Salah satunya berdiri di Jawa Tengah.

Dikenal dengan karakter karyanya yang jenaka dan ringan, tapi reflektif, Ida Lawrence telah menempuh lebih dari satu dekade perjalanan di dunia seni kontemporer. Sempat mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta, seniman keturunan Indonesia–Australia ini kini menetap dan berkarya di Jerman. Ia memungut fragmen-fragmen keseharian—percakapan acak, kegelisahan personal, hingga absurditas hidup urban—lalu meramunya menjadi bahasa visual yang menggelitik lewat warna berani dan elemen teks yang subtil.

Menutup 2025 dan menyambut 2026, Ida menggelar ekshibisi solo bertajuk Hoarse Horse di ISA Art Gallery. Tiga belas karya penuh humor dan ironi mengisi ruang pamer, termasuk triptik menawan Karla’s Fox Story yang memperlihatkan kecenderungannya bermain narasi personal tanpa kehilangan daya kritik. Di sela pembukaan pameran, kami berbincang dengannya tentang tiga destinasi favorit untuk menyelami seni dan budaya—tempat-tempat yang, menurut Ida, mampu mengubah cara melihat dunia.

Museum Brandhorst

Museum Brandhorst. Die Pinakotheken.

Diresmikan pada 2009, Museum Brandhorst menjadi penanda penting geliat seni modern di München. Berada di kawasan Kunstareal—episentrum museum dan galeri kota—bangunan ini langsung mencuri perhatian lewat fasad berlapis 36 ribu batang keramik warna-warni. “Beberapa tahun lalu saya beruntung bisa melihat pameran Nicole Eisenman di sana,” kenang Ida. Di dalamnya tersimpan karya abad ke-20 dan ke-21, termasuk lebih dari 120 karya Andy Warhol—koleksi terbesar di luar Amerika Serikat—menjadikannya persinggahan wajib bagi pencinta pop art dan seni kontemporer.

Art Gallery of South Australia

ida lawrence
Fasad The Art Gallery of South Australia. The Art Gallery of South Australia.

Berdiri sejak 1881, galeri ini meninggalkan kesan mendalam bagi Ida berkat cara kurasinya yang tak konvensional. “Sering kali museum memisahkan karya berdasarkan periode atau nama seniman. Di sini, karya lintas generasi disandingkan lewat satu benang merah,” tuturnya. Dengan sekitar 45 ribu koleksi—terbesar kedua di Australia—galeri ini juga memiliki restoran yang menafsirkan seni ke dalam pengalaman kuliner. Festival tahunan Tarnathi di sini turut memberi ruang penting bagi seniman Aborigin dan Kepulauan Selat Torres.

Museum Batik Danar Hadi

ida lawrence
Museum Batik Danar Hadi. Batik Danar Hadi.

Bagi Ida, kecintaan pada tekstil selalu bersifat personal. “Saya selalu senang melihat contoh batik yang cantik dan mendengar kisah di balik pembuatannya,” ujarnya. Museum yang dibuka pada 2008 ini tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan koleksi sekitar 10 ribu helai batik. Selain menyusuri arsip kain, pengunjung dapat melihat langsung proses batik cap dan tulis—sebuah pengingat bahwa seni bukan hanya untuk dipandang, tetapi juga dirawat sebagai laku hidup sehari-hari.Rachman Karim

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More