi berfokus pada berbagai tantangan yang dihadapi komunitas Tionghoa, termasuk persoalan identitas. Sebuah altar sederhana menjadi titik perhatian di tengah ruangan. Di atasnya tersusun perlengkapan sembahyang seperti hiolo dan wadah ciamsi, ritual meramal menggunakan stik bambu bernomor.
Berpindah ke Ruang Keakraban, atmosfernya terasa lebih hangat. Dinding dipenuhi potret keluarga dan dokumentasi kehidupan sehari-hari komunitas Tionghoa Indonesia. Melalui layar video, para pengunjung dapat mendengar kisah personal tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang sarat dengan cerita tentang adaptasi, kontribusi, dan kebersamaan.

Di tengah ruangan, sebuah meja makan antik lengkap dengan enam kursi dipajang sebagai instalasi utama. Ceruk kecil di permukaan meja menampilkan replika makanan yang terasa akrab seperti bakso, biji salak, dan hidangan lain yang kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Daftar kuliner Tionghoa Indonesia terpajang di dinding, mengingatkan bahwa warisan budaya ini telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Zona ini juga menyoroti dunia hiburan dan fesyen tradisional. Sebuah panggung wayang potehi tampil memikat dengan ukiran beraksen emas, lengkap dengan boneka-bonekanya. Pakaian khas seperti kebaya nyonya dipamerkan sebagai bagian dari perjalanan identitas budaya.


Di sudut ruangan, dua permainan interaktif menunggu pengunjung. Paling menarik perhatian saya adalah simulasi memasak bergaya mesin dingdong yang nostalgis dan mengingatkan pada masa kejayaan arkade akhir 1990-an.
“Seperti Cooking Mama, tapi kita membuat kue bulan,” ujar sepupu saya sambil tertawa.
Kami kemudian bergerak menuju area pameran temporer yang terhubung dengan teras lantai dua. Bertajuk “≠” atau “Tidak Sama Dengan”, pameran ini mengajak pengunjung merefleksikan isu identitas dan keberagaman. Karya-karya dari seniman Tionghoa Indonesia seperti FX Harsono, Edita Atmaja, dan Yaya Sung dipresentasikan sebagai dialog visual tentang pengalaman menjadi “berbeda” di tengah masyarakat.


Sebelum pulang, sepupu saya meminta saya berfoto di kedai teh tadi. Melihat hasil foto di layar ponsel, saya spontan melontarkan sebuah lelucon lama yang sudah sering saya ulang selama bertahun-tahun.
“Citato [Cina tanpa toko] akhirnya punya warung,” celetuk saya.
Kami pun tertawa kecil.
Saat meninggalkan galeri, ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Kekaguman atas betapa kayanya warisan budaya Tionghoa di Indonesia bercampur dengan kesadaran akan perjalanan panjang—dan kadang pahit—yang pernah dilalui komunitas ini.
Kehadiran Galeri Budaya Tionghoa Indonesia di Pantjoran PIK terasa penting. Bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai ruang dialog tempat sejarah, identitas, dan budaya dirayakan sekaligus direnungkan bersama.
Kompleks Pantjoran PIK, Pantai Indah Kapuk; Buka Kamis-Jumat dari 12.00 hingga 21.00, dan Sabtu-Minggu dari 11.00 sampai 21.00; instagram.com/galeribudayationghoa.id.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026