Festival Fotografi Internasional JIPFest 2025 Digelar di Taman Ismail Marzuki
Festival fotografi internasional ini menampilkan 300 karya dan program interaktif.
Seingat saya, sejak SMA saya telah tertarik dengan kausalitas. Konsep yang menyoroti hubungan aksi-reaksi ini menjawab beragam pertanyaan dalam hidup, dari penyebab munculnya pelangi hingga motif di balik tindakan seseorang. Siang itu, saya diundang untuk menyelaminya dalam sebuah ekshibisi seni bertajuk UNBOUND: Resonating Light.
Setelah berjibaku dengan lalu lintas Jakarta yang ganas, saya akhirnya tiba di NODE by ISA Art and Design. Peluh membanjiri saya; sebuah keputusan salah untuk berjaket kulit tebal saat bermotor di tengah panasnya Jakarta. UNBOUND: Resonating Light menghadirkan karya-karya dua seniman: fotografer asal Amerika Serikat, Diane Tuft dan pematung asal Korea Selatan, Allyson Jeong.

Menyandingkan dua medium seni yang berbeda, pameran ini berporos pada satu benang merah: ingatan material. Konsep ini mengacu pada jejak atau dampak kekuatan masa lalu, dari pukulan palu hingga perubahan iklim, pada objek dan lingkungan alam. Meski bukan dikemas sebagai perayaan Earth Day 2026, tema ini terasa seperti ekstensi dari selebrasi tersebut.
Bumi Berubah
Dalam pameran, foto-foto karya Diane mendokumentasikan lanskap alam yang bertransformasi akibat perubahan iklim. Citra-citra ini diambil dari berbagai kawasan, dari Kepulauan Marshall hingga antartika. Koleksi Entropy menjadi titik awal perjalanan, membawa saya ke Great Salt Lake, Utah yang mengalami perubahan ekologis. Putihnya endapan garam tampak kontras dengan pulasan indigo, kuning perunggu, hingga hitam, menciptakan ironi antara keindahan alam dengan kerusakan iklim.


Pameran ini juga menghadirkan foto-foto dari beberapa koleksi lain. Foto berjudul Crystalline Deposits dari album Gondwana menarik perhatian saya, menampilkan partikel-partikel debu yang “terkunci” di dalam formasi es. Sementara itu, sebuah citra udara dari album Rising Tide: Sinking Earth menangkap gradasi biru dan toska perairan Chesapeake Bay. Uniknya, seekor itik ikut tertangkap jepretan kamera, menjadi sentuhan manis dalam karya ini.
Pukulan dan Trauma
Jika Diane menyoroti ingatan material lewat perubahan lanskap alam, Allyson justru bermain dengan material itu sendiri. Di tangannya, logam mulai, baja antikarat, dan kuningan disulap menjadi perhiasan dan karya sculptural dengan permukaan berlekuk—penanda jejak sentuhan manusia—sebagai identitas visualnya. Secara personal, saya menganalogikannya sebagai luka trauma pada manusia akibat “pukulan” di masa lalu.


UNBOUND: Resonating Light membawa tiga instalasi besar karya Allyson. Salah satunya adalah Unbound Adorment II, kubus kuningan yang tergantung pada langit-langit dan terikat oleh rantai. Di ruangan lain, Unbound Adornment I mengusung konsep serupa, dengan bandulnya berbentuk bola baja antikarat. Rangkaian perhiasan karya Allyson turut dihadirkan, menjadi versi mini dari instalasi semimonumentalnya.
Ada satu momen memukau yang tak terduga. Saat Allyson tengah menjelaskan karya berjudul The Square of Sublime—sepasang bingkai baja antikarat, foto Diane yang bertajuk Paradox, Entropy terpantul pada instalasi tersebut. Permukaan bingkai yang beriak, sapuan warna hijau ganggang, dan sorotan cahaya dari atas menghasilkan efek ombak lautan yang berkilau terkena sinar matahari. Dari tempat saya berdiri, efek tersebut terasa melankolis.
Di akhir kunjungan, saya tak bisa mengelak dari renungan yang menyatukan rasa takjub dan kekhawatiran. Karya-karya Diane dan Allyson mengingatkan saya akan kemampuan bumi dan material dalam menyimpan jejak kekuatan masa lalu. Di sisi lain, pesan yang dibawanya membuat saya berpikir: sebelum saya berpulang, jejak seperti apa yang ingin saya tinggalkan pada bumi dan orang-orang di sekitar?—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026