Travel 101: Bhutan
Hal-hal yang perlu diketahui sebelum pergi ke Bhutan.
Foto utama: Svetlana Gumerova/Unsplash
Akhir 2026, Nagoya menjadi salah satu pusat perhatian Asia sebagai tuan rumah Asian Games ke-20. Perhelatan olahraga ini menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat kota di Prefektur Aichi yang memiliki karakter berbeda dari Tokyo maupun Kyoto. Di balik perannya sebagai tuan rumah ajang olahraga berskala internasional, Nagoya menawarkan perpaduan sejarah, kuliner khas, budaya industri, dan kehidupan kota yang dinamis—sebuah kombinasi yang membuatnya menarik untuk dijelajahi lebih jauh, bahkan setelah sorotan Asian Games berakhir.
Bagi yang berencana mengunjungi Nagoya selama atau setelah Asian Games 2026, berikut beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menjelajahi kota ini.
Akses ke Nagoya
Dari Indonesia, perjalanan menuju Nagoya saat ini membutuhkan setidaknya satu kali transit. Salah satu pintu masuk utama kota ini adalah Chubu Centrair International Airport (NGO), yang dapat dicapai melalui sejumlah kota transit di Asia.

Beberapa pilihan penerbangan menghubungkan Jakarta dengan Nagoya melalui Singapura menggunakan Singapore Airlines, Hong Kong dengan Cathay Pacific, Taipei bersama China Airlines, serta Hanoi atau Ho Chi Minh City melalui Vietnam Airlines. Dari bandara, perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menuju pusat kota Nagoya, membuat bandara ini menjadi gerbang praktis untuk memulai perjalanan di Aichi.
Baca juga: Shinkansen Kenalkan Kabin First Class
Kuliner Khas
Nagoya memiliki karakter kuliner yang kuat dengan cita rasa yang cenderung gurih dan kaya. Berada di kawasan Dataran Nobi yang subur, kota ini dikenal dengan sejumlah hidangan khas yang telah menjadi bagian dari identitas kulinernya—jenis makanan yang membuat perjalanan ke Nagoya terasa berbeda dari sekadar mengunjungi kota besar Jepang lainnya.
Salah satu yang paling dikenal adalah hitsumabushi, hidangan belut air tawar (unagi) yang disajikan bersama nasi dalam mangkuk kayu tradisional. Menariknya, hidangan ini dapat dinikmati dalam beberapa cara, mulai dari disantap langsung bersama nasi, ditambahkan bumbu pelengkap, hingga disiram dengan kaldu.

Cita rasa khas Nagoya juga hadir dalam miso nikomi, hidangan hot pot berisi mi udon tebal yang direbus langsung dalam kuah miso. Bagi pencinta hidangan berbahan daging, ada miso katsu, daging babi yang disiram dengan saus kental berbahan dasar miso merah, serta tebasaki, sayap ayam goreng dengan balutan saus bercita rasa manis dan asin.
Destinasi Kuliner
Untuk menjelajahi kuliner Nagoya dalam satu kawasan, Kinshachi Yokocho jadi opsi ideal. Berlokasi di depan Kastel Nagoya dan dibuka pada 2018, kawasan ini terbagi menjadi dua area dengan karakter berbeda, yaitu Zona Yoshinao dan Zona Muneharu.
Zona Yoshinao berada di dekat gerbang utama Kastel Nagoya dan dipenuhi restoran yang telah lama berdiri dengan hidangan khas Nagoya. Sementara itu, Zona Muneharu menghadirkan restoran-restoran yang lebih baru dengan pilihan kuliner yang lebih beragam.
Perjalanan kuliner juga dapat dilanjutkan ke Sakae, salah satu pusat perbelanjaan dan hiburan di Nagoya. Kawasan ini tidak hanya dipenuhi restoran dan toko, tetapi juga dikenal dengan kehidupan malamnya. Pilihan lainnya adalah Osu, kawasan di sekitar Kuil Osu Kannon yang terdiri dari lorong-lorong pertokoan dengan berbagai pilihan makanan dan jajanan yang cocok dijelajahi sambil berjalan kaki. Di sini, agenda makan dan berjalan kaki praktis berjalan beriringan.
Baca juga: Taman Bermain di Jepang dengan Kolam Wine dan Kopi
Destinasi Budaya
Nagoya memiliki sejarah yang panjang dan salah satu titik pentingnya dapat ditemukan di Kastel Nagoya. Kastel ini mulai dibangun pada 1615 dan menjadi salah satu ikon kota. Di dalam kompleksnya terdapat Honmaru Palace, yang menghadirkan gambaran mengenai arsitektur dan kehidupan pada periode Edo. Untuk melihat sisi lain dari sejarah Jepang, Meiji-Mura atau Museum Meiji-Mura menawarkan pengalaman yang berbeda. Museum terbuka ini menyimpan berbagai bangunan bersejarah dari periode Meiji yang dilestarikan dalam satu kawasan.

Sebagai kota yang juga dikenal melalui perkembangan industrinya, Nagoya memiliki sejumlah museum yang memperlihatkan perjalanan teknologi Jepang. Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology menampilkan sejarah perkembangan Toyota dan industri manufaktur Jepang. Sementara itu, SCMAGLEV and Railway Park, yang dibuka oleh JR Central pada 2011, memperkenalkan perkembangan teknologi perkeretaapian melalui koleksi sekitar 40 gerbong Shinkansen dan kereta Jepang lainnya.
Destinasi Wisata Alam
Meski lebih dikenal sebagai kota metropolitan dan pusat industri, Nagoya tetap memiliki ruang terbuka yang dapat menjadi pilihan untuk menikmati suasana yang lebih tenang. Beberapa taman di berbagai penjuru kota menawarkan kesempatan untuk berjalan santai dan beristirahat dari aktivitas perkotaan. Beberapa di antaranya adalah Taman Tokugawa, Taman Shirotori, Taman Meijo, Taman Tsuruma, dan Taman Higashiyama. Masing-masing menawarkan karakter yang berbeda, mulai dari taman bergaya Jepang hingga ruang hijau yang cocok untuk menikmati suasana kota dengan ritme yang lebih santai.
Baca juga: Mengenal Shinrin-Yoku, Praktik Forest Bathing di Jepang
Pilihan Akomodasi
Nagoya menawarkan beragam pilihan akomodasi, mulai dari hotel bintang empat hingga properti bintang lima yang berada di kawasan strategis kota. Bagi wisatawan, pilihan hotel juga dapat disesuaikan dengan gaya perjalanan, apakah lebih mengutamakan akses, pemandangan kota, maupun pengalaman menginap.

Untuk kategori bintang lima, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain Nagoya Prince Hotel Sky Tower, Nagoya Marriott Associa Hotel, dan Conrad Nagoya. Sementara itu, pilihan hotel bintang empat mencakup The Tower Hotel Nagoya, The Nagoya JR Gate Tower Hotel, dan Mitsui Garden Hotel Nagoya Premier.—Monika Febriana