Legasi Multidimensi di Louis Vuitton Visionary Journeys Seoul
Dari bengkel koper hingga restoran asuhan koki berbintang Michelin dalam satu atap.
Foto utama: Rachman Karim/TFL Paper
Memasuki kuartal terakhir 2026, Art Jakarta hadir sebagai perayaan seni yang menyegarkan bagi pencinta seni dan penikmat gaya hidup urban. Berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, edisi tahun ini tampil lebih besar dengan partisipasi lebih dari 70 galeri lokal dan mancanegara. Pengalaman pengunjung pun melampaui ruang pamer, dari eksplorasi aromatik di booth Aesop hingga kolaborasi desain MINI dan Paul Smith.
TFL Paper berkesempatan mengunjungi bursa seni ini pada hari pertama dan terakhir. Di antara beragam karya, instalasi, dan gagasan yang memenuhi ruang pamer, kami menemukan lima karya yang meninggalkan kesan tersendiri.
Mixed Reality karya Lim Yonghyun

Perkembangan teknologi membuka kemungkinan baru dalam seni, melampaui batas kanvas dan medium konvensional. Lim Yonghyun mengeksplorasi pertemuan seni digital dan tradisional melalui Mixed Reality. Dibawa oleh Artspace House dari Korea Selatan, karya ini memadukan kolase kertas berbentuk apartemen dengan layar yang menampilkan animasi aktivitas warga dan elemen fantasi. Penempatannya yang presisi menciptakan komposisi magis yang terasa akrab sekaligus mengundang imajinasi.
Kolaborasi Bibit, Stockbit, dan Endry Pragusta

Berwarna putih dan berukuran masif, Lost at Sea menjadi salah satu instalasi yang mencuri perhatian. Karya kolaboratif seniman asal Yogyakarta, Endry Pragusta, bersama Bibit dan Stockbit ini mencakup School of Medusa II, berupa rakit yang membawa beragam objek, termasuk sosok manusia berselimut di atas tumpukan barang. Laut hadir sebagai lanskap yang terus berubah dan sulit diprediksi, sebuah metafora bagi perjalanan finansial yang menuntut pembelajaran, ketekunan, dan kemampuan menavigasi ketidakpastian.
Baca juga: 5 Karya Instalasi dan Patung Paling Menarik di Art Jakarta Gardens 2026
Bible Collection karya BART

Seniman Indonesia yang menggunakan nama samaran BART menerjemahkan kekristenan dan kisah-kisah Injil ke dalam bahasa visual yang segar dan kontemporer. Dalam Bible Collection, resin dibentuk menyerupai Kitab 1 Korintus, khususnya ayat 11–13. Bagian halamannya dilengkapi rak untuk memajang karya BART lainnya, mulai dari The Deliverer, yang menggambarkan Moses, hingga The Shepherd King, yang menampilkan figur kartuni David dan Goliath.
Kolaborasi AIA dan Iwan Tirta

Warisan batik sebagai bagian penting dari fesyen dan kebudayaan Indonesia mendapat ruang melalui The Living Legacy, kolaborasi AIA dan Iwan Tirta. Pengunjung diajak menelusuri arsip sang desainer sekaligus merefleksikan kenangan dan nilai yang membentuk diri. Di dalam ruang merah menyerupai labirin, kreasi berukuran besar memungkinkan detail batik diamati dari dekat. Pengunjung juga dapat meninggalkan pesan penyemangat melalui kertas stiker, menjadikan pengalaman ini lebih personal dan interaktif.
I Need Fresh Air karya Naufal Abshar

Salah satu karya yang terasa dekat dengan suasana zaman adalah I Need Fresh Air karya Naufal Abshar. Lukisan ini menampilkan seorang pria berkacamata hitam, mengenakan busana biru bermotif garis kuning, membelakangi audiens sambil menghela napas. Di sampingnya, tulisan “I Need Fresh Air” tampil lugas. Sederhana, tetapi mudah dipahami: sebuah gambaran kejenuhan dan keinginan mengambil jeda di tengah dunia yang terasa semakin melelahkan, termasuk ketika berita tentang bencana alam terus berdatangan.—Rachman Karim
Menggabungkan kebugaran, pemulihan tubuh, mindfulness, dan interaksi komunitas. 12-18 Okt 2026
Festival sastra tahunan ini menghadirkan lebih dari 100 sesi. 21-25 Okt 2026