Rekomendasi Kamera Terbaik untuk Traveling
Berbagai pilihan kamera sesuai kebutuhan yang cocok dibawa bepergian.
Foto utama: Expedia
Di tangan saya, segelas punch tampak menyegarkan. Saya menyesapnya perlahan, mencoba menebak bahan-bahan yang membentuk profil rasa yang tak biasa di lidah.
“We combined pineapple with kiamboi,” jelas Anna Abdul Malik, Assistant Director of Marketing Communications Renaissance Kuala Lumpur Hotel & Convention Centre. “Here, we pick pineapple as a tribute to the Bukit Nanas.”
Rasa asam manis nanas berpadu dengan kiamboi yang menyumbangkan sentuhan gurih. Sekilas, kombinasi ini mengingatkan saya pada permen dengan jargon “manis asam asin, ramai rasanya” yang sempat populer pada era 2000-an.
“The bukit is close, ‘kan?” tanya saya. Aksen Manglish mendadak menyelinap dalam percakapan.
“Correct. Just cross the street, and the bukit is over there,” jawab Anna. “Back then, the king planted nanas all over the bukit to deter the attackers from invading.”

Menarik. Saya belum pernah mendengar kisah itu sebelumnya. Beberapa kali berkunjung ke ibu kota Malaysia, yang saya kenal dari Bukit Nanas hanyalah KL Tower dan restoran berputar di puncaknya. Rupanya, bukit yang berada di tengah denyut metropolitan ini menyimpan cerita yang sama menariknya dengan makan malam yang menanti.
Baca juga: 7 Taman Hiburan yang Wajib Dikunjungi di Malaysia
Duri-Duri Pertahanan
Dengan ketinggian 94 meter, Bukit Nanas memiliki kaitan erat dengan pertambangan timah di kawasan Ampang. Namun, sejarahnya juga bersinggungan dengan perang sipil pada abad ke-19. Menurut arsip Free Malaysia Today, bukit ini sebelumnya dikenal sebagai Bukit Gombak. Pada masa Perang Saudara Klang, Raja Mahadi, dengan dukungan Sutan Puasa dan Raja Asal, membangun benteng di puncaknya.
Untuk memperkuat pertahanan, nanas ditanam mengelilingi benteng. Tubuh buah yang tajam dan berduri dipercaya mampu menghalangi musuh yang datang bertelanjang kaki. Strategi itu tak cukup untuk memenangkan perang. Raja Mahadi dan kelompoknya akhirnya kalah, dan ia diasingkan ke Singapura hingga wafat pada 1882. Meski demikian, jejak perjuangannya tetap hidup melalui nama Bukit Nanas.
Kopi dan Sekolah
Nama Bukit Nanas bukan satu-satunya julukan yang pernah disandang kawasan ini. Menurut Loka, bukit tersebut sempat disebut Weld Hill sebagai penghormatan kepada Sir Frederick Weld, Gubernur Negeri-Negeri Selat pada 1880–1887. Buruh Tionghoa, sementara itu, mengenalnya sebagai kopi san atau bukit kopi, merujuk pada perkebunan kopi yang pernah berada di puncaknya.

Memasuki abad ke-20, dua institusi pendidikan dan keagamaan berdiri di kawasan ini: Convent Bukit Nanas dan St. John’s Institution. Keduanya masih beroperasi hingga kini. Convent Bukit Nanas bahkan dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan nasional yang melahirkan sejumlah tokoh, termasuk Tengku Permaisuri Hajah Norashikin, Permaisuri Selangor saat ini.
Baca juga: Hidup Baru untuk Seri Negara
Menyempit untuk Meninggi
Tahun 1906 menandai babak baru ketika pemerintah kolonial menetapkan kawasan ini sebagai Bukit Nanas Forest Reserve. Dengan luas awal 17,5 hektare, kawasan tersebut tercatat sebagai cagar alam tertua di Malaysia. Forest Research Institute Malaysia menyebut sekitar 425 spesies tanaman hidup di sini, termasuk Tarenna rudis yang langka, meranti batu, dan sengkawang yang masuk kategori terancam.
Sebagai oasis hijau di tengah kota, Bukit Nanas Forest Reserve pernah memiliki beragam fasilitas wisata, termasuk kereta gantung yang ikonik. Dalam artikel New Straits Times, wahana ini dijuluki bubble car karena bentuk gondolanya menyerupai gelembung. Menawarkan panorama hutan dan kota, atraksi tersebut ditutup pada 1980-an dan tak pernah beroperasi kembali.

Seiring pertumbuhan Kuala Lumpur, pembangunan turut mengubah lanskap bukit. Menurut Rainforest Journal, luas kawasan cagar alam menyusut dari 17,5 menjadi 9,3 hektare akibat berbagai proyek di sekitarnya, termasuk Menara Kuala Lumpur atau KL Tower. Pembangunannya dimulai pada 1991 dan menara ini resmi dibuka lima tahun kemudian. KL Tower merupakan menara komunikasi tertinggi ketujuh di dunia dan pernah menjadi bangunan tertinggi di Malaysia, sebelum posisinya diambil alih Menara Kembar Petronas pada 1998.

Kini, Bukit Nanas Forest Reserve dikenal sebagai KL Forest Eco Park. Salah satu daya tarik utamanya adalah Canopy Walk, rangkaian jembatan gantung setinggi 21 meter yang menyuguhkan perspektif berbeda atas hutan kota. Dari ketinggian, hamparan dedaunan hijau beradu kontras dengan barisan pencakar langit Kuala Lumpur. Bagi pencinta kegiatan luar ruang, empat rute pendakian tersedia untuk dijelajahi. Jika beruntung, pengunjung juga dapat menjumpai lutung kelabu atau monyet ekor panjang yang menghuni kawasan ini.
Bagi pelancong yang ingin mengambil jeda dari ritme Kuala Lumpur, Bukit Nanas menawarkan pengalaman yang tak sekadar menyegarkan mata. Kisahnya mengingatkan saya bahwa sesuatu sesederhana nanas pernah menjadi bagian dari strategi perlawanan—sebuah simbol yang mengundang perbandingan dengan semangka, yang digunakan sebagai lambang solidaritas terhadap Palestina.—Rachman Karim
Menggabungkan kebugaran, pemulihan tubuh, mindfulness, dan interaksi komunitas. 12-18 Okt 2026
Festival sastra tahunan ini menghadirkan lebih dari 100 sesi. 21-25 Okt 2026