Embers Open-Fire Grill, Destinasi Kuliner Baru di Mega Kuningan
Menikmati beragam hidangan bakar premium sambil menatap lanskap ibu kota dari ketinggian.
Teks dan foto oleh Rachman Karim
Setiap kali mendengar nama Jalan Banceuy, Bandung, ada dua hal yang spontan muncul di benak saya: Kopi Aroma yang legendaris dan deretan toko aksesori otomotif. Kawasan ini juga memikul bobot sejarah lewat Monumen Penjara Banceuy, tempat Soekarno dan tiga rekannya pernah ditahan di era kolonial. Kini, Jalan Banceuy menambahkan satu identitas baru dalam lanskapnya: destinasi wisata kuliner Bandung yang patut disinggahi.
Di antara etalase suku cadang mobil dan bengkel yang berderet rapi, Tapal Market muncul sebagai jeda yang tak terduga. Tengah ramai diperbincangkan di media sosial, restoran ini mengusung narasi gastronomi yang menjahit tradisi kuliner lokal dengan pendekatan rasa yang lebih modern dan eksperimental. Saat libur akhir tahun, saya menyempatkan diri mampir, penasaran pada bagaimana Tapal Market menafsirkan ulang memori-memori kuliner yang akrab.
Legasi Otomotif
Saya tiba di Tapal Market Bandung pada Jumat malam. Ketika hiruk-pikuk bisnis otomotif mulai mereda, restoran ini justru mulai menggeliat—seperti oasis kecil di Jalan Banceuy. Dari luar, interior Tapal Market terlihat jelas melalui jendela-jendela besar bergaya minimalis, tanpa pintu utama yang konvensional. Akses masuknya tersembunyi di sebuah gang di sisi selatan bangunan, seolah mengajak pengunjung untuk menikmati waktu sebelum benar-benar masuk.


Bangunan ini dulunya adalah bengkel kendaraan bermotor. Transformasinya menjadi restoran kontemporer tak serta-merta menghapus jejak masa lalu. Papan nama Tapal Market masih memanfaatkan pelang logam peninggalan bengkel, dengan logo-logo merek otomotif yang samar tapi tetap terbaca.
Di dalam, suasana terasa intim. Interior warna bumi berpadu dengan sentuhan wabi-sabi ala Jepang, sementara elemen industrial hadir lewat beton dan langit-langit yang dibiarkan terekspos. Show kitchen dengan meja bar memanjang menjadi pusat perhatian, tempat tangan-tangan cekatan meracik hidangan. Di salah satu sudut, sebuah lemari kecil memajang suvenir yang bisa ditebus, menambah lapisan pengalaman yang personal.
Lokal Mengglobal
DNA gastronomi Tapal Market berangkat dari keinginan untuk menengok kembali resep-resep lokal Indonesia, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa kuliner yang lebih modern. Hasilnya adalah kreasi yang terasa inventif, tetapi tetap membumi dan mudah dikenali lidah.
Nama-nama menunya seperti ajakan bernostalgia. Kue pukis, jajanan klasik masa sekolah, dihadirkan sebagai kudapan pembuka dengan pendekatan gurih. Liang teh, minuman rumahan untuk panas dalam, justru diposisikan sebagai es campur yang segar dan mengundang senyum.

Malam itu, pilihan saya jatuh pada Ramen Lodeh—sebuah keputusan yang sempat mengundang ragu, tapi berakhir meyakinkan. Kuah lodeh yang kaya kolagen berpadu dengan kaldu dan minyak cabai, menghadirkan lapisan umami tanpa menghilangkan karakter creamy dan asam khas lodeh. Isinya pun tak setengah hati: sayuran lodeh, pindang ajitama, ayam panggang, dan tempe rumput laut yang memberi tekstur.
Untuk penutup, Nanas Subang menjadi pilihan. Racikan nanas, mentimun, dan sunkist ini menawarkan kesegaran yang bersih. Rasa asam nanas memang lebih lembut, tertutup karakter hijau mentimun, tetapi justru menjadikannya minuman yang efektif menetralkan lidah selepas santapan gurih.
Di tengah denyut kawasan otomotif Jalan Banceuy, Tapal Market hadir sebagai ruang jeda. Sebuah undangan untuk berhenti sejenak dan mengapresiasi ulang budaya bersantap lokal. Kehadirannya mengingatkan bahwa pengalaman kuliner yang bermakna bisa ditemukan di tempat yang paling tak terduga, bahkan di antara gudang suku cadang sekali pun.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026