Ada Desa Swiss di Tanah Jeju
Hadirkan atmosfer Alpen ke timur laut Jeju.
Foto utama: Seri Negara
Tersembunyi dari hiruk-pikuk pusat politik dan gedung parlemen, Seri Negara (serinegara.com.my) menghadirkan potongan masa lalu Kuala Lumpur yang berlapis. Bangunan ini lahir dari era ketika kota masih berada di bawah payung British Commonwealth, saat Kuala Lumpur bertransformasi dari pos penambangan timah menjadi pusat administrasi kolonial. Arsitektur pemerintahan kala itu tidak dirancang untuk memamerkan kemegahan, melainkan untuk melayani fungsi diplomasi, kebijaksanaan, dan keberlanjutan. Kini, Seri Negara masih memanggul warisan tersebut. Di tengah perpindahan pusat pemerintahan ke Putrajaya, ia berdiri sebagai pengingat akan fase awal terbentuknya sistem tata kelola modern Malaysia.
Berlokasi tak jauh dari Taman Tasik Perdana, Seri Negara awalnya merupakan kediaman resmi pejabat tinggi Inggris yang rampung dibangun pada 1913. Letaknya berdekatan dengan Carcosa, bangunan bergaya Tudor Revival, dan bersama-sama keduanya membentuk kompleks Carcosa Seri Negara. Lingkungan ini sejak awal dirancang sebagai ruang yang tenang dan jauh dari riuh kota, sebuah kualitas yang masih terasa hingga kini.

Memasuki era pascakemerdekaan, fungsi bangunan ini bergeser. Pada 1989, Seri Negara menjelma menjadi hotel butik yang dikenal luas, terutama berkat tradisi teh sore yang elegan. Dalam catatan Asia’s Legendary Hotels: The Romance of Travel, properti ini bahkan pernah menjadi tempat singgah Ratu Elizabeth II dalam kunjungan kenegaraannya. Namun, perjalanan tersebut sempat terhenti ketika hotel ditutup pada 2015.
Baca juga: Travel 101: Malaysia
Perhatian publik kembali tertuju pada Seri Negara pada 2018, ketika bangunan ini tampil dalam film Crazy Rich Asians. Momentum tersebut memicu langkah konservasi yang lebih serius. Melalui inisiatif Warisan KL, proses restorasi dimulai pada awal 2025 dan rampung pada akhir tahun, mengembalikan Seri Negara sebagai destinasi budaya dan sejarah yang relevan bagi generasi hari ini.
Saat ini, Seri Negara hadir dengan empat galeri utama yang dirancang sebagai perjalanan naratif. Galeri “Dinding Berbicara” membuka pengalaman dengan pendekatan sinematis, menghidupkan sejarah dari sudut pandang bangunan itu sendiri. Galeri berikutnya mengajak pengunjung memahami peran komunitas Melayu, Borneo, Tionghoa, dan India dalam membentuk identitas Malaysia melalui instalasi interaktif. Di ruang selanjutnya, artefak penting menuturkan perjalanan menuju kemerdekaan, termasuk dokumentasi perjanjian 1957. Perjalanan ditutup dengan refleksi tentang Malaysia pascakemerdekaan hingga posisinya di kawasan Asia Tenggara hari ini.

Di luar ruang pamer, Seri Negara juga merangkul fungsi gaya hidup. Ruang Merdeka menghadirkan program seni yang terus diperbarui, sementara Serai House dan Semuka Cafe menawarkan pengalaman bersantap yang melengkapi kunjungan, dari cita rasa Melayu modern hingga suasana kasual untuk santai sore.
Di luar reputasinya sebagai salah satu situs sejarah penting di Kuala Lumpur, Seri Negara kini menjadi ruang kontemplatif di tengah kota yang terus bergerak cepat. Ia mengingatkan bahwa di balik modernitas Kuala Lumpur, ada lapisan cerita yang tetap relevan untuk dipahami, dirasakan, dan dirawat.—Rachman Karim
Artikel ini dimuat di TFL Paper Print Vol. 2.
Menggabungkan kebugaran, pemulihan tubuh, mindfulness, dan interaksi komunitas. 12-18 Okt 2026
Festival sastra tahunan ini menghadirkan lebih dari 100 sesi. 21-25 Okt 2026