TUMI Luncurkan “Gift Joy” untuk Musim Liburan 2025
Semangat perayaan dan kebersamaan dalam pesona dwiwarna.
Foto utama: Hongbin/Unsplash
Bicara soal fauna, Australia memang kerap diasosiasikan dengan kanguru dan koala. Namun, satu dekade terakhir, perhatian publik—terutama di media sosial—tersedot pada satu sosok lain: quokka. Hewan berkantung mungil yang masih berkerabat dengan walabi ini mendadak menjadi ikon budaya pop berkat swafoto “senyum”-nya yang viral, menjadikannya simbol kebahagiaan versi alam liar.
Untuk menyaksikan quokka di habitat aslinya, Western Australia adalah jawabannya. Populasi terbesar hewan ini hidup di Pulau Rottnest, sebuah pulau konservasi kelas A yang dapat dicapai dengan feri singkat dari Perth. Di sini, quokka bukan sekadar atraksi wisata, melainkan bagian dari lanskap keseharian—berbaur dengan pantai, danau garam, dan ritme hidup santai khas Australia Barat.
Murah Senyum
Quokka kerap dijuluki “hewan paling bahagia di dunia.” Wajahnya yang seolah selalu tersenyum, dipadu ukuran tubuh sekelas kucing rumahan, membuatnya mudah dicintai. Meski terlihat jinak, quokka adalah marsupial gesit—mampu melompat dan memanjat pepohonan kecil. Sebagai herbivora, mereka mengandalkan rumput dan dedaunan sebagai sumber pangan.

Namun, di balik pesonanya, quokka menghadapi tantangan serius. Menurut WWF Australia, spesies ini berstatus rentan akibat perubahan iklim, penyusutan habitat, dan kehadiran predator invasif. Karena itu, interaksi manusia di Pulau Rottnest diatur ketat: pengunjung dilarang menyentuh atau memberi makan quokka demi menjaga kelangsungan hidup mereka.
“Sarang Tikus” dan Gudang Garam
Nama Rottnest sendiri lahir dari salah kaprah sejarah. Pelaut Belanda abad ke-17 mengira quokka sebagai tikus raksasa dan menyebut pulau ini rattennest—“sarang tikus.” Dalam bahasa Aborigin Noongar, pulau ini dikenal sebagai Wadjemup, nama yang kini kembali digunakan untuk menghormati sejarah lokal.


Selain quokka, Rottnest juga menyimpan jejak industri garam lewat danau-danau asin seperti Pink Lake, Lake Baghdad, dan Serpentine Lake. Produksi garam yang dimulai pada 1869 kini telah berhenti, menyisakan lanskap unik untuk joging santai atau sekadar menikmati panorama. Bekas bangunan gudang garam pun beralih fungsi menjadi toko suvenir—transisi halus dari industri ke pariwisata.
Wisata Bahari
Pulau Rottnest juga surga bahari. Dengan lebih dari 60 pantai, pilihannya beragam: Little Armstrong Bay untuk ketenangan, Little Parakeet Bay yang ramah keluarga, hingga The Basin dengan gradasi biru yang dramatis. Pinky Beach, dengan pasir kemerahan dan Bathurst Lighthouse yang ikonis, menjadi penutup ideal hari. Opsi obyek wisata yang beragam menghadirkan esensi Rottnest: alam, sejarah, dan kebahagiaan yang berjalan beriringan.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026