Menemukan Sunyi di Jumeirah Bali
Program Nyepi Serene Retreat merangkul tradisi, refleksi, dan ketenangan batin.
Grand Hotel Preanger Bandung, salah satu hotel tertua di Bandung, memasuki babak cerita baru. Per 5 September 2026, hotel yang terletak di Jalan Asia Afrika ini membuka lembaran baru setelah menjalani peremajaan masif.
Setelah sempat dikelola secara independen pada era 1920-an hingga diambil alih pemerintah pada 1980-an, Grand Hotel Preanger Bandung kini bergabung dalam jaringan Marriott Bonvoy di bawah bendera Tribute Portfolio. Kehadirannya juga menandai sejarah sebagai hotel Tribute Portfolio pertama di Jawa Barat.
“Tribute Portfolio menyatukan hotel-hotel independen yang memiliki karakter kuat, desain yang menawan, serta kedekatan erat dengan komunitas lokalnya,” ungkap Ramesh Jackson, Regional Vice President, Indonesia & Malaysia, Marriott International. “Grand Hotel Preanger Bandung sangat mewakili nilai-nilai tersebut. Dengan sejarahnya yang kaya dan posisinya yang lekat dengan budaya kota Bandung, hotel ini sangat cocok menjadi bagian dari keluarga Tribute Portfolio. Kami senang bisa mengajak wisatawan untuk merasakan pengalaman menginap yang memadukan sejarah panjang kota ini dengan semangat kreatif yang terus berkembang.”
Cerita Grand Hotel Preanger dimulai pada 1897. Kala itu, ia berfungsi sebagai penginapan sederhana sebelum akhirnya dipugar pada 1929 oleh arsitek Belanda, C.P. Wolff Schoemaker, bersama muridnya, Soekarno. Arsitekturnya mengusung gaya Tropical Art Deco yang ikonik, sebelum pemerintah daerah menambahkan gedung modern setinggi sembilan lantai pada akhir 1980-an.

Kini, di bawah jaringan internasional, hotel yang telah melayani beberapa generasi wisatawan tersebut siap menyambut era modern. Tampilannya terasa lebih segar tanpa meninggalkan identitas historisnya. Hotel ini kini memiliki 188 kamar dan suite dengan luas mulai dari 32 meter persegi. Desain Art Deco tetap menjadi benang merah utama interior, dipadukan dengan palet warna krem hangat yang memberi suasana lebih kontemporer.
Fasilitasnya pun diremajakan. Satu restoran utama, Huis Van Preanger, menjadi restoran all-day dining dengan menu Indonesia dan internasional, termasuk hidangan khas Belanda yang membawa kembali sedikit nostalgia. Sementara itu, The Saloon Lounge menjadi ruang untuk berkongko dan menikmati teh sore sembari menyaksikan pertunjukan musik Sunda atau jaz secara langsung.
Hotel bintang lima ini juga menyambut pasar MICE di Bandung dengan menghadirkan ballroom berkapasitas 600 tamu serta 11 ruang rapat privat. Dengan lokasinya di kawasan Jalan Asia Afrika, hotel ini sekaligus menempatkan tamu dekat dengan salah satu koridor paling bersejarah di pusat kota Bandung.
“Grand Hotel Preanger Bandung selalu menjadi tempat di mana sejarah, budaya, dan komunitas bersatu,” ungkap Lily Wijaya, Multi-Property General Manager Grand Hotel Preanger Bandung, a Tribute Portfolio Hotel dan Four Points by Sheraton Bali, Ungasan. “Identitas yang kuat inilah yang membuat hotel ini sangat cocok dengan konsep Tribute Portfolio. Mulai dari arsitektur hotel yang ikonik dan interior yang kaya akan nilai sejarah, hingga pengalaman yang menghubungkan tamu dengan masyarakat serta kisah-kisah di kota Bandung.”
Pada 2027, hotel yang pernah menjadi tempat menginap delegasi Konferensi Asia Afrika ini akan menambah fasilitas spa dan pusat kebugaran, melengkapi transformasinya sebagai salah satu hotel bersejarah di Bandung yang mencoba menjembatani warisan masa lalu dengan kebutuhan wisatawan masa kini.—Yohanes Sandy