“Wisman mulai lirik kawasan pedesaan di Jepang…”
Wawancara eksklusif bersama Yoshiko Iwamoto, Direktur Senior JNTO Jakarta.
Foto utama: Supanut Arunoprayote/Wikimedia Commons
Dalam film biopik Gie arahan Riri Riza, ada satu momen yang terasa puitis. Karakter Gie (diperankan oleh Nicholas Saputra), menghadiri sebuah pertunjukan musik kecil. Di atas panggung, Ira (Sita Nursanti) memainkan gitarnya sambil menyenandungkan sebuah tembang berjudul Donna Donna.
Lagu tersebut diadaptasi langsung dari lagu berbahasa Yiddi berjudul Dos Kelbl, mengisahkan nasib naas seekor sapi yang akan dibawa ke pejagalan. Frasa “rumah jagal” sendiri kerap terdengar ngeri. Namun, di Distrik Hongkou, Shanghai, sebuah bangunan bekas abatoar berhasil bertransformasi menjadi wadah kongko yang trendi. Sepelemparan batu dari Sofitel Shanghai North Bund, ia bernama 1933 Old Millfun.
Kepingan Gotham
1933 Millfun Old dibangun pada 1933, saat Shanghai berada di puncak era jaznya. Hidden Architecture menyebutkan bahwa desainnya merupakan rancangan Andrew Balfour, seorang arsitek kelahiran Skotlandia. Langgam industrial dan Art Deco dikawinkan, melahirkan dialog antara fungsi dan tren arsitektur pada masanya. Jejak perjalanan waktu pada permukaan beton ekspos bangunan membangun kesan muram khas distopia Gotham (kota fiktif dalam komik Batman). Namun, inilah yang menjadikan 1933 Old Millfun salah satu relik arsitektur paling mengesankan di Shanghai.
-1024x683.jpg)
Strukturnya disokong oleh dinding-dinding setebal 50 sentimeter dengan bukaan di dalamnya yang membantu mendinginkan udara. Konfigurasi tangga dan ramp-nya dibuat kompleks bak jaring laba-laba, menghubungkan setiap koridor dan lantai. Uniknya, dilansir dari platform #SOSBrutalism, jendela-jendela dibuat menghadap ke barat untuk membantu proses reinkarnasi sapi-sapi yang dipotong, mencerminkan peran kepercayaan tradisional dalam pembangunan modern.
Hampir Mati
1933 Old Millfun dibangun sebagai abatoar tingkat kotamadya. Luasnya mencapai 31.700 meter persegi. Dilansir dari Metalocus, fasilitas publik ini merupakan salah satu yang terbesar dan paling modern pada masanya di Asia Timur. Gelar tersebut tentunya terasa ironis, mengingat pertumpahan darah yang terjadi di balik fasad brutalisnya yang sebenarnya mengagumkan.

Setelah beberapa dekade, perannya sebagai abatoar berakhir. Pada 1970-an, bangunan ini beralih fungsi menjadi pabrik obat. Bahkan, ia pun sempat menyambi sebagai gudang penyimpanan dingin sebelum akhirnya terbengkalai. Untungnya, properti ini direstorasi besar-besaran pada 2008. Dan seperti sapi-sapi yang telah dijagal di dalamnya, 1933 Old Millfun akhirnya bereinkarnasi menjadi destinasi gaya hidup yang trendi di jantung Shanghai.
Dari Fesyen hingga Ferrari
Proyek restorasi 1933 Old Millfun berhasil menghidupkan kembali bangunan bersejarah tersebut. Ia kini populer, terutama di kalangan para milenial dan seniman. Tak ada lagi sungai darah dan bau daging yang sempat mengisi ruang-ruangnya, tergantikan oleh aroma kopi dan masakan, serta musik dan obrolan tenang yang hidup di antaranya.


Sebagian gerai makan dan minum dapat ditemui di lantai pertama. Jaringan kedai kopi asal Amerika Serikat, Starbucks, membuka tokonya di sini. Robo Space 001 menghadirkan pengalaman minum yang unik, menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dengan miksologi. Ada pula Oncue, sebuah bistro Prancis arahan Johnston Teo yang sempat berkarir di dapur Odette, Singapura.
Semangat artistik pun turut mengisi ruang-ruang 1933 Old Millfun. Para pengunjung dapat menemukan beberapa galeri, butik independen, dan studio lokakarya. Bahkan, terdapat klub khusus bagi para pemilik Ferrari di Shanghai.
Transformasi 1933 Old Millfun menjadi ruang publik lebih dari sekadar proyek restorasi bangunan historis. Ia memberikan hidup kedua yang relevan dengan zamannya bagi sebuah relik arsitektur ikonis, seperti sebuah kutipan dari arsitek dan seniman Amerika Serikat, Vito Acconci: “Arsitektur bukanlah soal ruang, melainkan waktu.”—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026