Travel 101: Pahang, Malaysia
Hal-hal yang perlu diketahui sebelum berkunjung ke Pahang.
Foto utama: Liuuu/Pexels
Di sebuah tempuran tempat Sungai Yangtze dan Jialing saling bertemu, Chongqing berdiri dengan caranya sendiri. Kota ini menolak keteraturan geometri yang rapi. Datang ke Chongqing berarti siap kehilangan orientasi. Di sini, istilah “lantai dasar” bukan konsep yang mutlak. Jalan raya bisa berada di bawah apartemen, sementara pintu masuk gedung justru berada di ketinggian yang terasa tak masuk akal. Jika Beijing merupakan pusat kekuasaan dan Shanghai wajah modern Tiongkok, maka Chongqing adalah denyut mentahnya: padat, berlapis, dan penuh drama visual.
Akar kota ini membentang lebih dari 3.000 tahun lalu, ketika Chongqing menjadi ibu kota Kerajaan Ba. Namun namanya baru lahir pada 1189, ketika Pangeran Zhao Dun dari Dinasti Song Selatan naik takhta sebagai raja dan kaisar di tahun yang sama. Dua pencapaian ini dirayakan dengan nama “Chongqing”, yang berarti “dua kegembiraan”. Sejak awal, kota ini sudah akrab dengan perayaan atas perubahan.
Babak paling menentukan datang pada abad ke-20. Selama Perang Sino-Jepang Kedua, topografi Chongqing yang terjal, berkabut, dan penuh gua batu kapur menjadikannya benteng alami. Kota ini menjadi ibu kota sementara Republik Tiongkok di era perang, menampung jutaan pengungsi dari wilayah pesisir. Dari masa bertahan hidup inilah lahir karakter industrial yang keras dan tangguh—sebuah etos yang masih terasa hingga kini, meski Chongqing telah berkembang menjadi metropolitan berpenduduk lebih dari 30 juta jiwa.

Chongqing hari ini sering dijuluki “Kota 8-Dimensi”. Julukan itu masuk akal. Alih-alih meratakan kontur alam, para perencana kota memilih bernegosiasi dengannya. Hasilnya adalah lanskap urban bertingkat-tingkat: jembatan yang menyambung ke atap gedung, pintu masuk lantai sepuluh yang terasa seperti lantai dasar, dan jalan raya yang melayang puluhan lantai di atas sungai. Kota ini dibangun secara vertikal, mengikuti logika gunung, bukan peta.
Ikon paling terkenal dari pendekatan ini adalah Stasiun Liziba. Di sini, monorel Chongqing Rail Transit meluncur menembus sebuah gedung apartemen 19 lantai. Bagi warga lokal, ini sekadar perjalanan harian; bagi turis, pemandangan ini terasa seperti adegan film fiksi ilmiah.
Namun, kota ini bukan semata tentang futurisme visual. Hongya Cave menawarkan sisi lain Chongqing yang penuh nostalgia. Kompleks bangunan kayu setinggi 11 lantai ini terinspirasi arsitektur Bayu kuno. Saat malam tiba, lampu-lampu hangat menyala di sepanjang fasadnya, memantul di sungai, dan mengubah kawasan ini menjadi magnet bagi pejalan kaki. Meski namanya mengandung kata “gua”, Hongya Cave adalah konstruksi urban yang merayakan tradisi dalam skala besar.

Baca juga: 5 Tradisi Unik Imlek di Asia
Untuk melihat kota dari sudut berbeda, Yangtze River Cableway layak dicoba. Dahulu merupakan transportasi vital warga, kini “bus terbang” itu menjadi cara santai menikmati panorama Chongqing dari udara. Di luar pusat kota, Wulong Karst National Park menawarkan kontras yang dramatis. Lanskap kapur purbakala yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO dan pernah tampil di film Transformers: Age of Extinction ini terasa jauh dari hiruk-pikuk, meski hanya beberapa jam perjalanan. Sementara itu, bagi yang menyukai sejarah, mampir ke Ciqikou, permukiman bersejarah dari era Dinasti Ming, lengkap dengan rumah teh dan toko-toko kecil.
Tak ada kunjungan ke Chongqing tanpa menyentuh dapurnya. Kota ini adalah salah satu pusat hotpot Tiongkok—hidangan rebusan pedas yang lebih menyerupai ritual sosial ketimbang sekadar makan malam. Kuah mendidih, lada Sichuan yang membuat lidah kebas, dan cabai kering yang agresif adalah standar. Di sekitar panci, percakapan mengalir, keringat bercampur tawa, dan waktu melambat.
Chongqing bukan kota yang mudah, juga bukan kota yang berusaha menyenangkan semua orang. Ia berlapis, kadang membingungkan, dan sering kali intens. Cara terbaik menjelajahinya adalah dengan Chongqing Rail Transit—monorel yang menghubungkan lapisan-lapisan kota ini dengan efisien. Selebihnya, biarkan diri Anda tersesat. Di Chongqing, kebingungan justru bagian dari pesona.—Yohanes Sandy
Agenda tahunan industri pariwisata yang merangkul asas keberlanjutan. 30-31 Mei 2026
Tahun ini pameran menghadirkan kolaborasi seni visual dan musik. 6-10 Mei 2026