Social House Tampilkan Instalasi Seni Kaca Daur Ulang
Berkolaborasi dengan Museum MACAN, restoran ini hadirkan karya seni dari botol wine.
Foto utama: Rachman Karim/TFL Paper
Dalam setiap hubungan—baik antarmanusia maupun antara manusia dan alam—selalu ada dorongan untuk berbagi. Wujudnya bisa beragam: benda, gagasan, emosi, hingga tindakan kecil yang lahir dari kepedulian. Berangkat dari gagasan tersebut, ArtMoments Jakarta 2026 mengusung tema Offerings, mengeksplorasi seni sebagai bentuk persembahan bagi sesama dan bumi.
Kami berkesempatan mengunjunginya tepat pada hari pembukaan, 4 Juni 2026. Digelar di Agora Ballroom selama empat hari, bursa seni ini menghadirkan sekitar 70 galeri dan seniman dari berbagai negara Asia, termasuk Indonesia, Thailand, Singapura, dan Korea Selatan. Jangkauan tersebut semakin mengukuhkan posisi ArtMoments sebagai salah satu ruang dialog seni kontemporer paling penting di kawasan.


Untuk edisi tahun ini, pengarah seni sekaligus dosen seni rupa Universitas Negeri Jakarta, Jeong Ok-Jeon, dipercaya merancang pengalaman artistik yang lebih komprehensif melalui visi kuratorialnya. Pembukaan ArtMoments Jakarta 2026 turut dihadiri sejumlah figur penting, mulai dari Co-Founder dan Fair Director ArtMoments Jakarta Sendy Widjaja hingga Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya.
Baca juga: ArtMoments Jakarta 2025 Hadirkan Pameran, Dialog, dan Kepedulian Sosial
Acara pembukaan dilanjutkan dengan Sajja, karya performatif dari Henri Affandi, seniman yang dikenal lewat eksplorasi tema identitas poskolonial dan antiimperialisme. Melalui proses bercocok tanam—sebuah praktik yang lekat dengan identitas Indonesia sebagai bangsa agraris—Henri menghadirkan persembahan puitis bagi Ibu Pertiwi yang terasa reflektif sekaligus relevan.
Alur kunjungan dibentuk oleh dialog lintas generasi. Nama-nama besar seperti Gregorius Sidharta, Jeihan Sukmantoro, dan Sudjana Kerton berbagi ruang dengan seniman generasi baru, termasuk Arifin Neif dan Demi Padua. Medium yang ditampilkan pun beragam, dari lukisan poliptik karya Nyoman Budiarta hingga instalasi berskala besar seperti Unbound Adornment karya Allyseon Jeong.


Saat menyambangi booth Ted Van der Hulst, kami dibuat tersenyum oleh potret-potret “anabul” yang jenaka. Di Grey Art Gallery, karya Revaleka dan Toni Antonius dipajang berdampingan, mengolah tema kekristenan menjadi narasi visual yang dramatis. Sementara itu, Andita Purnama Sari menghadirkan pengalaman yang mengusik sekaligus memikat lewat pertunjukan Babad Tanah Leluhur, lengkap dengan mahkota cabai dan bawang merah yang mengingatkan pada ritual pengusiran roh dalam tradisi Nusantara.
Baca juga: ISA Art Gallery Jakarta Tutup 2025 dengan Pameran Tunggal Ida Lawrence
Menyentuh ranah musik, ArtMoments turut menghadirkan grand piano Bösendorfer edisi kolektor bertajuk Tree of Life, terinspirasi dari mahakarya Gustav Klimt. Sementara itu, DENZA berkolaborasi dengan Devialet menghadirkan pengalaman audio imersif melalui Head in the Space karya Gabriel Cheah.

Agenda tahun ini juga dirancang lebih inklusif. Program ArtMoments Master menjadi tribut bagi para maestro seni Asia Tenggara, sementara Intimacy of Offerings mengajak pengunjung menafsirkan tema pameran secara personal. Untuk generasi baru, hadir ARTFace, Young Collectors Program, hingga MobArt’s Kids Section di bawah asuhan Hong Ji-min—ruang kreatif yang bahkan membuat para orang dewasa tergoda untuk kembali menjadi anak-anak.
Kesuksesan ArtMoments Jakarta 2026 kembali menegaskan posisi Indonesia dalam peta seni Asia. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, pameran ini mengingatkan bahwa seni, pada akhirnya, selalu berawal dari sebuah persembahan: waktu, perhatian, dan keinginan untuk terhubung dengan sesama.—Rachman Karim